Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 3 mnt
Latar 1938: Kumpulan Puisi «Hyeonhaetan», KAPF Pasca-Pembubaran, dan Lim Hwa di Persimpangan
Lima konteks sejarah-sastra Korea kolonial akhir 1930-an untuk memahami puisi «Hyeonhaetan» Lim Hwa 1938.
Pagera Editorial
Latar 1938: Kumpulan Puisi «Hyeonhaetan», KAPF Pasca-Pembubaran, dan Lim Hwa di Persimpangan
Untuk memahami «Hyeonhaetan» (현해탄, 1938) karya Lim Hwa, pembaca perlu menempatkannya dalam lima konteks sejarah-sastra Korea kolonial akhir 1930-an.
1. Kumpulan Puisi «Hyeonhaetan» 1938 Donggwang Seorim
Pada tahun 1938, penerbit Donggwang Seorim (동광서림, Donggwang-seorim) di Seoul mengumumkan penerbitan kumpulan puisi pertama Lim Hwa berjudul «Hyeonhaetan». Buku ini memuat 42 puisi yang ditulis Lim Hwa antara 1929 hingga 1938, dengan «Hyeonhaetan» (puisi judul) menjadi puncak komposisi. Format buku merupakan kumpulan puisi padat (slim volume) khas tahun 1930-an Korea, dicetak dalam aksara Hangul-Hanja campuran.
2. Pasca-Pembubaran KAPF 1935
KAPF (Federasi Seniman Proletar Korea, 조선프롤레타리아예술가동맹, 1925.8.23~1935) dibubarkan secara paksa oleh otoritas kolonial Jepang pada 1935 setelah penangkapan kedua di Jeonju. Lim Hwa, yang menjabat sebagai sekretaris jenderal KAPF (서기장) sejak 1932 setelah mengambil alih dari Park Yeong-hui, menjalani penangkapan kedua pada 1934 dan setelah pembubaran KAPF, dia berpaling ke kritik sastra dan sejarah sastra. Tiga tahun setelah pembubaran KAPF, Lim Hwa menerbitkan «Hyeonhaetan» sebagai pernyataan ketegaran penyair yang tidak menyerah kepada represi kolonial.
3. Selat Genkai sebagai Jalur Korea-Jepang Kolonial
Selat Genkai (玄海灘, Genkai-nada dalam bahasa Jepang) merupakan jalur laut sempit antara Pulau Tsushima (Daema, 대마도) dan Pulau Kyushu Jepang. Sejak Perjanjian Korea-Jepang 1876 (Kanghwa-do Joyak) dan Aneksasi Korea oleh Jepang 1910, Selat Genkai menjadi jalur utama untuk: (1) mahasiswa Korea pergi ke Tokyo Imperial University, Waseda, dan Hosei untuk belajar; (2) buruh Korea pergi ke pertambangan batubara dan pabrik di Osaka, Kyushu, dan Hokkaido; (3) pejuang Korea yang melarikan diri ke Tiongkok melalui rute Tokyo-Manchuria. Pada 1938, lebih dari 1,2 juta orang Korea telah menyeberangi Selat Genkai. Lim Hwa sendiri pergi ke Tokyo pada 1926-1928 untuk belajar puisi modern Jepang dan kembali dengan tekad sosialisme.
4. Sastra Kolonial Akhir 1930-an: Konversi (Jeonhyang) dan Tradisi yang Bertahan
Akhir 1930-an merupakan masa krisis bagi sastra Korea kolonial. Setelah Insiden Manchuria 1931 dan Perang Tiongkok-Jepang 1937, otoritas kolonial mempercepat kebijakan «Naisen Ittai» (Korea-Jepang sebagai Satu Tubuh) dan menekan penulis Korea untuk «berbalik» (jeonhyang, 轉向) dari sosialisme menuju kolaborasi Jepang. Banyak mantan anggota KAPF seperti Park Yeong-hui (1934 mengumumkan «pemuda kembali ke sastra murni») dan Yi Kwang-su (1939 mengumumkan kolaborasi penuh) berbalik. Namun Lim Hwa bertahan, «Hyeonhaetan» 1938 menjadi pernyataan eksplisit penolakan konversi tersebut.
5. Kosakata Era Kolonial yang Dipertahankan
Puisi ini mempertahankan beberapa kosakata era kolonial yang menjadi simbol khas: «Samdeung-seonsil» (삼등선실, kelas tiga kapal) merupakan status sosial buruh dan mahasiswa Korea; «Gwanmun Haehyeop» (관문해협, 關門海峽) adalah nama Korea untuk Selat Shimonoseki Jepang; «oebang-mal» (외방 말, kata-kata orang luar) adalah cara mengelakkan sensor untuk menyebut bahasa Jepang; «sangjang» (喪帳, kain duka hitam) adalah perumpamaan untuk pemakaman; «paebae» (敗北, kekalahan) menggunakan huruf han-ja untuk menekankan kekalahan ideologis. Setiap kosakata ini merupakan jendela ke realitas kolonial yang tidak bisa diucapkan secara langsung.
Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia
Bagi pembaca Muslim Indonesia, latar 1938 mengingatkan pada situasi serupa di Hindia Belanda sebelum Perang Pasifik 1941. Sebagaimana «Kakakku dan Tungku Api» 1929 menggambarkan keluarga yang ditinggalkan saudara mereka di penjara, «Hyeonhaetan» menggambarkan nasib seluruh pemuda yang menyeberang laut untuk belajar atau bekerja di negeri penjajah. Pengalaman ini memiliki paralel dengan pemuda Indonesia yang dikirim ke Belanda untuk pendidikan Hollands-Inlandsche School atau dimobilisasi sebagai romusha pada masa pendudukan Jepang 1942-1945.