Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 5 mnt

Konteks Korea 1948: Pembagian, UNTCOK, dan Pemerintahan Sementara

Lima konteks sejarah untuk memahami pernyataan Kim Gu 10 Februari 1948: pembebasan dan pembagian, tiga tokoh utama, UNTCOK, Gyeongkyojang, dan Konferensi Pyongyang.

Pagera Editorial

Konteks 1948: Korea Terbelah di Ambang Dua Pemerintahan

Lima Konteks Penting

Untuk memahami "Seruan Tangis kepada 30 Juta Saudara Sebangsa" yang diterbitkan Kim Gu pada 10 Februari 1948, lima konteks berikut sangat membantu.

1. Pembebasan dan Pembagian (Agustus-September 1945)

Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan menyerah tanpa syarat. Korea, setelah 35 tahun penjajahan Jepang (1910-1945), tiba-tiba bebas , tetapi tanpa kesiapan administratif. Pada 10 Agustus 1945, dua perwira muda AS , Dean Rusk dan Charles Bonesteel , diberi waktu 30 menit di Pentagon untuk membagi Korea. Mereka melihat peta National Geographic dan memilih Garis 38 Derajat sebagai pembagi sementara, semata-mata karena garis itu membagi semenanjung menjadi dua bagian yang kira-kira seimbang. Uni Soviet menerima usulan ini tanpa keberatan.

Akibatnya:

  • Korea Selatan (di bawah Garis 38) diduduki Komando Militer AS (USAMGIK) di bawah Letnan Jenderal John R. Hodge dari 8 September 1945.
  • Korea Utara (di atas Garis 38) diduduki tentara Soviet di bawah Marsekal Kirill Meretskov sejak Agustus 1945.

Garis 38 Derajat yang awalnya dianggap "sementara untuk administrasi penyerahan Jepang" segera menjadi batas politik yang membelah keluarga, ekonomi, dan kebudayaan Korea. Itulah garis yang Kim Gu sebut "Garis 38" dalam tulisan ini, dan yang ia bersumpah "lebih memilih roboh di atasnya".

2. Pemerintahan Sementara dan Tiga Tokoh (1945-1948)

Pada 23 November 1945, Kim Gu dan elite Pemerintahan Sementara kembali ke Seoul. Pada saat yang sama, dua tokoh lain juga kembali:

  • Syngman Rhee (1875-1965) , kembali dari Hawaii pada 16 Oktober 1945, dengan dukungan langsung AS. Visi: mendirikan pemerintahan Korea Selatan saja jika perlu, dengan posisi presiden.
  • Lyuh Woon-hyung (1886-1947) , pemimpin lokal yang mendirikan Komite Persiapan Kemerdekaan Korea (Joseon Geonguk Junbi Wiwonhoe) sehari sebelum pembebasan 15 Agustus 1945. Dibunuh pada 19 Juli 1947 , kasus pembunuhan yang juga belum sepenuhnya terungkap.

Tiga tokoh ini mewakili tiga visi yang berbeda:

  • Rhee: Korea Selatan tunggal dengan dukungan AS.
  • Lyuh: Persatuan kiri-tengah melintasi Garis 38.
  • Kim Gu: Persatuan kanan-tengah dengan persatuan teritorial mutlak.

Pada 1947, Lyuh sudah dibunuh, dan Rhee bersama Kim Gu , yang sebelumnya bersekutu di Pemerintahan Sementara , mulai berpisah jalan secara final. Tulisan Kim Gu 10 Februari 1948 secara implisit menyerang lini Rhee.

3. Konferensi Komisi Bersama dan UNTCOK (1946-1948)

Pada 1946-1947, Konferensi Komisi Bersama AS-Soviet (Joint Commission) di Seoul gagal mencapai kesepakatan tentang pemerintahan sementara Korea bersatu. Pada September 1947, AS membawa masalah Korea ke Sidang Umum PBB.

Pada 14 November 1947, Sidang Umum PBB mengesahkan Resolusi 112 (II) yang membentuk United Nations Temporary Commission on Korea (UNTCOK / Komisi Sementara PBB untuk Korea). UNTCOK terdiri dari sembilan negara anggota: Australia, Kanada, Tiongkok Nasionalis, El Salvador, Prancis, India, Filipina, Suriah, dan Ukraina (Ukraina menolak ikut). Tugasnya: mengawasi pemilihan umum di seluruh Korea pada awal 1948.

