Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 3 mnt
Latar Belakang «Giseng» (기생, 1915): Kumpulan Cerpen Modern Pertama Korea dalam Bayang-Bayang Pameran Kolonial: Ahn Guk-seon
Lima latar konteks penting di balik «Giseng» Ahn Guk-seon: «Gongjinhoe» sebagai kumpulan cerpen pertama Korea modern, pameran kolonial 1915 Gyeongseong, tradisi gisaeng Jinju, tiga tokoh perempuan teladan, dan posisi Ahn Guk-seon dalam transisi sastra klasik ke modern.
Pagera Editorial
Lima Latar Konteks «Giseng» (기생, 1915), Ahn Guk-seon
1. «Gongjinhoe», Kumpulan Cerpen Modern Pertama Korea
«Gongjinhoe» (공진회, 共進會, "Pameran Bersama") yang terbit Agustus 1915 di Gyeongseong (Seoul kolonial) memegang posisi sangat penting dalam sejarah sastra Korea: kumpulan cerpen modern pertama yang diterbitkan dalam bentuk buku. Sebelum «Gongjinhoe», sastra Korea didominasi roman klasik panjang dalam aksara hangeul-hanja campuran (gomun-style), atau "shinsoseol" (소설, novel baru) dari era 1900-an seperti karya Yi In-jik «Hyeolui Nu» (혈의 누, 1906). «Gongjinhoe» berbeda karena menggunakan format cerpen pendek modern, mengikuti tradisi naratif Eropa-Amerika abad ke-19 yang mulai diserap melalui Jepang. Aslinya direncanakan lima cerpen, namun yang terbit hanya tiga: «Giseng» (기생), «Inlyeokggun» (인력거꾼, Penarik Becak), dan «Sigol Noin Iyagi» (시골 노인 이야기, Cerita Pak Tua Desa).
2. Pameran Kolonial Gongjinhoe 1915 Gyeongseong
Judul kumpulan cerpen "Gongjinhoe" merujuk langsung pada Pameran Industri Gyeongseong 1915 (조선물산공진회, Joseon Mulsangong Jinhoe), sebuah pameran besar yang diadakan pemerintahan kolonial Jepang dari 11 September hingga 31 Oktober 1915 di kompleks Istana Gyeongbokgung. Tujuan resmi: merayakan "lima tahun keberhasilan modernisasi Joseon" setelah aneksasi Jepang-Korea (1910). Tujuan tersembunyi: melegitimasi kolonialisme Jepang dengan memperlihatkan "kemajuan industri" yang dibawa Jepang ke Korea. Banyak bangunan istana Gyeongbokgung dihancurkan untuk membangun paviliun pameran. Ahn Guk-seon, yang menulis di tengah konteks ini, menggunakan nama "Gongjinhoe" sebagai setting pertemuan tokoh-tokohnya, tidak menyerang langsung, namun meletakkan ironi tajam: pameran "kemajuan" yang justru memperlihatkan luka kolonial.
3. Tradisi Gisaeng Jinju dalam Sejarah Korea
Kota Jinju (진주, Provinsi Gyeongsangnam-do) memiliki tempat khusus dalam tradisi gisaeng Korea. Sejak Dinasti Goryeo (918-1392), Jinju adalah salah satu dari tiga "kota gisaeng" terbesar (bersama Pyongyang dan Seoul). Di awal cerpen, Ahn Guk-seon menulis dengan humor: "Jinju memiliki dua keunggulan terkenal: lalat dan gisaeng. Jumlah lalat dan jumlah gisaeng dibandingkan, gisaeng sedikit lebih banyak, kebohongan yang terdengar seperti kebenaran." Lelucon ini sebenarnya memperlihatkan tradisi panjang Jinju sebagai pusat budaya hiburan tradisional. Gisaeng paling terkenal dari Jinju adalah Non-gae (논개, ~1574-1593), yang nantinya menjadi salah satu teladan Hyang-ungae.
4. Tiga Tokoh Perempuan Teladan: Chunhyang, Chunwun, Non-gae
Tiga teladan yang dipilih Hyang-ungae mengikat tiga era penting dalam tradisi perempuan Korea:
- Chunhyang (춘향, 春香), Tokoh fiksi dalam roman pansori «Chunhyangjeon» dari abad ke-17/18. Putri gisaeng yang menikahi pemuda yangban Yi Mong-ryong, kemudian disiksa gubernur Byeon Hak-do karena menolak menyerahkan kesuciannya. Simbol kesetiaan istri terhadap suami.
- Chunwun (춘운, 春雲), Tokoh dalam novel klasik «Kuunmong» (구운몽, 1687) karya Kim Man-jung. Wanita berbakat sastra dan musik yang menjadi salah satu dari delapan istri tokoh utama Yang So-yu. Simbol perempuan berbakat artistik-intelektual.
- Non-gae (논개, 論介), Gisaeng patriotik Jinju yang pada 1593, di tengah Perang Imjin (Hideyoshi Toyotomi menyerbu Korea), memeluk jenderal Jepang Mōri Yoshinari dan terjun bersamanya dari batu Uiamnu ke Sungai Namgang untuk mengorbankan diri demi bangsa. Simbol kesetiaan patriotik perempuan.
Pilihan Non-gae oleh Hyang-ungae di tahun 1915, di bawah pemerintahan kolonial Jepang, adalah resistensi terselubung. Ahn Guk-seon dengan cerdik menggunakan tokoh sejarah yang mengorbankan diri membunuh jenderal Jepang sebagai teladan tokoh fiksinya.
5. Ahn Guk-seon: Transisi dari Sastra Klasik ke Modern
Ahn Guk-seon (안국선, 1878-1926) adalah figur transisi penting dalam sastra Korea. Sebelum «Gongjinhoe», ia menulis «Geumsu Hoeuirok» (금수회의록, "Rapat Hewan dan Burung", 1908), sebuah satir politik berbentuk fabel yang mendapat pelarangan oleh pemerintah kolonial Jepang. Setelah aneksasi 1910, Ahn beralih ke format cerpen pendek modern dengan «Gongjinhoe». Tiga cerpen dalam «Gongjinhoe» menunjukkan transisi: «Giseng» menggunakan tokoh gisaeng (tradisi klasik) namun dalam format cerpen modern; «Inlyeokggun» (Penarik Becak) menggunakan tokoh kelas pekerja modern; «Sigol Noin Iyagi» (Cerita Pak Tua Desa) menggunakan struktur kisah lisan tradisional. Tiga cerpen, tiga simpang antara tradisi dan modernitas.