Vol. 3June 2026

Panduan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Analisis Si Bisu Samryong: Naturalisme Korea, Cinta Bisu, dan Perbandingan dengan Kentang Kim Dong-in

Analisis mendalam Si Bisu Samryong (1925) Na Do-hyang sebagai sintesis romantisme-naturalisme Korea. Bandingkan dengan Kentang (1925) Kim Dong-in, eksplorasi tema kebisuan kelas pelayan, simbolisme api dan air mata, serta posisi cerpen ini di dalam kanon neo-naturalisme Korea modern.

Pagera Editorial

Cerpen Si Bisu Samryong Na Do-hyang (1925) sering disebut sebagai mahakarya neo-naturalisme Korea modern. Tetapi membaca cerpen ini sebagai sekadar naturalisme akan kehilangan separuh dari kompleksitasnya. Karya ini adalah sintesis langka dari dua aliran sastra Korea 1920-an: romantisme Aliran Baekjo (19211923) dan naturalisme Aliran Joseon Mundan (19251933). Untuk memahaminya, kita perlu menyelidiki di mana cerpen ini menempatkan dirinya dalam peta sastra Korea modern.

Dua Cerpen Korea 1925: Kentang dan Si Bisu Samryong

Pada tahun 1925, dua cerpen pendek menentukan arah sastra Korea modern selama tiga dekade berikutnya:

  • Januari 1925: "Kentang" oleh Kim Dong-in di majalah Joseon Mundan. Naturalisme kejam dengan determinisme lingkungan total. Tokoh utama Bok-nyeo dijual seharga delapan puluh won, dipaksa ke kampung kumuh Pyongyang, jatuh ke perzinaan, dan akhirnya dibunuh oleh kekasihnya sendiri sang petani Tionghoa Wang Seobang—dengan kematiannya ditutupi dengan diagnosis palsu "pendarahan otak" dari tabib yang disuap. Tidak ada penebusan, tidak ada keadilan, hanya korupsi yang membungkam.

  • Juli 1925: "Si Bisu Samryong" oleh Na Do-hyang di majalah Yeomyeong. Naturalisme dengan unsur romantik. Tokoh utama Samryong, pelayan bisu, mengalami siksaan kelas, tetapi mengakhiri hidupnya dalam pengorbanan diri yang menebus—dengan senyum damai di sudut bibirnya saat tubuhnya rebah di pangkuan sang nyonya muda.

Dua cerpen di tahun yang sama, ditulis oleh dua sahabat dalam lingkaran sastrawan Joseon, mewakili dua jalan yang sangat berbeda dari naturalisme Korea modern. Kim Dong-in mewarisi Zola dan Maupassant dengan kejam—dunia adalah pabrik yang menggilas. Na Do-hyang mewarisi Tolstoy dan Hugo dengan halus—dunia memang menggilas, tetapi cinta yang murni masih bisa menebus.

Kebisuan sebagai Metafora Kelas

Pilihan Na Do-hyang menjadikan tokoh utamanya seorang bisu adalah pilihan yang berlapis. Pada permukaan, ini adalah kondisi medis: Samryong terlahir tanpa kemampuan berbicara. Tetapi pada lapisan dalam, kebisuan adalah metafora kelas pelayan dalam hierarki Joseon-kolonial.

Pada 1925, kelas pelayan tradisional (nobi) secara formal telah dihapuskan dalam Reformasi Gabo 1894. Tetapi dalam praktiknya, mereka tetap dianggap sebagai "yang tak bersuara" dalam tatanan sosial—mereka tidak punya hak suara dalam pengambilan keputusan keluarga, tidak punya hak menikah secara mandiri, tidak punya hak memiliki tanah. Mereka secara sosial bisu, terlepas dari kondisi medis mereka.

Samryong, dengan demikian, adalah representasi paling ekstrem dari kelas pelayan: dua kali bisu—secara medis dan secara sosial. Ketika ia akhirnya "berbicara" di akhir cerpen, ia berbicara melalui pengorbanan diri yang absolut—dan satu senyum yang menutup mata bagi selamanya.

Cinta yang Tak Bisa Diucapkan

Salah satu paragraf paling indah cerpen ini ada di Bab 3:

"Saat ia memikirkan Sang Nyonya Muda, ia merasa Nyonya Muda lebih indah daripada bulan di langit, lebih bersih daripada bintang-bintang. ... Seolah bulan dan bintang itu turun ke bumi dan menjadi Sang Nyonya Muda."

Karena Samryong tak bisa berbicara, cintanya terhadap Sang Nyonya Muda menjadi cinta yang sepenuhnya internal, tanpa kemungkinan ekspresi verbal. Ini adalah eksperimen sastra yang unik: bagaimana melukiskan kasih sayang tanpa dialog? Na Do-hyang menjawabnya dengan menyublimasi cinta ke wilayah kosmis—bulan, bintang, air raksa, langit. Sang Nyonya Muda tidak pernah menjadi objek hasrat seksual; ia adalah bidadari, hampir transendental. Cinta Samryong adalah agape, bukan eros.

