Chapter 1 of 1

Chapter 1

Orang-Orang yang Tak Terlupakan

Kunikida Doppo

Sehabis menyeberangi penyeberangan Futako di Sungai Tama dan berjalan sedikit lebih jauh, sampailah orang di sebuah kota persinggahan bernama Mizoguchi. Di tengah-tengah kota itu berdiri sebuah penginapan pengelana yang dinamai Kameya. Kala itu permulaan bulan Maret, dan hari itu langit luas berselimut mendung, angin utara meniup keras, sehingga kota yang sehari-harinya pun sudah sunyi ini kelihatan semakin lebih sunyi, lebih murung, lebih dingin. Salju yang turun kemarin masih bersisa di sana-sini, dan dari ujung selatan atap ilalang yang tinggi-rendahnya tak rata, titik-titik air ditiup angin lalu melayang gugur ke bawah. Bahkan air lumpur yang menggenang di bekas jejak waraji pun beriak dingin. Tak lama setelah matahari terbenam, hampir seluruh kedai sudah menutup pintunya. Jalan sepi yang gelap itu menjadi senyap. Hanya pada penginapan pengelana Kameya, pelita masih bersinar terang menembus shōji, sekalipun malam itu tampaknya tamu pun tidak banyak, sehingga bagian dalamnya pun sunyi—sesekali hanya terdengar bunyi pipa pemilik penginapan menabuh bingkai hibachi—pipa kiseru berleher angsa yang tebal.

Tiba-tiba shōji digeser terbuka, dan seorang lelaki masuk dengan langkah perlahan tapi besar. Si pemilik penginapan, yang sedang asyik menghitung-hitung di kepalanya sambil bersandar pada naga-hibachi, belum sempat berbalik karena terkejut, ketika lelaki itu sudah melintasi tiga langkah lebar dari doma yang luas dan tegak menjulang persis di hadapan hidungnya. Usianya kira-kira tiga puluh, masih kurang dua tiga tahun untuk genap; ia mengenakan pakaian Barat, kyahan, waraji—busana pengelana yang lengkap—dengan topi pemburu burung di kepalanya. Tangan kanannya membawa payung Barat, dan tangan kirinya memeluk sebuah tas kulit kecil di sisi pinggangnya.

'Aku ingin menumpang semalam.'

Si pemilik penginapan masih menatap raut tamu itu tanpa menjawab apa-apa, ketika dari bagian dalam terdengar bunyi tepukan tangan.

'Tepukan tangan di kamar nomor enam!'

Si pemilik penginapan berteriak dengan suara seperti meraung.

'Dari mana asal Tuan?'

Si pemilik penginapan bertanya sambil tetap bersandar di hibachi. Tamu itu memanjangkan bahunya, sempat sebentar mengerutkan wajah, namun seketika menyungging senyum di tepi mulutnya.

'Saya? Saya dari Tokyo.'

'Lalu hendak ke mana, Tuan?'

'Saya hendak ke Hachiōji.'

Begitu sahut sang tamu, lalu ia duduk di situ dan mulai melepas tali kyahan-nya.

'Tuan, kalau dari Tokyo ke Hachiōji, jalannya aneh begini, ya?'

Si pemilik penginapan menatap penampilan tamu itu sekali lagi dengan curiga, mulutnya seakan hendak berkata sesuatu. Sang tamu segera menyadarinya.

'Tidak, saya memang dari Tokyo, tapi hari ini bukan berangkat dari Tokyo. Hari ini saya berangkat dari Kawasaki sudah agak sore, makanya sampainya selarut ini. Tolong, mandi sebentar.'

'Cepatlah bawa air panas! Yah, hari ini pasti dingin sekali bagi Tuan; daerah Hachiōji sana lebih dingin lagi.'

Kata-kata si pemilik penginapan terdengar ramah, tetapi seluruh sikapnya sungguh tak menyenangkan. Usianya kira-kira enam puluh, tubuhnya gemuk, dengan haori berlapis kapas tebal di luarnya, sehingga dari bahunya langsung muncul kepala yang besar; wajahnya lapang dan tampak ramah, dengan sudut mata yang menurun. Toh begitu, di suatu sisi tampak ada gurat ketus dan rewel padanya. Tetapi Tuan tua ini orang yang jujur—begitu segera kesan yang muncul di benak tamu itu.

Sang tamu sudah mencuci kakinya, dan sebelum ia sempat mengeringkannya, si pemilik penginapan berseru,

'Antar ke kamar nomor tujuh!'

