Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 4 mnt
Konteks "Gunung" (1936): Yi Hyo-seok, Realisme Liris Korea, dan Pegunungan Pyeongchang Era Akhir Kolonial
Latar belakang sosial-historis "Gunung" karya Yi Hyo-seok yang terbit tahun 1936 di majalah Samcheonri: konteks akhir era kolonial Korea, gerakan realisme liris, dan pegunungan Pyeongchang sebagai panggung sastra.
Pagera Editorial
Konteks "Gunung" (1936): Yi Hyo-seok, Realisme Liris Korea, dan Pegunungan Pyeongchang Era Akhir Kolonial
"Gunung" (산, 1936) karya Yi Hyo-seok (이효석, 1907-1942) terbit di majalah Samcheonri (삼천리) tahun 1936, di tengah masa yang sangat khusus dalam sejarah sastra dan masyarakat Korea kolonial. Untuk memahami sepenuhnya kedalaman cerpen ini, lima konteks penting perlu disusun secara berlapis.
1. Akhir Era Kolonial Korea: 1936
Tahun 1936 adalah tahun transisi yang sangat krusial dalam Korea di bawah pendudukan Jepang:
- Olimpiade Berlin 1936, Sohn Kee-chung memenangkan maraton dengan bendera Jepang di dadanya. Surat kabar Donga Ilbo menghapus bendera Jepang dari foto medali, surat kabar tersebut ditutup karena ini.
- Kebijakan asimilasi semakin intensif. Penggunaan bahasa Korea di sekolah-sekolah mulai dibatasi.
- Kebijakan industrialisasi dan migrasi paksa petani ke Manchuria mencapai puncak.
- Dalam dua tahun ke depan (1938), Yi Hyo-seok sendiri akan dipaksa berpartisipasi dalam kebijakan kolaborasi sebagai dosen di Sekolah Tinggi Sungsil Pyongyang.
Cerpen "Gunung" yang menggambarkan pelarian seorang pelayan ke pegunungan adalah metafora terselubung dari kerinduan akan ruang bebas di tengah penjajahan yang semakin menyesakkan.
2. Yi Hyo-seok dan Gerakan Realisme Liris
Yi Hyo-seok memulai karirnya sebagai bagian dari kelompok 9 Penulis (九人會, Gu In-hoe), sebuah perkumpulan sastrawan modernis Korea yang didirikan tahun 1933 dan beranggotakan:
- Yi Hyo-seok (1907-1942)
- Yi Sang (이상, 1910-1937), modernisme avant-garde
- Park Tae-won (박태원, 1909-1986), alur kesadaran
- Kim Gi-rim (김기림, 1908-?), imajisme
- Jeong Ji-yong (정지용, 1902-1950), puisi liris
Yi Hyo-seok memulai sebagai penulis sosial ("Sahaengja Munhak" atau sastra pengiring), tetapi mulai tahun 1933 ia bergeser ke realisme liris, perpaduan antara observasi detail sosial dan puisi prosa yang sangat lirikal. "Gunung" dan "Saat Bunga Buckwheat Mekar" (keduanya 1936) adalah dua puncak gerakan ini.
3. Pegunungan Pyeongchang sebagai Panggung Sastra
Yi Hyo-seok lahir di Bongpyeong, Pyeongchang, provinsi Gangwon tahun 1907, daerah pegunungan paling indah di Korea, terkenal dengan musim semi bunga buckwheat yang seperti "garam yang ditaburkan di atas tanah." Pegunungan Pyeongchang adalah:
- Panggung utama dari hampir semua cerpen lirisnya
- Tempat kelahiran identitas sastra Korea modern yang berakar pada lanskap
- Pada tahun 2018, Pyeongchang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin, sebuah penghormatan tidak langsung pada lanskap yang diabadikan oleh Yi Hyo-seok
Pegunungan Bakjunggol (박중골) dalam cerpen "Gunung" adalah pegunungan fiksi yang merepresentasikan kawasan Pyeongchang yang lebih luas.
4. Sistem Mosseum dan Kelas Yangban yang Membusuk
Sistem mosseum (머슴, pelayan rumah tangga) adalah salah satu bentuk kerja paksa semi-feudal yang masih bertahan di pedesaan Korea bahkan di era kolonial. Karakteristiknya:
- Tujuh tahun atau lebih melayani tanpa upah tetap
- Tidur di gudang atau ruang bawah lantai
- Pakaian dan makanan minimum disediakan tuan rumah
- Janji "akan diberi rumah dan istri" sering kali ingkar
- Tuan rumah dari kelas yangban (양반) yang membusuk sering kali menjerat pelayan dengan tuduhan palsu untuk mengusirnya tanpa pembayaran
Joongsil dalam "Gunung" adalah representasi jutaan mosseum Korea yang menjadi korban sistem yang membusuk ini.
5. Estetika Penyatuan dengan Alam: Pengaruh Daoisme dan Modernisme Barat
Yi Hyo-seok belajar sastra Inggris di Universitas Imperial Keijo (sekarang Universitas Nasional Seoul) dan kemudian di Universitas Sungsil Pyongyang. Pengaruh sastranya berlapis:
- Daoisme Korea (조선 도교): Konsep "manusia-alam sebagai satu" (人天合一)
- Modernisme Inggris: D. H. Lawrence, Thomas Hardy, observasi alam yang sangat detail
- Naturalisme Prancis: Émile Zola, pengaruh deterministik pada karya-karya awalnya
- Imajisme Amerika: Ezra Pound, pengaruh pada deskripsi visual yang ketat
Klimaks "Gunung", saat Joongsil merasakan tubuhnya menjadi pohon, lalu menjadi bintang, adalah perpaduan unik antara tradisi kontemplatif Asia Timur dengan modernisme Barat.
Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia
Pelarian Joongsil ke gunung dan kontemplasi alam di bawah langit berbintang memiliki resonansi yang dalam dengan tradisi Islam. Al-Qur'an mengajak kita merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal" (QS Ali Imran 3:190, LAI/Kementerian Agama RI).
Rasulullah ﷺ juga menyempatkan diri untuk berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira sebelum wahyu pertama turun. Pelarian Joongsil ke gunung bukanlah pelarian dari tanggung jawab, melainkan pencarian kebenaran diri di tengah masyarakat yang tidak adil, sebuah perjalanan rohani yang dapat dipahami dalam berbagai tradisi spiritual.
Namun perlu dicatat: keinginan Joongsil untuk "menculik Yongnyeo dari rumahnya" pada akhir cerpen adalah fantasi seorang lelaki yang terisolasi, bukan rekomendasi etis. Dalam Islam, pernikahan harus didasarkan pada persetujuan kedua belah pihak dan persetujuan wali (QS An-Nisa 4:21).
Kesimpulan
"Gunung" adalah karya yang berdiri di persimpangan tujuh konteks: akhir era kolonial, gerakan realisme liris, pegunungan Pyeongchang, sistem mosseum yang eksploitatif, kelas yangban yang membusuk, tradisi penyatuan dengan alam Asia Timur, dan modernisme Barat. Ketujuh konteks ini menyatu dalam satu cerpen pendek yang hanya berlangsung lima ribu enam ratus karakter, sebuah keajaiban kompresi estetis.
Baca Pagera untuk teks lengkap.