제1편
Geukyu-sanho (郤遺珊瑚, "kilauan koral yang tersisa")— dalam lima aksara ini saja, kurasa aku sudah melakukan kesalahan ejaan lebih dari dua huruf. Ini sebenarnya hal yang membuatku malu menatap langit, namun wajah pengetahuan yang sedang berkembang itu sungguh tampak gamblang.
Meskipun harus mati, cambuk koral (sanho 珊瑚) ini akan kupegang erat-erat sampai akhir. Di atas pakaian compang-camping dan topi rusakku—pyepo-parip (廢袍破笠)—di atas jaring tua yang memudar, burung phoenix akan datang dan hinggap.
Aku memaparkan cara berhemat gaya kikirku ini hanya karena satu niat yang lembut—agar "Jongsaeng-gi" (終生記, "Catatan Akhir Hidupku") membuat empedu para sarjana berhati tajam di kolong langit ini menjadi dingin.
Si serdadu langka itu—yang terpaksa menjadi pahlawan hanya karena sekali dentum letusan (ilbal-poseong 一發砲聲)—pada hari ia menutup hidupnya yang sangat dihormati, hidup yang telah memasang telinga di umur sembilan puluh, ia tak mengoceh satu pun pesan terakhir, dan melewati adegan ajalnya dengan rapi (sampai-sampai cukup untuk mengembuskan napas lega: huu—).
Tapi Leuochka kita—nama akrab Tolstoi—setelah memanggul bungkusan kainnya dan keluar dari rumah, sampai sejauh itu memang ia menata segalanya dengan cukup meyakinkan; namun pada lima menit terakhir, ia tertangkap juga. Karena pesan terakhir yang remeh-temeh, ia meruntuhkan menara tujuh puluh tahun yang dibangun dengan susah payah, dan menorehkan satu cacat yang takkan terhapus pada hidup yang kelihatannya megah itu.
Aku, sebagai seorang pengamat yang licik (observer 옵서버), telah duduk menyaksikan sidang hidup para "santo bodoh" semacam itu; maka takkan mungkin aku, yang sudah tahu jenis kesalahan itu, mengulanginya.
Di depan cermin, aku bercukur. Karena keteledoran, aku menggoreskan luka kecil. Aku marah—kepalaku mendidih.
Namun karena berbagai "aku" yang mendidih dan bising itu bertabrakan langsung denganku, dan karena masing-masing dari mereka berusaha membela diri sendiri dengan terbaik, sulit sekali bagiku menemukan si pelaku (beom-in 犯人).
Oleh sebab itu, rakyat-rakyat bodoh yang malang biasanya berkata "Lihat, monyet meniru manusia!"—lalu hidup dengan tenang; padahal sebenarnya manusialah yang meniru monyet, dan mereka hanya tidak memahami referensi klasik (jeon-go 典故) yang amat masuk akal itu.
Oh ya. Sudah lama setiap gerak-gerik kita lepas (talgak 脫却) dari kebiasaan impulsif Adam dan Hawa itu. Pada saat jari-jariku—yang terselip di antara satu gerak refleks dengan gerak refleks lain, hanya secepat kilat petir—menjadi tawanan kesadaran-diri, kucoba meraba-raba batu aneh (giam 奇岩) yang terlupakan (han-gak 閑却) di tengah masa kosongku, yaitu puncak hidungku; atau di celah antara percakapan-percakapan luhur yang berderet bagai rantai pun ada jendela kecil yang sengaja memberi waktu sekejap—dan pada saat itulah mata pedang yang berkilau dingin itu mengiris kesadaran-diri tanpa sempat tertangkap, dan pada saat itu kukeluarkan sapu tangan yang dilipat-lipat dengan rapi—seolah memeriksa apakah kedua mataku, harta-pusakaku yang harus jernih bagai cermin (jibo 至寶), kemasukan tahi mata—dan kuusap-usap kedua mataku, atau—
Roh-jiwa (honbaek 魂魄) dan keempat unsur (sadae 四大) yang malas-bermartabat itu harus mengikuti setiap kembang api kecil itu satu-persatu (lalu kembali dan melapor) ke pos pusatku—dan aku sama sekali tak mampu menanggung kesibukan yang menggilas seperti itu (mangsoe 忙殺).
Namun aku ingin membanggakan cambuk koralku yang berat-bernilai itu (sanho-pyeon 珊瑚鞭).
"Sampah", "daun kubis-bawang yang membusuk"
Apakah Tuan Yang Mulia (jokha 足下, "di bawah kaki Anda"—sapaan formal kuno) sungguh memahami suasana kata-kata satuan (danja 單字) yang kumal seperti ini?
Tuan Yang Mulia—pada hari Tuan menikah dengan upacara Kristen, di antara nave dan aisle (네이브 · 앤드 · 아일, lorong-utama dan lorong-samping gereja)—aku rasa Tuan pernah merasakan kesan yang dekat (geun-i 近邇) dengan "sampah" dan "daun kubis busuk" ini—apakah benar tidak demikian?
Pita-pita ("tape" 테잎) seperti "sampah" dan "daun kubis busuk" itu ingin kutaburkan—demi hiasan-hiasan remeh yang sayup-sayup kutanam di sana-sini (cheocheo 處處) di catatan akhir hidupku ini—
Untunglah, tepuk tangan (baksu 拍手). Selesai (iisang 以上).