Ia membentak. Hanya itu saja—tak ada salam apa pun untuk sang tamu, dan ia pun tak menoleh untuk mengantarkan punggungnya. Seekor kucing hitam pekat datang dari arah dapur, lalu diam-diam memanjat ke lutut tinggi si pemilik penginapan, dan meringkuk di sana. Entah si pemilik tahu atau tidak, ia hanya memejamkan matanya tetap. Sesaat kemudian, tangan kanannya bergerak ke kotak tembakau, dan jari-jari tebalnya mulai menggulung tembakau.

'Setelah Tuan di kamar enam selesai mandi, antarkan Tuan di kamar tujuh!'

Kucing di lututnya terkejut dan melompat turun.

'Goblok! Bukan padamu yang kuteriaki!'

Kucing itu kalut, lalu lari ke arah dapur. Jam dinding berdentang pelan delapan kali.

'Bu, Kichizō terlihat mengantuk, kan? Cepatlah masukkan kotatsu untuknya dan suruh tidur, kasihan.'

Suara si pemilik penginapan justru lebih mengantuk daripada anak itu. Dari arah dapur terdengar,

'Kichizō sedang mengulang pelajarannya di sini, kan?'

Itu kedengarannya suara si Ibu tua.

'Begitu, ya. Kichizō, tidurlah dulu; bangun pagi-pagi lalu mengulang lagi. Bu, cepatlah masukkan kotatsu untuknya.'

'Sebentar lagi kumasukkan.'

Di arah dapur, si pelayan dan si Ibu tua saling berpandangan lalu terkekeh-kekeh. Di sisi depan kedai terdengar bunyi menguap yang besar.

'Saya sendiri yang mengantuk.'

Si Ibu tua mungil yang umurnya sudah lewat lima puluh lima atau enam tahun bergumam sambil menyalakan api di kotatsu yang penuh jelaga.

Shōji depan kedai berderak diempas angin, dan tiba-tiba terdengar pelan bunyi rintikan hujan menyembur.

'Cepat rapatkan daun pintu kedai!' bentak si pemilik penginapan, lalu berdecak,

'Hujan turun lagi, dasar!'

Ia bergumam seperti pada diri sendiri. Memang, angin sudah jauh lebih kencang, dan hujan pun mulai turun.

Meski sudah awal musim semi, angin dingin nan dingin bercampur hujan beku mengamuk-amuk di padang Musashino yang luas, mengaum-aum sepanjang malam di atas kota Mizoguchi yang gelap pekat.

Di kamar nomor tujuh, walaupun sudah lewat tengah malam, lampu masih bersinar terang gemerlap. Yang masih terjaga di Kameya hanyalah dua tamu yang duduk berhadap-hadapan di tengah kamar ini, sedang berbincang. Di luar, suara badai sungguh dahsyat, dan papan jendela berderak-derak tak henti.

'Kalau cuacanya begini, mustahil Anda bisa berangkat besok.'

kata salah seorang sambil menatap wajah lawan bicaranya. Ia adalah tamu kamar enam.

'Tak apa, saya tak ada urusan khusus; kalau mesti tinggal sehari lagi di sini pun bolehlah.'

Kedua-duanya berwajah merah dan ujung hidung mereka mengilap. Di nampan saji di samping mereka teronggok tiga botol sake hangat, dan di cawan masih bersisa beberapa tegukan. Kedua-duanya merilekskan badan dengan rasa puas, duduk bersila, mengisap rokok mengelilingi hibachi. Tamu kamar enam mengeluarkan lengan putihnya sampai siku dari lengan haori-nya, mengetuk-ngetuk abu rokok lintingnya, lalu mengisap lagi. Cara bicara mereka berdua sungguh polos terus terang, padahal baru malam itu mereka bertemu di penginapan ini—dari obrolan ringan dua-tiga kata yang melintasi pintu kertas, lalu karena terlalu sunyi, tamu kamar enam datang menyeberang ke kamar nomor tujuh; mereka bertukar kartu nama, memesan sake, lalu ketika obrolan mulai berisi, tanpa terasa bahasa sopan dan bahasa biasa pun bercampur seperempat-seperempat.

Pada kartu nama tamu kamar tujuh tertulis Ōtsu Benjirō, tanpa jabatan apa pun. Pada kartu nama tamu kamar enam tertulis Akiyama Matsunosuke, juga tanpa jabatan.

