Kincir Air di Malam Bulan
Berderak-derak air masuk ke palung lalu kembali tumpah mengalir, mengangkat tinggi-tinggi kincir air yang kokoh dan menjatuhkannya kembali ke dalam wadah dengan dentum kuat. Suara dengus para penggiling padi pun terdengar pilu dari dalam gilingan, tempat lapisan demi lapisan dedak putih menempel pekat.
Syur, syur, syur — air berubah menjadi mutiara, lalu serbuk perak, lalu memanjang bagai tunas bambu, kemudian kembali tumpah dengan gemuruh menjadi naga biru dan naga putih yang menggelegak. Air itu mengular sejauh sepuluh ri (sekitar empat kilometer) melingkari lereng gunung di seberang sana, lalu menembus dataran di sisi sini sejauh sekitar dua kilometer, hingga akhirnya menyusur tepi desa tempat Lee Bang-won (李芳源) tinggal. Di atas aliran itulah sebuah kincir air berdiri tegak.
Dari kincir air, jika dilihat ke arah timur laut, tampak sebuah desa yang cukup besar. Orang terkaya dan paling berkuasa di desa itu bernama Shin Chi-gyu (申治圭). Lee Bang-won adalah orang yang mengerjakan tanah milik Shin sembari tinggal di maksil (幕室 — pondok buruh tani di pekarangan rumah tuan tanah Joseon), dan ia bersama istrinya hanya berdua menjalani hari demi hari.
Pada suatu malam musim gugur, ketika rembulan bersinar sangat terang menyiram desa yang sunyi itu dengan cahaya yang tenang, dari samping kincir air terdengar suara seorang perempuan dan seorang lelaki yang sedang bercakap-cakap.
Perempuan itu adalah istri Bang-won, berusia dua puluh dua tahun saat ini — perempuan muda di usia paling bahagia dengan dada yang berdebar gairah. Sementara lelaki itu sudah melewati setengah usia lima puluh tahun, telah menempuh seluruh jalan hidup yang patut ditempuh manusia, dan kini hampir-hampir melangkah menuju jurang keruntuhan.
Suara lelaki itu seakan-akan sedang membujuk si perempuan,
"Hei, kata-kataku tidak salah sedikit pun, bukan? Memang kau juga sudah mendengar cerita rinci dari Nenek Soenne, tetapi cobalah kau pikir sendiri. Kalau kau mengizinkan saja, apa pun yang ingin kau lakukan, semuanya akan kupenuhi untukmu. Kau hidup dengan si Bang-won itu sampai beratus tahun pun, kau tidak akan pernah lepas dari pojok pondok maksil… Hah, manusia itu kalau muda tidak pernah hidup mewah, sampai mati pun tidak akan pernah merasakannya sekali pun.
Apa yang kukatakan tidak salah sedikit pun! Memang sudah kudengar garis besar ceritamu dari Nenek Soenne, tetapi karena mendengar langsung dari mulutmu masih lebih baik, makanya aku menyuruhmu bertemu di sini. Bagaimana isi hatimu? Hah, jangan sungkan padaku, bicaralah jujur, ya?"
Lelaki tua ini tak perlu diragukan lagi — dia adalah Shin Chi-gyu. Dengan mata yang penuh nafsu, ia menatap istri Bang-won, sembari satu tangannya menepuk-nepuk punggung perempuan itu.
Wajahnya yang acuh berona kebiru-biruan pucat, alisnya panjang, dua sudut matanya kehitam-biruan, bibirnya manis, pipinya menggembung sedikit cemberut, hidungnya mancung, tinggi badannya semampai, pinggulnya terbuka lebar — sosok yang dipandang dari mana pun terkesan amat cerdas dan tegas (理知的) sekaligus bertubuh perempuan penggoda (娼婦型).
