Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 3 mnt

10 Kutipan Terpilih dari 'Berbagai Rupa Awan' Karya Kōda Rohan

Sepuluh kutipan terpilih dari esai 23-bagian Rohan, dari pembuka tentang awan di selat Nada hingga pernyataan akhir tentang kebijaksanaan-sederhana.

Pagera Editorial

10 Kutipan Terpilih dari 'Berbagai Rupa Awan' Karya Kōda Rohan

Sepuluh kutipan terpilih dari esai 23-bagian Rohan, lengkap dengan konteks dan renungan satu kalimat. Sempurna untuk dibaca sebelum tidur.

1. Tentang Keindahan Yang Tak Terperikan

"Pada malam-malam yang menghubungkan musim panas dengan musim gugur, ada kalanya kita menyaksikan awan dengan keindahan yang tak terperikan. Kebanyakan orang kota tentu tidak mempedulikannya."

Pembuka esai

Renungan: Keindahan tidak pergi; kita yang berhenti melihat.

2. Tentang Awan dari Atas Gunung

"Keindahan awan setelah hujan sesungguhnya patut dilihat dari gunung. Berada di gunung yang rendah pun mungkin belum cukup memuaskan."

Bagian ke-2

Renungan: Sudut pandang yang cukup tinggi mengubah segalanya — dalam alam, dan dalam hidup.

3. Tentang Bandō-Tarō, Awan-Raksasa Tokyo

"Suasananya seakan-akan baru hendak bergerak; sungguh menyerupai pasukan yang setelah satu kekalahan bersumpah mati, semuanya membungkam ke dalam — namun di dalamnya berdesak-desak gelora-pembunuhan yang tak terbendung."

Bagian ke-3, tentang awan-hujan-petir musim panas

Renungan: Yang tampak diam seringkali adalah yang paling bersedia bergerak.

4. Tentang Para Penyair Kuno

"Sungguh, penyair-penyair kuno tidak boleh diremehkan. Justru lebih jujur daripada orang zaman sekarang dalam menaruh hati pada segala fenomena alam, mereka menggunakan bahan-bahan puisi dari sudut-sudut yang bahkan tak terbayangkan oleh kita."

Bagian ke-6, tentang awan-tambah-air

Renungan: Modernitas mengajarkan kita mengabaikan dunia kecil — orang-orang lama tidak demikian.

5. Tentang Kerapuhan Dunia

"Awan ada-tiada (ありなし雲) yang tersebar oleh angin, menghanyut di langit luas — barangkali begitulah dunia ini."

Bagian ke-8, mengutip waka Pendeta Jakuren

Renungan: Kefanaan adalah ajaran tertua di Asia — dan masih relevan setiap hari.

6. Tentang Anak-Anak yang Melihat Awan

"Bahwa anak-anak kecil menunjuk awan itu sambil berkata, 'Itu pertanda ikan iwashi akan banyak tertangkap!' — itu pun lucu mengesankan."

Bagian ke-9, tentang awan ikan-sarden

Renungan: Sains rakyat dan keceriaan anak-anak; dua cara yang sama benarnya untuk memahami dunia.

7. Tentang Penerjemahan dan Makna

"Bahwa mudah menerjemahkan kata-kata, tetapi sulit menyampaikan makna — karena hal-hal seperti inilah banyaknya."

Bagian ke-13, tentang peribahasa awan Tiongkok yang berbeda dari Jepang

Renungan: Inilah manifesto seorang penerjemah — tahu bahasa adalah satu hal; tahu dunia di balik bahasa adalah hal yang sangat lain.

8. Tentang Kata-Kata yang Tepat

"Bahwa kata-kata teduh sangat baik — itu memang benar; tetapi kata-kata yang teguh-sesuai dengan kenyataan, itulah yang sungguh sangat baik."

Bagian ke-15, tentang waka yang menggunakan 'awan yang gentar'

Renungan: Bahasa yang berani seringkali lebih dibutuhkan daripada bahasa yang halus.

9. Tentang Tidur di Tengah Awan

"Sekalipun tidur di tengah awan putih, mimpiku tetap pergi keluar gunung menuju keramaian-debu dunia."

Bagian ke-19, kanshi gubahan Rohan sendiri

Renungan: Pelarian fisik ke gunung tidak menjamin pelarian batin dari dunia — pertanyaan zen yang selalu hidup.

10. Tentang Kesederhanaan Akhir

"Apa gunanya awan lima-warna? Langit yang biru itu memuaskan; awan yang putih itulah anggun-lembut."

Bagian akhir esai

Renungan: Setelah 23 bagian penuh pembelajaran rumit tentang nama-nama awan, Rohan kembali ke pernyataan paling sederhana. Inilah kebijaksanaan-yang-tiba-kembali — tahu banyak, lalu memilih sedikit.


Baca esai lengkap di Pagera: Berbagai Rupa Awan oleh Kōda Rohan

Kembali ke Pagera