Ōtsu adalah lelaki berbaju Barat yang tadi tiba pada saat hari mulai gelap. Sosoknya kurus dan ramping serta berkulit putih, sangat berbeda dengan Akiyama lawan bicaranya. Akiyama berusia dua puluh lima atau enam, bulat dan gemuk dengan wajah kemerahan, sorot matanya ramah, dan ia tampak selalu tersenyum. Ōtsu adalah seorang sastrawan yang belum dikenal, dan Akiyama seorang pelukis yang juga belum dikenal—anehnya dua pemuda yang sejenis itu kebetulan bersua di penginapan desa ini.

'Mau tidur saja, ya? Sepertinya kita sudah lumayan banyak mencaci-maki orang.'

Dari teori seni rupa, teori sastra, sampai teori agama, mereka berdua sudah cukup leluasa bicara, dan mengkritik tajam para tokoh besar sastrawan dan pelukis masa kini, sampai tak menyadari jam sudah menunjukkan pukul sebelas.

'Belum, tak mengapa. Toh besok tak bakal bisa berangkat, jadi ngobrol semalaman pun tak masalah.'

Akiyama si pelukis berkata sambil tersenyum-senyum.

'Tapi sudah jam berapa?'

tanya Ōtsu, melihat ke jam yang tergeletak begitu saja.

'Lo, sudah lewat pukul sebelas.'

'Yah, begadang saja.'

Akiyama benar-benar tenang. Sambil menatap cawannya, ia berkata,

'Tapi kalau Anda mengantuk, tidur saja boleh.'

'Sama sekali tak mengantuk; saya pikir Anda yang lelah. Saya hari ini hanya berjalan sekitar tiga setengah ri dari Kawasaki yang berangkatnya pun sore, jadi tak apa-apa.'

'Ah, saya pun tak apa-apa. Hanya, kalau Anda hendak tidur, saya berniat pinjam ini lalu kubaca.'

Akiyama mengangkat sesuatu yang tampaknya naskah berisi sekitar sepuluh lembar kertas hanshi. Pada sampulnya tertulis 「Orang-Orang yang Tak Akan Kulupa」.

'Itu memang sungguh tak bisa dibaca. Kalau di dunia Anda, itu sama saja seperti sketsa yang digambar dengan pensil; orang lain tak akan paham.'

Begitu kata Ōtsu, tetapi ia tak mencoba mengambil naskah itu dari tangan Akiyama. Akiyama membuka satu dua halaman, membaca di sana-sini sebentar, lalu berkata,

'Sketsa pun punya rasa nikmatnya sebagai sketsa, jadi izinkan saya lihat sebentar saja.'

'Coba pinjamkan sebentar.'

Ōtsu mengambil naskah itu dari tangan Akiyama, membuka di sana-sini, dan untuk sesaat keduanya hening tanpa kata. Suara badai di luar—justru saat itulah—seakan baru benar-benar masuk ke telinga mereka. Ōtsu menatap naskah yang ia sendiri tulis, lalu memasang telinganya dengan saksama dan terjatuh ke alam mimpi.

'Malam seperti ini wilayahmu, ya.'

Suara Akiyama sepertinya tak masuk ke telinga Ōtsu. Ia tak menjawab. Apakah ia sedang mendengar suara badai, melihat naskah, atau mengenang seseorang yang jauh seratus ri di sana—Akiyama membatin: wajah Ōtsu yang sekarang, sorot matanya yang sekarang, inilah wilayahku.

'Daripada Anda membacanya, lebih baik saya saja bercerita tentang topik ini. Bagaimana? Anda mau mendengarkan? Naskah ini cuma menjadikan garis besar saja, jadi dibaca pun tidak akan kelihatan jelas.'

Dengan sorot mata seperti baru tersadar dari mimpi, Ōtsu mengalihkan tatapannya ke arah Akiyama.

'Kalau Anda mau cerita rinci, lebih bagus lagi.'

Begitu Akiyama menatap mata Ōtsu, ia melihat mata itu sedikit berkaca-kaca, memancarkan sinar yang ganjil.

'Saya akan cerita serinci mungkin. Kalau merasa tak menarik, jangan sungkan menegur. Sebaliknya, saya pun akan bicara tanpa sungkan. Aneh juga, saya jadi punya rasa ingin didengarkan—lucu, bukan?'

