2
Bagian 2
Karena Geumhong telah menjadi istriku, kami suami-istri benar-benar saling mencintai. Kami sepakat tidak akan saling menanyakan masa lalu. Untuk apa, sebab masa laluku tidak ada apa-apanya, jadi sebenarnya itu sama saja dengan janji bahwa aku tidak akan menanyakan masa lalu Geumhong.
Geumhong baru saja berusia dua puluh satu tahun, tetapi ia lebih matang daripada orang berusia tiga puluh satu tahun. Geumhong yang lebih matang daripada orang berusia tiga puluh satu tahun itu di mataku terlihat hanya seperti gadis berusia tujuh belas tahun, sementara aku, yang di mata Geumhong terlihat seperti orang berusia empat puluh tahun, sebenarnya baru berusia dua puluh tiga tahun—lebih-lebih, karena aku agak sembrono, aku persis seperti bocah berusia sepuluhan tahun. Kami suami-istri begitu cemerlang (絢爛) dan menggemaskan, tak ada duanya di dunia.
Hari-hari tak berarti berlalu——setahun pun terlewat, dan pada bulan Agustus—pada keributan ketika musim panas terasa sudah terlambat tetapi musim gugur masih terlalu dini——nostalgia akan kehidupan dahulu mulai menyerang Geumhong.
Aku, baik siang maupun malam, hanya berbaring tidur, sehingga aku menjadi membosankan bagi Geumhong. Karena itu, Geumhong keluar rumah, bertemu orang-orang yang tidak membosankan, dan pulang setelah bermain tanpa rasa bosan——yakni, kehidupan sempit Geumhong (hyeop-chak 狹窄) mulai berkembang dan melompat menuju nostalgia masa lalunya. Itu saja kisahnya, tidak lebih.
Tetapi kali ini ia tidak memamerkannya kepadaku. Bukan hanya tidak memamerkan, ia justru menyembunyikannya.
Hal ini, kalau dari Geumhong, sungguh tidak seperti Geumhong. Memangnya ada yang perlu disembunyikan? Tak perlu menyembunyikan pun tidak apa-apa. Memamerkannya pun tidak apa-apa.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Demi memudahkan hiburan Geumhong, sesekali aku pergi tidur di rumah Saudara P. Aku ingat sekarang, sepertinya Saudara P merasa kasihan kepadaku.
Bukan berarti aku tidak pernah memikirkan hal seperti ini juga: yakni, bahwa istri orang harus menjaga kesetiaannya!
Aku ingin menafsirkan dengan niat baik bahwa Geumhong sengaja berselingkuh demi membangunkan aku dari hidupku yang malas. Tetapi kalaupun ia mencoba berpura-pura menjaga etiket istri yang lazim di dunia, itu—bagi Geumhong—boleh dibilang sebuah «kekeliruan kecil dari seribu pertimbangan» (cheon-ryeo-ji-il-sil 千慮一失).
Karena memanfaatkan kesetiaan setengah-setengah seperti ini sebagai papan reklame, dengan sendirinya aku pun sering keluar rumah, dan demi memudahkan bisnis Geumhong, kubuka pula kamarku untuknya. Di tengah semua itu, waktu pun mengalir terus sebagaimana adanya.
Suatu hari, tanpa sebab apa-apa (jemok eobsi 題目없이), aku dipukul habis-habisan oleh Geumhong. Aku menangis kesakitan, lalu pergi keluar dan tidak bisa pulang selama tiga hari. Geumhong benar-benar terlalu menakutkan.
Ketika aku pulang empat hari kemudian, ternyata Geumhong sudah pergi setelah menanggalkan kaus kakinya yang kotor di witmok (윗목, sisi atas kamar yang lebih dingin di rumah ondol berlantai pemanas).
Beberapa kawan datang membawa gosip yang memalukan tentang Geumhong untuk menghiburku, yang telah menjadi duda yang begitu memalukan ini—tetapi sampai akhir aku tidak punya cara untuk memahami selera seperti itu.
Konon orang-orang melihat Geumhong dan seorang lelaki naik bus ke Gunung Gwanaksan jauh di Gwacheon (selatan Gyeongseong). Kalau memang benar begitu, maka lelaki itu pasti seorang pengecut yang ketakutan kalau-kalau aku mengejar mereka dan mengamuk.