Penulis · 2026-07-03 · Waktu baca ~ 3 mnt
Bubur Ubi: Cara Akutagawa Mengubah Hasrat Kecil Menjadi Tragedi yang Sunyi
Baca Bubur Ubi karya Akutagawa, cerita memilukan tentang juru tulis penakut, satu hasrat sederhana, dan apa yang terjadi saat impian seumur hidup terwujud.
Pagera Editorial
Bubur Ubi, yang diterbitkan Akutagawa pada 1916, mengambil hasrat sekecil mungkin dan menjadikannya mesin penggerak seluruh cerita. Seorang juru tulis yang penakut dan terabaikan memimpikan satu hal: makan bubur ubi sepuasnya, bubur manis sederhana yang hanya disajikan dalam porsi mungil di jamuan. Akutagawa Ryunosuke memakai keinginan sederhana itu untuk menyelidiki sesuatu yang jauh lebih besar tentang kerinduan dan kekecewaan.
Seorang lelaki yang tak diperhatikan siapa pun
Tokoh utamanya, Goi, adalah pengiring samurai berpangkat rendah pada zaman Heian. Ia lusuh, kikuk, dan terus-menerus diejek oleh orang-orang di sekitarnya. Akutagawa melukisnya dengan detail yang sabar, menampilkan orang yang sudah begitu terbiasa dihina sampai nyaris tak bereaksi lagi. Goi telah mengerutkan dirinya agar pas dengan rasa hina orang lain.
Di tengah keberadaan yang kelabu itu ada satu titik terang. Pada jamuan Tahun Baru, Goi mencicipi bubur ubi dan bergumam bahwa ia berharap bisa makan sepuasnya. Harapan itu nyaris memalukan saking kecilnya, dan justru itulah yang membuatnya penting. Itu satu-satunya hasrat yang tersisa padanya.
Ketika harapan dikabulkan
Seorang panglima perkasa bernama Toshihito mendengar gumaman Goi dan, separuh karena kemurahan hati separuh karena geli, berjanji memberinya bubur ubi sebanyak yang sanggup ia makan seumur hidup. Ia memboyong Goi dalam perjalanan jauh ke kediamannya, dan sepanjang jalan Goi makin gelisah. Semakin dekat impian itu, semakin cemas perasaannya.
Saat ia tiba, skalanya membuat tercengang. Kuali-kuali raksasa disiapkan, gunung-gunung ubi diiris, dan berliter-liter bubur dimasak hanya untuknya. Berhadapan dengan kelimpahan ini, Goi kehilangan seluruh selera makannya. Hal yang ia dambakan seumur hidup tiba-tiba terjangkau, dan keinginan itu pun surut. Ia nyaris tak sanggup menghabiskan satu mangkuk.
Tragedi sunyi dari mendapatkan apa yang Anda inginkan
Inilah inti cerita, dan Akutagawa menanganinya dengan amat halus. Goi menyadari, nyaris tanpa kata, bahwa kebahagiaan itu sejak awal tidak pernah berada pada buburnya. Kebahagiaan itu hidup dalam keinginan, dalam memiliki satu harapan kecil untuk dipegang ketika segala hal lain terasa suram. Impian itu menopangnya justru karena ia tetap berupa impian.
Akutagawa tidak menggurui. Ia hanya membiarkan kita menyaksikan seseorang memahami bahwa harapan yang terwujud bisa lebih hampa daripada harapan itu sendiri. Ada sesuatu yang universal di sini, jauh melampaui Jepang zaman Heian. Siapa pun yang akhirnya mencapai tujuan yang lama didamba lalu merasa hambar alih-alih gembira akan mengenali kepedihan sunyi Goi.
Cerita kecil yang berjangkauan jauh
Yang membuat Bubur Ubi luar biasa adalah betapa banyak yang ia muat dalam halaman yang begitu sedikit. Latarnya kuno, alurnya nyaris tak ada, tetapi kebenaran emosionalnya terasa modern dan langsung. Keseimbangan antara pokok yang bersahaja dan makna yang besar adalah salah satu ciri khas Akutagawa, dan ia memberi imbalan bagi pembacaan yang lambat dan penuh perhatian.
Cerita ini juga teman yang baik untuk belajar bahasa, sebab citranya konkret dan jalan ceritanya mudah diikuti. Anda bisa membacanya di pembaca berdampingan dan mengetuk kata asing, lalu menyimpannya untuk ditinjau dengan perangkat di pusat pembelajar kami di /id/learn/japanese. Kalau Anda baru mengenal penulisnya, tulisan kami yang lain tentang cerpen-cerpennya cocok dipadukan dengan yang ini.
Semua di Pagera gratis dibaca, dalam bahasa Jepang asli sekaligus terjemahan Inggris. Telusuri lebih banyak karya Akutagawa dan penulis Taisho lainnya di katalog lengkap, dan bacalah apa pun yang menarik Anda berikutnya.