Akiyama menambah arang ke hibachi, dan memasukkan kembali botol sake yang sudah dingin ke dalam teko besi panas.

'Orang yang tak akan terlupakan, tidak harus berarti orang yang tak boleh kulupakan. Lihat, di pembukaan naskahku, kalimat itulah yang kutulis paling awal.'

Ōtsu sebentar mengulurkan naskah itu ke depan Akiyama.

'Nah. Maka saya akan menjelaskan kalimat ini lebih dulu. Dengan begitu, makna judul tulisan ini akan tertangkap dengan sendirinya. Walau saya kira Anda kurang-lebih sudah paham.'

'Jangan bicara begitu—teruskan saja terus. Saya akan mendengarkan dalam posisi sebagai pembaca umum saja. Permisi, saya akan dengar sambil rebahan.'

Akiyama menyelipkan rokok di mulut, lalu rebah. Ia menyangga kepala dengan tangan kanan dan tetap menyungging senyum di tepi matanya sambil menatap wajah Ōtsu.

'Sosok seperti orangtua, anak, atau teman dekat, kenalan akrab, dan guru atau senior yang dahulu mengasuh kita—pada akhirnya, sosok semacam itu bukan sekadar "orang yang tak terlupakan". Sosok itu harus disebut "orang yang tak boleh dilupakan". Sebaliknya, di sini ada sosok yang sama sekali tidak terikat oleh budi ataupun kewajiban; sosok yang sungguh-sungguh asing bagi kita. Pada hakikatnya, sekalipun kita melupakannya, kita tak melanggar perasaan ataupun kewajiban apa pun. Namun anehnya, sosok seperti itulah yang akhirnya justru tak bisa kita lupakan. Saya tak hendak bilang setiap orang punya sosok demikian, namun setidaknya saya memilikinya. Mungkin Anda juga.'

Akiyama mengangguk dalam diam.

'Saya ingat saat itu pertengahan musim semi tahun saya berumur sembilan belas. Kondisi tubuh saya kurang baik, sehingga saya keluar sebentar dari sekolah di Tokyo dengan niat memulihkan diri, dan pulang ke kampung halaman—peristiwa ini terjadi pada perjalanan pulang itu. Saya naik dari Osaka ke kapal uap rute Setouchi seperti biasanya, melayari Laut Pedalaman yang tenang di musim semi. Karena ini sudah hampir satu zaman silam, saya sama sekali tidak ingat siapa-siapa saja tamu di kapal itu, seperti apa wajah sang kapten, atau bagaimana rupa wajah bōi yang membawa teh dan kue. Mungkin ada tamu yang menuangkan teh untukku, mungkin ada juga orang yang mengajakku bicara macam-macam di geladak; tetapi sama sekali tidak ada yang tertinggal dalam ingatanku.

'Hanya saja, kala itu kesehatanku tidak terlalu baik, jadi pasti aku tak begitu gembira, melainkan tenggelam dalam lamunan. Yang kuingat hanyalah bahwa aku terus-menerus keluar ke geladak, melukis mimpi-mimpi masa depan, dan memikirkan tentang nasib manusia di dunia ini. Tentu saja itu kebiasaan anak muda, jadi tidak mengherankan. Saat itu, ketika cahaya musim semi yang lembut menyatu dengan permukaan laut yang menyerupai minyak, hampir tanpa riak, dan haluan kapal membelah air dengan suara enak didengar sambil maju, aku menyambut dan melepas pulau-pulau yang berkabut tipis, memandang pemandangan di sisi kanan dan kiri kapal. Pulau-pulau yang seolah dihampari kain brokat dari bunga lobak kuning dan daun gandum hijau itu kelihatan seperti melayang di kedalaman halimun. Tak lama kemudian kapal melihat sebuah pulau kecil di sisi kanannya, dan karena melintas tak lebih dari sepuluh chō dari karangnya, aku menyandarkan diri di pagar dan tanpa pikiran apa-apa menatap pulau itu. Hanya pohon-pohon pinus pendek yang membentuk rumpun kecil di sana-sini di kaki bukit, dan sejauh kupandang, tak ada ladang dan tak terlihat sesuatu yang menyerupai rumah. Bekas air pasang di karang yang sunyi senyap berkilau diterpa matahari, dan ombak-ombak kecil tampaknya sedang bermain-main di tepi air, garis-garis panjangnya berkilauan seperti pedang putih lalu padam. Aku tahu itu bukan pulau tak berpenghuni, sebab di langit yang lebih tinggi dari gunungnya, samar-samar terdengar lark yang berkicau. "Pulau ini ternyata berladang, kuketahui dari lark yang melayang tinggi"—ini adalah haiku karya ayahku yang sudah berumur. Di balik gunung pasti ada hunian manusia, demikian batinku. Sambil menatap, mataku menangkap seseorang di tempat bekas air pasang yang berkilauan diterpa matahari. Jelas itu seorang lelaki, juga bukan anak kecil. Tampaknya ia terus-menerus memungut sesuatu, lalu memasukkannya ke dalam keranjang atau ember. Berjalan dua-tiga langkah lalu berjongkok, lalu memungut sesuatu. Aku terus menatap orang yang menjelajahi karang kecil di bayangan pulau yang sunyi ini. Sementara kapal melaju, bayangan orang itu menjadi sebagai titik hitam, dan tak lama kemudian karang, gunung, seluruh pulau pun lenyap di balik halimun. Setelah itu, hampir sepuluh tahun lamanya sampai hari ini, sudah berapa kali aku mengenang sosok berwajah tak kukenal di bayangan pulau itu? Inilah salah seorang dari "Orang-Orang yang Tak Akan Kulupa" milikku.