Perempuan itu hanya berdiri tanpa berkata apa-apa, sengaja menampilkan sikap malu-malu, lalu tersenyum sedikit dengan tawa yang memikat dan memalingkan kepala. Tawa itu — entah seberapa besar memuaskan Shin Chi-gyu yang sudah seperti binatang itu, dan seberapa kuat menggoda hatinya — sampai-sampai janggut beruban si lelaki tua hampir menyentuh pipi perempuan itu, ia mendekat lebih jauh lagi,
"Hah? Mengapa tidak menjawab? Karena malu? Padahal ini bukan hal yang patut dimalukan."
Sambil meraih tangan perempuan itu,
"Tanganmu pun ternyata seindah ini, tak pernah kuduga sampai sekarang. Sungguh halus bagai bedak. Gadis seanggun ini menjadi istri lelaki rendahan macam Bang-won lalu membusuk seumur hidup begitu saja — bukankah terlalu mengenaskan dan sia-sia? Hei."
Perempuan itu tidak juga memalingkan tubuhnya, membiarkan saja apa pun yang dilakukan si tuan tua, menundukkan pandangan hanya ke tanah dan berdiri demikian, lalu dengan susah payah seakan-akan baru bisa membuka mulutnya,
"Semua kata-kataku itu sudah disampaikan Nenek Soenne. Bagi saya, kata-kata Tuan terlalu berlebihan untuk derajat saya."
"Ah, kau bicara hal yang sungguh tak masuk akal. Apa maksud kata-katamu itu? Kau pun tahu, aku bukan sekadar main-main begini, dan karena aku tidak punya keturunan (後嗣), maka kuminta kau lahirkan satu putra untukku. Kalau begitu, bukankah semua milikku akan jadi milikmu juga? Sudahlah, jangan begitu, malam ini izinkan saja. Kalau begitu, besok pun aku akan usir si Bang-won itu, lalu kupanggil kau masuk."
"Bagaimana bisa diusir?"
"Hah, apa susahnya. Kalau aku menyuruhnya keluar, kaupikir dia bisa bertahan tidak keluar?"
"Tapi bukankah itu terlalu kejam?"
"Apa, karena kau memikirkan hal-hal semacam itulah maka sampai sekarang kau masih hidup begini. Apa masalahnya? Hal seperti itu jangan kaurisaukan sedikit pun. Sudah, nanti ketahuan suamimu, cepat masuklah."
"Tuan duluan saja."
"Mengapa?"
"Kalau orang lain melihat, akan dianggap mencurigakan."
"Apa, masa pergi bersamaku saja dianggap mencurigakan… cepat berangkat."
Perempuan itu pelan-pelan mengikuti dua-tiga langkah, lalu,
"Tuan!"
Memanggil dan berdiri membeku.
"Ada apa lagi?"
Perempuan itu kembali berdiri tanpa kata, lalu,
"Tidak apa-apa."
Katanya, lalu,
"Tuan duluan saja."
Sambil berbalik. Lelaki tua itu, dengan hati yang berdebar gusar, meraih tangan perempuan itu,
"Ayolah, kita masuk rumah."
Dadanya berdebar-debar, napasnya pun tersendat. Perempuan itu mencoba menarik tangannya kembali,
"Orang terhormat seperti Tuan, apa-apaan perbuatan ini."
Sambil berkata begitu, namun gerak-geriknya sudah memperlihatkan tanda bahwa ia mengizinkan segalanya. Lelaki tua itu memeluk tubuh perempuan itu, lalu memutar ke belakang gilingan. Perempuan itu, dalam pelukan lelaki tua, sambil menatapnya dengan mata penuh nafsu,
"Tuan."
Sepatah kata, lalu menelan ludah sekali.
"Tuan tidak berbohong, kan?"
"Tidak."
Suaranya bergetar. Perempuan itu menggenggam lengan lelaki tua dengan satu tangan, dan dengan tangan lainnya menunjuk ke dalam gilingan.
"Masuk ke sana."
Lelaki tua dan perempuan itu keluar lagi dari gilingan kira-kira dua puluh hingga tiga puluh menit kemudian.