Bandingkan dengan cinta Bok-nyeo terhadap Wang Seobang di Kentang. Cinta itu sepenuhnya transaksional—uang ditukar dengan tubuh, kecemburuan menjelang kematian. Di sini, Na Do-hyang menyajikan kontras tajam dengan Kim Dong-in: di antara cinta naturalisme dan cinta romantik, ia memilih yang kedua—walau memberikannya kepada tokoh yang berasal dari kelas yang sama.

Simbolisme Api dan Air Mata

Bab 1 paragraf 29 memuat satu observasi yang menggetarkan:

"Tetapi ia tak pernah meneteskan air mata. Ia memang tak punya air mata. Air matanya, saat hendak keluar, seperti mata air yang sudah lama mengering—berusaha menyembul, tetapi tak juga muncul."

Samryong tidak hanya bisu—ia juga tak punya air mata. Inilah ekstremitas kondisi manusianya: penolakan tubuh untuk merespons emosional secara konvensional. Air mata yang kering ini akan dibalas, di akhir cerpen, dengan kobaran api yang melahap rumah. Apa yang tidak bisa dikeluarkan dari tubuhnya sebagai air mata, akhirnya dikeluarkan ke dunia sebagai api.

Inilah simbolisme yang khas naturalisme romantik: emosi yang ditekan menjadi kekuatan kosmik yang merusak. Kita melihat pola serupa di Wuthering Heights Emily Brontë (1847), Tess of the d'Urbervilles Thomas Hardy (1891), atau Anna Karenina Tolstoy (1877). Na Do-hyang berdiri sebagai pewaris tradisi ini, diterjemahkan ke konteks 1925 Korea kolonial.

Anti-Yangban: Kritik Sosial yang Halus

Cerpen ini tampaknya tidak mengandung kritik sosial yang lugas seperti Kentang—di mana Kim Dong-in secara terang-terangan membongkar korupsi sistem kolonial. Tetapi pembacaan teliti akan mengungkap bahwa Na Do-hyang menyerang kelas yangban yang sedang runtuh secara lebih halus tapi tak kalah tajam.

Perhatikan: Tuan O Saengwon adalah satu-satunya "yangban" di kampung itu. Tetapi gengsinya didasarkan pada apa? Gamtu—topi—dan kebiasaan membagi ikan kering pollack setiap akhir tahun. Bukan kebajikan, bukan keadilan, bukan kebijaksanaan. Anaknya adalah simbol degenerasi kelas yangban: dimanja, kejam, brutal, tidak punya akal sehat. Pengantin perempuan—"anak yangban yang telah jatuh"—dijual demi tiga puluh ribu ryang. Sistem yangban yang seharusnya menjaga nilai Konfusian telah berubah menjadi pertukaran komersial.

Dan akhirnya, ironi yang paling tajam: rumah yangban itu dilumat oleh api. Yang menyelamatkan Tuan O dan Sang Nyonya Muda adalah pelayan bisu—orang yang oleh sistem sosial dianggap paling rendah. Hierarki sosial dibalik dalam api: yang tak bersuara menjadi pahlawan; yang berkuasa menjadi yang harus diselamatkan.

Posisi dalam Kanon: Tiga Tugu Sastra Korea Modern

Setelah hampir satu abad, Si Bisu Samryong diakui sebagai salah satu dari tiga cerpen Korea modern paling utuh:

  1. $1

  2. $1

  3. $1

Ketiga cerpen ini membentuk segitiga estetik yang menentukan arah cerpen Korea sampai 1960-an. Si Bisu Samryong, sebagai cerpen yang paling memadukan kecermatan sosiologis dengan tinggi puisi romantik, kerap dianggap sebagai jembatan antara dua kutub.

Mengapa Kita Masih Membacanya?

Pertanyaannya pada akhirnya: mengapa sebuah cerpen Korea 1925 masih beresonansi pada 2026, di Indonesia, di antara pembaca yang sangat jauh dari konteks aslinya? Jawabannya, kami percaya, adalah karena tema universalnya: ketidakadilan kelas, cinta yang tak terucapkan, dan pengorbanan yang menebus segalanya.

Kebisuan Samryong bukan sekadar kondisi medis; ia adalah kondisi spiritual yang dihadapi siapa saja yang merasa tidak punya suara dalam masyarakatnya sendiri. Cintanya yang tak bisa diucapkan kepada Sang Nyonya Muda bukan sekadar kasus historis; ia adalah pengalaman setiap orang yang pernah merasakan keterikatan emosional yang tak bisa diartikulasikan oleh batas-batas sosial.

Dan akhirnya, senyum di sudut bibirnya saat ia putus napas—itu adalah jawaban Na Do-hyang yang tak terucap kepada seluruh ketidakadilan dunia: ada wilayah di dalam manusia di mana keadilan tidak bergantung pada hukum atau kelas, dan di mana kebebasan dapat dicapai hanya melalui penyerahan diri yang absolut.

Pelajari lebih lanjut tentang sastra Korea modern di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli karya Na Do-hyang di Wikisource Korea.

Baca Si Bisu Samryong karya Na Do-hyang di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera