Vol. 5August 2026

Penulis · 2026-07-02 · Waktu baca ~ 3 mnt

Hidung: Komedi Tajam Akutagawa tentang Kesombongan dan Rasa Malu

Baca Hidung karya Akutagawa, cerita jenaka tentang pendeta Heian, hidungnya yang teramat panjang, dan kekejaman orang terhadap yang berubah.

Pagera Editorial

Hidung, yang ditulis Akutagawa pada 1916, adalah mahakarya komik mungil yang menyembunyikan pengamatan tajam tentang sifat manusia. Di permukaan, ini kisah lucu tentang seorang pendeta Buddha yang malu karena hidungnya yang luar biasa panjang. Di baliknya, Akutagawa Ryunosuke bertanya mengapa orang membenci kebahagiaan orang lain, bahkan saat kebahagiaan itu tidak merugikan mereka sedikit pun.

Seorang pendeta dan hidung yang mustahil

Cerita berpusat pada Zenchi Naigu, seorang pendeta terpandang di Kyoto kuno yang hidungnya begitu panjang sampai menggantung melewati dagunya. Ia terpelajar dan berwibawa, tetapi satu ciri ini meruntuhkan dirinya. Saat makan, seorang pembantu harus menyangga hidungnya dengan bilah kayu agar ia bisa menyuap, dan seisi kuil sudah lama berhenti tertawa, sekadar karena kebiasaan.

Naigu berpura-pura tidak terganggu oleh hidungnya, tetapi Akutagawa diam-diam menunjukkan betapa pikirannya tersedot oleh hal itu. Ia mengamati hidung orang lain, mencari siapa pun yang menderita serupa, dan menelaah kitab suci dengan harapan menemukan tokoh yang pernah memikul beban yang sama. Komedinya lembut, tetapi kesepian di baliknya nyata.

Ketika obat justru memperburuk keadaan

Akhirnya Naigu mendengar tentang sebuah pengobatan. Setelah prosedur aneh yang melibatkan air mendidih dan injakan yang hati-hati, hidungnya menyusut ke ukuran normal. Ia girang, yakin kini ejekan akhirnya akan berhenti. Namun, hal yang lebih ganjil terjadi. Orang-orang justru menertawakannya lebih terang-terangan dari sebelumnya.

Akutagawa menawarkan diagnosis yang jernih lewat renungan narator tentang apa yang ia sebut perasaan yang saling bertentangan pada diri si penonton. Orang dulu mengasihani Naigu, dan rasa kasihan itu memberi mereka rasa superior yang tenang. Begitu ia sembuh, perasaan nyaman itu lenyap, dan mereka jengkel karena kehilangannya. Keberuntungannya membuat mereka tak punya alasan untuk merasa murah hati, maka mereka pun bersikap dingin.

Si penonton yang ingin Anda gagal

Inilah inti cerita, dan kebenarannya terasa tak nyaman. Akutagawa menamai kecenderungan yang dikenali kebanyakan dari kita tetapi jarang diakui. Kita bisa bersimpati pada orang yang sedang susah sambil diam-diam lebih suka mereka tetap di sana, karena kesusahan mereka menyanjung posisi kita sendiri. Begitu mereka bangkit, kita merasa samar-samar dicurangi.

Wawasan itulah yang mengangkat Hidung melampaui sekadar lelucon. Alurnya ringan, nadanya jenaka, tetapi kesimpulannya tentang iri dan kasihan jatuh dengan bobot yang nyata. Akutagawa baru berusia dua puluhan saat menulisnya, dan cerita ini sudah memperlihatkan kecerdasan yang cermat dan sedikit kejam yang mengalir di karya-karya terbaiknya.

Akhir yang memuaskan dan pintu masuk yang mudah

Penutupnya sempurna. Suatu malam hidung Naigu membengkak kembali ke panjang semula, dan ia merasakan gelombang lega, senang bisa kembali ke rasa malu yang akrab daripada menghadapi ejekan baru. Ini lucu sekaligus sedikit sedih, dan meninggalkan pembaca berpikir alih-alih sekadar tersenyum.

Karena pendek, jernih, dan berpijak pada satu citra yang hidup, Hidung menjadi pengantar yang sangat baik ke fiksi klasik Jepang. Kalau Anda sedang belajar bahasanya, latar yang terbatas dan kosakata yang konkret cocok untuk pembacaan cermat, dan Anda bisa mengetuk kata serta menyusun daftar belajar dengan perangkat di pusat kami di /id/learn/japanese. Pembaca berdampingan memungkinkan Anda mencocokkan teks Jepang dengan terjemahannya baris demi baris.

Anda bisa membaca Hidung gratis di Pagera dalam versi asli sekaligus bahasa Inggris, dan menemukan lebih banyak karya Akutagawa serta sezamannya di katalog lengkap. Semuanya gratis dibaca, jadi duduklah dengan nyaman dan nikmati ceritanya sesuai tempo Anda.

Kembali ke Pagera