'Berikutnya, sekitar lima tahun lalu, saya merayakan tahun baru di sisi orangtua, lalu langsung berangkat berkeliling Kyūshū, melintasi pulau itu dari Kumamoto ke Ōita. Peristiwa itu terjadi pada perjalanan itu.

'Aku berangkat dari Kumamoto pagi-pagi bersama adikku, dengan waraji dan kyahan, semangat penuh. Hari itu, kami berjalan sampai sebuah kota persinggahan bernama Tateno selagi matahari masih tinggi, lalu menginap di sana. Esoknya, sebelum matahari terbit, kami berangkat dari Tateno, dan—seperti yang lama kuinginkan—menuju ke arah asap putih Gunung Aso, kami menapaki embun beku, menyeberangi jembatan papan, salah jalan beberapa kali, dan akhirnya menjelang tengah hari sampai dekat puncaknya; kawah gunung berapi tercapai mungkin sedikit lewat pukul satu. Wilayah Kumamoto memang hangat, dan ditambah hari itu tak berangin serta cerah, sehingga sekalipun musim dingin, gunung tinggi enam ribu shaku—setara dengan kira-kira 1.800 meter—pun tidak terlalu terasa dingin. Puncak gunung tinggi itu berwarna putih karena uap air yang dimuntahkan dari kawah yang lalu mengkristal, namun selain itu, seluruh gunung hampir tak menampakkan salju—hanya rerumputan kering yang putih bergoyang ditiup angin, dan tanah hangus yang sebagian merah sebagian hitam meninggalkan sisa-sisa kawah lama di sana-sini, membentuk tebing curam. Pemandangan suram itu—tak pena tak mulut pun mampu melukiskannya. Aku rasa, ini lebih cocok menjadi wilayahmu sebagai pelukis.

'Kami sempat sekali naik sampai tepi kawah, dan beberapa saat lamanya mengintip lubang yang menakutkan itu atau memuaskan diri menatap panorama empat penjuru. Tetapi pada puncak, angin sungguh dingin tak tertahankan, sehingga kami sedikit turun dari lubang itu. Di situ ada Kuil Aso, dan di sebelahnya ada gubuk kecil yang menyediakan teh kasar. Kami berlindung ke sana, mengunyah onigiri untuk memulihkan tenaga, lalu kembali naik ke kawah.

'Saat itu matahari sudah cukup miring, dan kabut yang menyelimuti dataran Higo terbakar menjadi merah, terwarnai persis seperti tebing curam kawah lama yang terlihat di seberang itu. Punggung Pegunungan Kujū yang menjulang berbentuk kerucut, melampaui gunung-gunung sekitarnya, terbentang luas, dan rerumputan keringnya yang membentang berkilometer-kilometer di kaki gunung sepenuhnya menanggung sinar matahari sore; karena udara bening seperti air, sampai langkah manusia dan kuda di kejauhan pun seakan bisa terlihat. Langit dan bumi luas sunyi, namun di bawah kaki kami, dengan deru yang dahsyat, asap putih membumbung tebal nan kental, menjulang lurus ke langit, mendadak membelok dan menyambar puncak tinggi gunung, lalu lenyap di satu sudut langit. Mau disebut megah—mau disebut indah—mau disebut ngeri? Kami berdiri membatu seperti patung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Pada saat seperti ini, perasaan terhadap luasnya langit dan bumi, perasaan akan keganjilan eksistensi manusia, mengalir dari dasar hati—itu kupikir adalah hal yang lumrah.

