Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 2 mnt
Konteks Sejarah "Ayam Jago" — Sastra Korea 1933
Lima konteks penting untuk memahami cerpen Yi Hyo-seok tahun 1933: posisi penulis, majalah Samchunri, pedesaan Korea, periode lirik naturalis, dan catatan Muslim.
Pagera Editorial
Untuk memahami "Ayam Jago" (수탉, 1933), kita perlu menempatkan cerpen ini dalam konstelasi karier Yi Hyo-seok dan iklim sastra Korea pertengahan 1930-an.
1. Yi Hyo-seok pada 1933: Tahun Perubahan Arah
Yi Hyo-seok (1907-1942) lahir di Bongpyeong, Pyeongchang, provinsi Gangwon. Setelah lulus dari Universitas Imperial Keijo (Seoul) jurusan Sastra Inggris pada 1930, ia memulai kariernya sebagai penulis "dongbanja" (penulis pendamping)—simpatisan gerakan sastra proletar tanpa keanggotaan resmi. Cerpen-cerpen awalnya seperti "Kota dan Hantu" (도시와 유령, 1928) memuat kritik sosial yang lugas terhadap ketimpangan kolonial.
Pada 1933 terjadi titik balik. Yi Hyo-seok bergabung dengan kelompok "Kuinhoe" (구인회, Sembilan Sahabat)—lingkaran sastra non-ideologis yang juga beranggotakan Yi Sang, Park Tae-won, Lee Tae-jun, dan Kim Gi-rim. "Babi" (돈, Februari 1933) dan "Ayam Jago" (November 1933) terbit pada tahun yang sama—dua cerpen yang menandai pergeseran Yi Hyo-seok dari kritik sosial eksplisit ke naturalisme lirik yang menjadi ciri khasnya pada tahun-tahun berikutnya.
2. Majalah Samchunri: Wadah Sastra Akhir Kolonial
Cerpen ini terbit di majalah Samchunri (《삼천리》, "Tiga Ribu Li"—nama puitis untuk Korea) yang didirikan Kim Dong-hwan pada 1929. Samchunri adalah salah satu majalah berbahasa Korea paling tahan banting era kolonial—terbit hingga 1942 ketika otoritas Jepang mewajibkan semua publikasi berpindah ke bahasa Jepang. Berbeda dari majalah ideologis seperti Gaebyeok (KAPF) atau Joseon Mundan (Mundang aliran kanan), Samchunri menampung penulis dari berbagai aliran—Yi Gwang-su, Hyun Jin-geon, Yi Hyo-seok, hingga Kim Tong-in.
3. Pedesaan Korea 1933: Anak Sekolah dan Beternak
Latar cerpen—seorang siswa sekolah pertanian (nonghakkyo) yang merawat ayam untuk biaya sekolahnya sendiri—mencerminkan kondisi sosial pedesaan Korea 1930-an. Sekolah pertanian adalah lembaga semi-vokasional yang didirikan otoritas kolonial Jepang untuk memodernisasi pertanian Korea, tetapi siswa-siswanya umumnya datang dari keluarga petani penyewa (sojagin) yang harus menanggung biaya sendiri. "Dua ekor ayam = biaya satu bulan sekolah" (paragraf 2) adalah keterangan ekonomi yang spesifik dan menyentuh.
4. Periode Lirik Naturalis Yi Hyo-seok (1933-1936)
"Ayam Jago" menempati posisi penting dalam transisi gaya Yi Hyo-seok. Sebelumnya: kritik sosial eksplisit ("Kota dan Hantu"). Setelahnya: naturalisme lirik yang memperkenalkan dunia alam sebagai metafora kondisi manusia ("Babi" 1933, "Gunung" 1936, "Bunga Mehmilkkot Bermekaran" 1936.10). "Ayam Jago" adalah jembatan—masih membawa sisa-sisa kritik sosial (insiden pengusiran dari sekolah, beban biaya pendidikan) tetapi sudah menggunakan teknik mirroring antara manusia dan hewan yang akan menjadi ciri matang Yi Hyo-seok.
5. Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia
Cerpen ini diakhiri dengan adegan kekerasan terhadap hewan (kematian ayam jago) yang berfungsi sebagai metafora keputusasaan tokoh. Bagi pembaca Muslim Indonesia, perlu diingat bahwa Islam mengajarkan ihsan (kebaikan) kepada semua makhluk hidup, termasuk hewan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik..." (HR. Muslim). Bagi tokoh Eulson, tindakannya bukan ekspresi sikap normatif terhadap hewan, melainkan sebuah pengakuan diam atas kekecewaannya sendiri. Membaca cerpen ini menuntut kita untuk membedakan antara pernyataan etis dan pengakuan kondisi—Yi Hyo-seok melakukan yang kedua.