UNTCOK tiba di Seoul pada 8 Januari 1948. Uni Soviet menolak memberikan akses ke Korea Utara. Pada 26 Februari 1948, UNTCOK menyimpulkan bahwa pemilihan hanya bisa dilakukan di wilayah yang dapat diakses , yaitu Korea Selatan saja. Inilah momen krisis yang membuat Kim Gu menulis tulisannya pada 10 Februari 1948.

4. Gyeongkyojang dan Politik Pribadi (1945-1949)

Gyeongkyojang (경교장, 京橋莊) adalah rumah bergaya Eropa milik pengusaha tambang emas Choi Chang-hak, yang dipinjamkan kepada Kim Gu sebagai kediaman pribadi sekaligus markas politik dari November 1945 hingga pembunuhan Kim Gu pada 26 Juni 1949. Bangunan tiga lantai ini terletak di pusat Seoul, dekat Istana Gyeongbokgung.

Gyeongkyojang menjadi simbol unik dalam politik Korea pasca-pembebasan:

  • Lantai 1: Ruang publik dan ruang rapat Pemerintahan Sementara.
  • Lantai 2: Kantor pribadi Kim Gu dan kamar tidurnya.
  • Atap: Bendera Taegeukgi besar berkibar , sengaja menonjol untuk menyatakan bahwa "di sinilah Pemerintahan Sementara Republik Korea berkantor".

Pada 26 Juni 1949 pukul 12.36, di kantor pribadi lantai 2 itulah Kim Gu ditembak mati. Lubang peluru di kursi tempat ia duduk masih dilestarikan hingga kini sebagai museum.

Tulisan "Seruan Tangis" 10 Februari 1948 hampir pasti ditulis di kantor lantai 2 Gyeongkyojang, dan diumumkan ke publik melalui pers dan radio dari ruang publik lantai 1.

5. Konferensi Pemimpin Utara-Selatan dan Pembagian Final (April-September 1948)

Pada 25 Maret 1948, Kim Il-sung dan Kim Du-bong dari Pyongyang mengirim undangan kepada Kim Gu dan Kim Kyu-sik (pemimpin tengah lain dari Selatan) untuk menghadiri Konferensi Bersama Korea Utara dan Selatan di Pyongyang. Pada 19 April 1948, Kim Gu menyeberangi Garis 38 Derajat , perjalanan yang ia sebutkan dalam tulisan 10 Februari sebelumnya: "Saya ingin pergi ke utara Garis 38 selagi masih hidup."

Konferensi berlangsung 19-30 April 1948 di Pyongyang. Hasilnya empat poin: (1) menolak pemilihan tunggal di Selatan, (2) menolak penempatan tetap pasukan asing, (3) menyerukan pemerintahan Korea bersatu, (4) menentang aksi-aksi sepihak. Namun dalam praktiknya, konferensi gagal mengubah arah pembagian.

Pada 10 Mei 1948, pemilihan diadakan hanya di Korea Selatan. Pada 15 Agustus 1948, Republik Korea (Daehan Min-guk) didirikan dengan Syngman Rhee sebagai presiden pertama. Pada 9 September 1948, Republik Rakyat Demokratik Korea (Joseon Minjujuui Inmin Gonghwaguk) didirikan dengan Kim Il-sung sebagai perdana menteri pertama. Dua Korea pun lahir , tepat persis seperti yang Kim Gu dalam tulisan 10 Februari peringatkan akan terjadi.

Bagi Pembaca Muslim Indonesia

Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia: Pembagian Korea 1945-1948 memiliki paralel sejarah dengan pembagian India-Pakistan pada Agustus 1947 yang menggusur sekitar 14 juta orang dan menimbulkan kekerasan massal yang menewaskan ratusan ribu hingga jutaan orang. Indonesia, melalui pengalaman Perang Kemerdekaan 1945-1949 dan KMB Desember 1949, berhasil mempertahankan kesatuan teritorial , pencapaian yang Kim Gu di Korea, sayangnya, tidak mampu raih. Pembaca Muslim Indonesia disarankan menelaah konteks Perang Dingin 1945-1948 secara objektif sebelum menilai keputusan-keputusan politik tokoh-tokoh yang disebut dalam tulisan ini.


Sumber: Wikisource Korea (저자:김구), Encyclopaedia Britannica entries on Korea 1945-1948, dan publikasi resmi Kementerian Patriot dan Veteran Republik Korea.

Kembali ke Pagera