'Akan tetapi, yang paling memukau perasaan kami adalah cekungan luas di antara Pegunungan Kujū dan Gunung Aso. Sudah lama kudengar bahwa ini adalah bekas kawah gunung berapi terbesar di dunia. Memang benar—dataran tinggi Kujū yang mendadak runtuh ke bawah, dan tebing yang membentang sejauh berkilometer-kilometer mengelilingi sisi barat cekungan ini, terlihat jelas di bawah mata kami. Kawah di kaki Gunung Nantai sudah berubah menjadi Danau Chūzenji yang indah dan tenang, sedangkan kawah raksasa ini entah kapan sudah berubah menjadi ladang seluas ribuan chōbu—satu chōbu sekitar satu hektare—yang menumbuhkan lima jenis biji-bijian, dan hutan-hutan serta ladang gandum di beberapa desa pun kini sedang diterangi tenang oleh matahari sore yang miring. Stasiun penginapan bernama Miyaji, yang malam itu menjadi tempat kami merentangkan kaki yang lelah dan menikmati mimpi-mimpi yang polos, juga terletak di cekungan ini.

'Sempat juga muncul antara kami berdua usulan untuk menginap di gubuk puncak gunung dan menonton pemandangan letusan di malam hari, namun karena perjalanan kami mendesak, kami akhirnya memutuskan turun gunung, dan menuruni jalan ke arah Miyaji. Turun jauh lebih landai daripada naik; kami menapaki jalan setapak yang berbelok-belok seperti ular di antara punggung gunung dan rerumputan kering di lembah-lembah. Saat berjalan cepat, mendekati desa, kami melewati beberapa kuda yang memikul rerumputan kering. Ketika kupandang sekeliling, di sana-sini di jalan-jalan kecil punggung gunung, bunyi lonceng yang damai berbaur dengan matahari sore, dan beberapa pasang manusia dan kuda yang tak terhitung tampak pulang ke kaki gunung. Semua kuda memikul rerumputan kering. Walau kaki gunung kelihatan dekat saja, ternyata desa tak segera tampak; matahari menjelang terbenam, jadi kami sangat tergesa-gesa, dan akhirnya berlari menuruni jalan.

'Saat kami tiba di desa, matahari sudah terbenam, dan kala itu sudah masuk waktu redup senja. Keramaian desa pada senja sungguh istimewa—orang-orang dewasa pria-wanita sibuk menutup pekerjaan satu hari, anak-anak berkumpul di bayangan pagar yang remang dan di muka pintu yang memperlihatkan api dapur, tertawa, bernyanyi, dan menangis. Memang, begitulah suasana mana pun di pedesaan, tetapi rasa terhentak oleh pemandangan ini—seperti yang kurasakan ketika tiba-tiba berlari turun dari padang Aso yang suram lalu terjun ke dalam dunia manusia ini—belum pernah kualami sebelumnya. Kami berjalan menyeret kaki yang letih, dan walaupun merasa hari sudah malam dan jalan masih jauh, dengan perasaan rindu, kami menuju Miyaji sebagai tujuan untuk malam itu.

'Satu desa terlewati, dan setelah berjalan di antara hutan dan ladang sebentar, matahari sudah benar-benar terbenam, dan bayangan kami berdua mulai tercetak jelas di tanah. Saat kami berbalik dan menengadah ke langit barat, di sebelah kanan salah satu puncak pecahan Aso, bulan baru menyebarkan cahaya bening kebiruan seperti air ke arah seluruh desa di cekungan ini, seolah cekungan ini adalah miliknya. Kami menyadarinya, lalu mendongak tepat di atas kepala kami—asap kawah yang siang hari membumbung putih bersih kini menerima cahaya bulan dan terwarnai abu-abu, menembus langit lazuardi yang lapang—pemandangan itu sungguh menggetarkan, sekaligus indah. Karena kami sampai pada jembatan yang lebarnya lebih panjang dari panjangnya, kami menyandarkan diri ke pagar jembatan untuk mengistirahatkan kaki yang sudah letih, dan sambil menonton aneka perubahan asap kawah, kami pun mendengarkan suara percakapan manusia desa yang sayup-sayup dari kejauhan. Tiba-tiba, dari arah jalan yang baru saja kami lewati, terdengar bunyi gerobak kosong yang bergema di hutan, bergetar di kelam, dan perlahan mendekat, terdengar jelas di telinga kami.

