Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 3 mnt

Konteks 'Berbagai Rupa Awan' — Esai-Katalog di Tengah Naturalisme Meiji

Tiga aliran sastra Meiji bertemu di esai Rohan: naturalisme Tayama-Tōson, romantisme Sōseki, dan klasisisme Tionghoa. Rohan memilih jalan ketiga melalui botani-puitis.

Pagera Editorial

Konteks 'Berbagai Rupa Awan' — Esai-Katalog di Tengah Naturalisme Meiji

Latar: Meiji Akhir, Awal Taishō

Esai 「雲のいろ/\」 (Kumo no Iro-iro) ditulis pada akhir era Meiji atau awal Taishō (sekitar 1898–1918) — masa ketika Jepang sedang berada di puncak modernisasi. Lokomotif sudah menderu, telegraf sudah menyilangi Pasifik, sekolah Barat sudah didirikan di setiap perfektur. Namun di dalam ruang sastra, sedang berlangsung pergolakan halus.

Tiga Aliran yang Bertemu

Pada masa ini, tiga aliran sastra besar sedang bersaing di Jepang:

1. Naturalisme (自然主義) — Dominan

Dipelopori oleh Tayama Katai, Shimazaki Tōson, Masamune Hakuchō, dan Tokuda Shūsei — aliran ini meminjam dari Zola dan Maupassant, menulis realisme keras tentang kemiskinan, seksualitas, depresi, dan keterasingan modern. Mereka percaya bahwa kebenaran sastra ada dalam kekejaman fakta.

2. Romantisme Klasik — Marginal

Aliran ini menolak naturalisme dan kembali ke estetika klasik. Mori Ōgai menulis "Maihime", Natsume Sōseki menulis "Kusamakura". Bagi mereka, sastra adalah pelarian sekaligus pertanyaan filosofis.

3. Klasisisme Tionghoa (漢学) — Sisa-Sisa

Inilah jalur Kōda Rohan — bersama Lafcadio Hearn dan beberapa lainnya, ia adalah salah satu suara terakhir dari tradisi kanbun (漢文, prosa klasik Tionghoa). Bagi mereka, bahasa Jepang sejati selalu adalah dialog dengan Konfusianisme dan Tao.

Esai Botanis sebagai Bentuk Perlawanan

「雲のいろ/\」 adalah esai-botanis (博物随筆 hakubutsu-zuihitsu) — sebuah genre yang akarnya sampai ke Sei Shōnagon ("Buku Bantal", 994) dan Yoshida Kenkō ("Tsurezuregusa", 1331). Dalam genre ini, penulis tidak menceritakan plot, melainkan mengkatalogkan dunia: nama-nama bunga, jenis-jenis sutra, hari-hari musim, atau, dalam kasus Rohan, nama-nama awan.

Pada zaman ketika novel naturalistik panjang sedang menguasai pasar, Rohan dengan tenang menulis esai 5,500 kata tentang awan. Ini adalah gerakan estetika: pernyataan bahwa sastra masih bisa lambat, hangat, dan terpelajar, tanpa harus menjadi melodramatik tentang kemiskinan atau seksualitas.

Tiga Tradisi yang Dirangkum

Yang luar biasa dari esai ini, Rohan secara bersamaan menggabungkan tiga tradisi:

A. Waka Jepang Klasik

Lebih dari 15 sitiran waka, dari Maharaja Tenji (abad ke-7) hingga waka tak-bertanda zaman Edo. Rohan mengoreksi para penyair ketika dirasa kurang fasih ("waka ini, sebagai karya Pendeta Jichin, kurang fasih") dan memuji ketika tepat ("sungguhlah waka Pendeta Jakuren ini mengesankan").

B. Shi Tiongkok

Sitiran dari Su Dongpo (Song), Du Fu (Tang), dan lima belas baris shi anonim tentang awan. Rohan menerjemahkan tiap baris secara harfiah lalu menambahkan komentar filologisnya.

C. Sumber Rakyat

Kitab perang sekolah Zenryū (全流の兵書), kitab perang keluarga Nōshima (能島家, kelompok bajak laut Setouchi), peribahasa rakyat Tiongkok dan Jepang, sebutan rakyat daerah dari Kaga, Awa, Harima — Rohan menempatkan suara rakyat setara dengan suara penyair istana.

Kebakaran Besar Edo: Satu Catatan Kecil yang Berbicara

Di bagian ke-14, Rohan menyebut bahwa antara 1657 (era Meireki tahun ke-3) hingga 1881 (Meiji 14), Tokyo mengalami 93 kebakaran besar. Dari jumlah ini, kecuali 22-23 kasus, semuanya terjadi ketika awan bergerak ke selatan.

Catatan ini bukan sembarang trivia. Ia adalah kebakaran Meireki yang menghancurkan Edo pada 1657, menelan 100,000+ jiwa — bencana terbesar dalam sejarah Edo. Bahwa Rohan memulai dari tahun ini dalam menghitung kebakaran, adalah penghormatan terhadap memori kolektif kota yang dibangun-kembali-dari-abu.

Membaca dari Indonesia

Untuk pembaca Indonesia, ada dua jendela yang dibuka oleh esai ini:

  1. Bahasa Tionghoa-Jepang-Klasik — bagaimana satu sastrawan menyusun sebelas negeri zaman Chunqiu (Han, Zhao, Chu, Song, Wei, Zhou, Qin, Wei, Qi, Yue, Shu) dalam satu kalimat, masing-masing dengan 'awan-nya' sendiri. Pelajaran tentang bahasa sebagai geografi imajinatif.

  2. Botani-Puitis — bagaimana satu pengamat lambat dapat menyusun 20+ nama awan rakyat yang nyaris hilang, dan dengan demikian menyelamatkan satu lapisan bahasa dari kepunahan. Sebuah ajakan untuk kita juga mendokumentasikan nama-nama daerah kita sendiri sebelum hilang.


Baca esai lengkap di Pagera: Berbagai Rupa Awan oleh Kōda Rohan

Kembali ke Pagera