Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 3 mnt

Latar 1921 Mei: Majalah «Changjo» dan Cerpen Modern Korea Pertama «Baettaragi»

Pagera Editorial

Tahun 1921 Mei: Saat Cerpen Modern Korea Lahir

Pada Mei 1921, di nomor ke-9 majalah sastra Changjo (창조, "Penciptaan"), Kim Dong-in (1900~1951) menerbitkan cerpen «Baettaragi». Konteks penerbitan ini berada di persimpangan tiga lapisan sejarah: pasca-Gerakan Kemerdekaan 1 Maret 1919, pendirian majalah sastra modern Korea pertama, dan pengaruh naturalisme Jepang Meiji-akhir yang diserap melalui pengalaman pelajar Korea di Tokyo.

Latar Pertama: Pasca 1 Maret 1919

Gerakan Kemerdekaan 1 Maret 1919 yang memobilisasi sekitar 2 juta rakyat Korea dalam protes damai terhadap pemerintahan kolonial Jepang berakhir dengan penindasan brutal, lebih dari 7.500 tewas, 16.000 terluka, dan 47.000 ditangkap. Setelah itu, Jepang mengubah kebijakan menjadi «pemerintahan budaya» (bunka tochi) yang sedikit melonggarkan sensor terhadap publikasi Korea, membuka peluang bagi majalah sastra seperti Changjo, Kaebyeok (1920), dan Baekjo (1922) untuk muncul.

Latar Kedua: Majalah «Changjo» dan Aliran Tokyo

Majalah Changjo didirikan di Tokyo pada Februari 1919 oleh pelajar Korea: Kim Dong-in, Joo Yo-han, Jeon Yeong-taek, Choi Seung-man, Kim Hwan, dan rekan-rekan. Mereka semua sedang belajar di universitas-universitas Jepang dan terpapar pada gerakan sastra Jepang Meiji-akhir (Mori Ogai, Natsume Soseki) dan naturalisme Eropa (Maupassant, Zola, Hardy).

Moto Changjo adalah «seni untuk seni» (yesul ji sang ju ui) dan «sastra murni» (sunsu munhak), berbeda dengan tradisi pendidikan moralistik Yi Kwang-su yang menggunakan sastra sebagai alat pencerahan bangsa. Bagi Kim Dong-in dan kawan-kawan, sastra adalah seni mandiri, tidak boleh dijadikan instrumen politik atau moral.

Latar Ketiga: Naturalisme dan Frame Narrative

«Baettaragi» menyerap dua teknik dari sastra Eropa-Jepang Meiji-akhir: (1) naturalisme, fokus pada nasib manusia sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dan psikologi tersembunyi (Maupassant «Boule de Suif» 1880, Hardy «Tess of the d'Urbervilles» 1891), dan (2) frame narrative, kisah dalam kisah (Edgar Allan Poe «The Tell-Tale Heart» 1843, Mori Ogai «Maihime» 1890).

Struktur bingkai cerita «Baettaragi» mengambil bentuk: narator orang pertama "saya" duduk di musim semi Pyongyang, bertemu pelaut tua, mendengar kisah hidupnya, lalu pelaut itu pergi tanpa kembali. Teknik ini menjadi pola tetap dalam cerpen Korea generasi berikutnya.

Latar Keempat: Pyongyang dan Lagu Rakyat «Baettaragi»

Pyongyang, kota kelahiran Kim Dong-in, adalah pusat budaya Joseon utara yang memiliki tradisi lagu rakyat sendiri. «Baettaragi» (배따라기, "lagu pelayar") adalah genre lagu rakyat tradisional dari pesisir Provinsi Pyongan, dinyanyikan oleh para pelaut untuk mengungkapkan kerinduan pulang dan perpisahan dengan keluarga. Kim Dong-in mengambil lagu ini sebagai pusat cerpen, sebuah pilihan yang menghubungkan modernisme sastra dengan akar tradisi rakyat.

Latar Kelima: Mokranbong dan Daedonggang

Mokranbong (모란봉, "Puncak Peony") adalah perbukitan di pinggiran kota Pyongyang yang memandang Sungai Daedong. Tempat ini menjadi simbol Pyongyang dan sering dikunjungi sebagai lokasi piknik musim semi. Kim Dong-in mengatur cerpen di musim semi Mokranbong, pemandangan yang familiar bagi pembaca Pyongyang masa itu, tetapi sekaligus menjadi panggung untuk kisah penyesalan yang abadi.

Sungai Daedong dan kuil Gizamyo (기자묘, "Makam Gija") adalah lokasi-lokasi historis Pyongyang yang muncul di cerpen sebagai latar penghibur kontras dengan kisah tragis pelaut. Bait penutup memanggil "semua daun-daun pohon pinus di Gizamyo" untuk menyanyikan baettaragi yang sedih, sebuah teknik personifikasi yang menghubungkan ruang fisik dengan emosi narator.

Baca «Baettaragi» di Pagera | Mengenal Penulis Kim Dong-in

Kembali ke Pagera