'Tak lama kemudian, dengan suara jernih nyaring, sebuah nyanyian penggembala kuda mengalir mendekat seiring bunyi gerobak kosong. Aku tetap menatap asap kawah dan memasang telinga, menunggu—tanpa sengaja menunggu—suara itu mendekat.

'Begitu bayangan manusia mulai terlihat, sebuah lagu rakyat "Miyaji adalah tempat yang baik, di kaki Gunung Aso" mengalir panjang, dan mendekat sampai sedikit di depan jembatan tempat kami berdiri. Betapa makna lagu rakyat itu dan suara megah pilu itu menggerakkan perasaanku! Seorang pemuda gagah berusia dua puluh empat atau lima yang menarik tali kekang berjalan lewat tanpa menoleh ke arah kami, dan aku terus menatapnya. Karena ia menanggung cahaya bulan senja di belakangnya, sisi wajahnya pun tak terlihat jelas, namun garis hitam tubuhnya yang kekar masih membekas di dasar mataku sampai sekarang.

'Aku terus mengantarkan bayangan punggung pemuda gagah itu dengan tatapan, lalu mendongak menatap asap kawah Aso. Salah seorang dari "Orang-Orang yang Tak Akan Kulupa" adalah pemuda gagah ini.

'Berikutnya, saat saya bermalam di Mitsugahama di Shikoku menunggu kapal uap. Saya ingat itu permulaan musim panas; pagi-pagi aku keluar dari penginapan, dan karena kudengar kapal uap baru tiba sore hari, aku menyusuri pantai dan jalan-jalan pelabuhan ini. Karena pelabuhan ini di belakangnya menggendong Matsuyama, ramainya pun istimewa; terutama pagi hari, pasar ikan dibuka, dan keramaian di sekitar pasar ikan sungguh luar biasa. Langit luas cerah tanpa sisa, matahari pagi bersinar lembut, memberi pantulan pada benda yang berkilau, menambah cahaya pada benda yang berwarna, sehingga pemandangan keramaian itu semakin meriah berlipat-lipat. Yang berteriak, yang memanggil; di sini meledak suara tawa riang, di sana berkecamuk sorak gembira dan caci marah—penjual dan pembeli, tua-muda pria-wanita, semuanya tampak sibuk, semuanya tampak senang, semuanya tampak gembira, berlari dan kejar-kejaran. Warung-warung kaki lima berbaris, menunggu tamu yang akan makan sambil berdiri. Tak perlu dikatakan apa yang dijual, dan orang-orang yang menyantap sebagian besar pelaut atau awak perahu. Tai, hirame, anago, gurita, terlempar di sana-sini. Bau amis ikan ditiup pengipas oleh ujung lengan dan ujung rok orang-orang yang berdesak-desakan, lalu menabrak hidung.

'Aku sepenuhnya seorang pelancong di sini—tak ada ikatan dan tak ada koneksi dengan tanah ini—jadi tak ada wajah yang kukenal, juga tak ada kepala botak yang kuingat. Maka entah bagaimana, pemandangan-pemandangan ini menimbulkan rasa yang ganjil di dalam diriku, seakan-akan menatap rupa dunia dengan kejelasan satu tingkat lebih tajam. Hampir lupa pada diriku sendiri, aku berjalan-jalan di tengah keramaian ini, lalu sampai di salah satu ujung jalan yang agak hening.

'Lalu segera yang masuk ke telingaku adalah alunan biwa. Di muka kedai di situ berdiri seorang biwa-sō, pendeta pengembara pemain biwa. Usianya tampaknya sudah lewat empat puluh lima atau enam tahun, lelaki bertubuh pendek, gemuk, dengan wajah lebar persegi. Warna wajahnya, sinar matanya, justru cocok dengan alunan biwa yang pilu itu; suara nyanyian yang mengikuti petikan dawai bagaikan tersedu itu pun tenggelam, keruh, mengental. Tak seorang pun orang di jalan menoleh kepada sang pendeta, tak seorang pun dari penghuni rumah-rumah memperlihatkan sikap memasang telinga pada alunan biwa ini. Matahari pagi berkilau—dunia yang fana ini sedang sibuk.

