1
Bagian 1
Usiaku dua puluh tiga tahun—bulan Maret—dan aku batuk darah. Setelah selama enam bulan kupelihara dengan rajin, sehari kucukur kumisku dengan silet sampai tinggal sehelai kupu-kupu kecil di bawah hidung, lalu menenteng sebungkus jamu pesananku, aku berangkat ke sebuah pemandian air panas yang sepi di B—sebuah daerah baru bernama singaegji (新開地, kawasan permukiman baru zaman kolonial). Di sana, andaipun aku mati, aku tidak akan keberatan.
Akan tetapi, kemudaan yang belum sempat membentangkan sayapnya itu mencengkam bejana jamu sambil merengek-rengek minta dihidupkan—dan aku tak punya daya untuk melawannya. Di bawah lampu dingin (han-deung 寒燈) penginapan, setiap malam aku selalu merasa terhina.
Tak tahan tiga hari saja, akhirnya kuminta Bapak pemilik penginapan untuk mengantarku ke sebuah rumah dari mana terdengar suara janggo (장고, gendang jam pasir Korea) di malam hari. Di sanalah aku bertemu Geumhong (錦紅, harfiah «merah brokat»—nama panggung seorang gisaeng).
«Berapa usiamu?»
Walaupun perawakannya hanya sebesar cabai hijau muda, perempuan ringkih ini ternyata cukup pedas rasanya. Enam belas tahun?
Paling-paling sembilan belas, pikirku—sementara aku mengangguk-angguk diam,
«Saya dua puluh satu.»
«Lalu menurutmu, aku ini kelihatan berapa tahun?»
«Hmm, empat puluh? Tiga puluh sembilan?»
Aku hanya mendengus, «Hmh!» begitu saja. Lalu kulipat tanganku di dada dan duduk berlagak semakin berwibawa. Begitu saja kami berpisah hari itu tanpa kejadian apa-apa.
Hari berikutnya datanglah sahabatku Saudara K, sesama pelukis (hwa-u 畵友, kawan dalam seni lukis). Orang ini adalah teman bercanda kasarku. Tak kuasa lagi, akhirnya kucukur habis pula kumis-kupu-kupu yang sebelumnya kubanggakan itu. Lalu, begitu hari mulai gelap, aku segera kembali menemui Geumhong.
«Sepertinya saya pernah lihat Tuan ini di suatu tempat.»
«Tuan yang datang kemarin malam dengan kumis itu, justru akulah anaknya. Bahkan suaraku pun mirip, bukan?»
Begitu kulontarkan candaku. Perjamuan akhirnya bubar, dan ketika kami turun ke halaman, aku berbisik di telinga Saudara K:
«Bagaimana? Lumayan, kan? Coba kau goda sebentar.»
«Sudahlah, kau saja yang menggodanya.»
«Pokoknya, kita seret saja dia ke penginapan, lalu main jjang-kken-ppong (짱껭뽕, suit Jepang gunting-batu-kertas) untuk menentukan.»
«Boleh juga.»
Tetapi Saudara K berpura-pura pergi ke kakus dan menghindar, sehingga aku memenangkan Geumhong tanpa lawan (bujeon-seung, menang aklamasi tanpa bertanding). Malam itu, Geumhong tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah seorang gyeong-san-bu (經産婦, perempuan yang pernah melahirkan).
«Kapan?»
«Aku menikah di usia enam belas, melahirkan di usia tujuh belas.»
«Anak laki-laki?»
«Perempuan.»
«Di mana sekarang?»
«Meninggal sebelum genap setahun.»
Kucampakkan saja jamu yang sengaja kubawa, dan aku sepenuhnya tenggelam dalam keasyikan mencintai Geumhong.
Mungkin terdengar konyol, tapi karena daya kasih sayang, batuk darahku berhenti seluruhnya.
Aku tak pernah memberi nor-eum-chae (놀음채, uang bayaran untuk gisaeng) kepada Geumhong. Mengapa? Karena siang dan malam, entah Geumhong yang ada di kamarku, entah aku yang ada di kamarnya——
Sebagai gantinya——aku justru menganjurkan kepada Geumhong agar mengencani Tuan U (禹), seorang mahasiswa Prancis yang sedang plesir-pleseran sebagai yu-ya-rang (遊冶郞, lelaki muda yang berfoya-foya). Geumhong, mengikuti anjuranku, masuk ke «doktang» (獨湯, kamar mandi pribadi) bersama Tuan U. «Doktang» ini sebenarnya fasilitas yang agak cabul. Aku berdiri di depan pintu fasilitas cabul itu dan menatap sandal Tuan U dan Geumhong yang ditata berjajar di luar—dan aku tidak merasa kecewa sama sekali.
Aku juga merekomendasikan Geumhong kepada Tuan C, seorang pengacara yang menginap di kamar sebelahku. Tuan C, terharu oleh antusiasmeku, akhirnya mau tak mau memasuki kamar Geumhong.
Namun Geumhong yang kucintai itu selalu berada di sisiku. Dan dengan manja, ia menjajarkan beberapa lembar uang sepuluh won yang diterimanya dari Tuan U, Tuan C, dan lain-lain di atas meja, dan memamerkannya kepadaku.
Lalu, karena upacara peringatan satu tahun wafat pamanku (so-sang 小祥, peringatan setahun kematian), aku harus kembali ke ibu kota. Kami mencari sebuah tempat indah dengan bunga persik bermekaran di mana-mana dan air pegunungan mengalir lembut di samping paviliun, lalu kami menghabiskan hari perpisahan kami yang menyedihkan di sana. Di stasiun, kuselipkan selembar uang sepuluh won ke tangan Geumhong. Ia berkata akan menggunakannya untuk menebus arloji yang digadaikannya, sambil menangis.