'Namun aku terus menatap biwa-sō ini, dan memasang telingaku pada alunan biwa-nya. Pemandangan jalan sempit yang ujung-ujung atapnya tak rata dan tampak sibuk ini, seolah tak selaras dengan biwa-sō ini dan alunan biwa-nya, namun di suatu sisi terasa pula ada janji yang dalam. Alunan biwa yang tersedu-sedu itu mengembara dari atap ke atap di jalan, bercampur dengan teriakan berani para penjual dan bunyi nyaring kanatoko di bengkel besi—seolah satu aliran mata air yang jernih melintas di celah-celah ombak keruh, mengalir tersembunyi. Saat kudengarkan suara itu, di dasar hati orang-orang jalan yang berwajah gembira, riang, senang, sibuk itu, aku merasakan ada satu dawai yang menabuh harmoni alam. Salah seorang dari "Orang-Orang yang Tak Terlupakan" adalah biwa-sō ini.'

Setelah bercerita sampai di sini, Ōtsu meletakkan naskah itu dengan tenang dan termenung sejenak. Suara badai di luar sedikit pun tak mereda. Akiyama bangkit tegak, lalu berkata,

'Lalu?'

'Sudah, mari berhenti—sudah terlalu larut. Masih banyak. Buruh tambang di Utashinai, Hokkaidō; nelayan muda di Teluk Dalian; tukang perahu dengan bisul di Sungai Banjō—kalau saya rinci satu per satu yang ada di naskah ini, hari akan keburu terang. Bagaimanapun, alasan saya tak bisa melupakan orang-orang ini adalah karena saya mengingat mereka. Mengapa saya mengingat mereka? Itulah yang ingin saya bicarakan kepada Anda.

'Singkatnya, saya adalah lelaki malang yang terus-menerus dirundung pertanyaan tentang hidup, sekaligus ditindih oleh ambisi besar diri sendiri di masa depan, lalu menyiksa diri sendiri.

'Dan pada malam-malam seperti ini, sendirian di larut malam menatap pelita, saya merasakan kesendirian dari hidup ini, hingga timbul perasaan pilu yang tak tertahankan. Pada saat itu, tanduk keakuan saya patah seketika, dan saya menjadi rindu pada sesama manusia. Saya mulai memikirkan aneka kenangan lama dan kabar para sahabat. Pada saat itu, yang naik di hati saya secara mengalir adalah orang-orang ini. Bukan—tepatnya, orang-orang ini yang berdiri di dalam pemandangan sekeliling saat saya bertemu mereka. Apa beda antara saya dan orang lain? Bukankah kita semua menerima hidup ini di satu sudut langit dan satu pojok bumi, menapaki perjalanan tenang nan panjang, lalu bergandengan tangan kembali ke langit tak berhingga? Perasaan semacam itu mengalir dari dasar hati, dan tanpa kusadari air mata mengalir di pipi. Pada saat itu, sungguh tak ada saya dan tak ada orang lain—siapa pun terasa rindu, terasa terkenang.

'Tak pernah saya merasakan ketenangan hati seperti pada saat itu, tak pernah saya merasakan kebebasan seperti pada saat itu, tak pernah pikiran duniawi tentang perlombaan nama dan keuntungan pudar sebersih itu sehingga rasa simpati saya terhadap segala hal mendalam seperti pada saat itu.

'Saya ingin entah bagaimana, dengan topik ini, menulis sepuasnya sesuai keinginan saya. Saya yakin pasti ada sesama di dunia ini yang sehati dengan saya.'

Dua tahun pun berlalu sejak peristiwa itu.

Ōtsu, karena suatu sebab, tinggal di sebuah daerah Tōhoku. Hubungannya dengan Akiyama, yang pertama kali ia jumpai di penginapan Mizoguchi, terputus sepenuhnya. Kebetulan saat itu musim yang persis sama dengan ketika Ōtsu menginap di Mizoguchi, dan pada malam ketika hujan turun—Ōtsu duduk seorang diri menghadap meja, tenggelam dalam renungan. Di atas meja tergeletak naskah yang sama dengan yang dua tahun lalu ia perlihatkan kepada Akiyama—naskah 「Orang-Orang yang Tak Akan Kulupa」—dan yang ditambahkan paling akhir di sana adalah 「Tuan pemilik Kameya」.

Bukan 「Akiyama」.

Chapter 1 of 1