Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 6 mnt

Dazai Osamu di Pengungsian Tsugaru — Wajah Lain Sang Sastrawan Tragis (1944–1945)

Profil Dazai Osamu pada masa pengungsiannya ke kampung halaman Tsugaru di tengah perang Pasifik 1944–1945. Wajah yang kering, sinis, dan lucu — berbeda dari sisi tragis yang dikenal pembaca lewat 'Gagal Menjadi Manusia' dan 'Matahari Terbenam'. Sketsa-sketsa Tsugaru ini menunjukkan Dazai sebagai pelawak kelas tinggi sastra Jepang masa perang.

Pagera Editorial

Sastrawan yang Berdiri di Antara Dua Wajah

Dazai Osamu (太宰治, lahir Tsushima Shūji 1909–1948) adalah salah satu nama paling kuat dalam sastra Jepang abad ke-20. Kebanyakan pembaca mengenalnya melalui dua wajah:

  • Wajah tragis: pengarang Ningen Shikkaku ("Gagal Menjadi Manusia", 1948) — sebuah memoir fiksional tentang kegagalan moral seorang lelaki yang berakhir dengan bunuh diri penulisnya bersama kekasihnya di sungai Tamagawa, hanya beberapa bulan setelah karya itu selesai.
  • Wajah polemis: penulis surat terbuka pedas Kawabata Yasunari e (川端康成へ, "Untuk Kawabata Yasunari", 1935) — di mana Dazai muda yang baru saja kehilangan nominasi Hadiah Akutagawa membombardir juri Kawabata dengan tuduhan moralis dan analisis diri ala Dostoevsky.

Tetapi ada juga wajah ketiga — wajah yang sering terlupakan: Dazai sebagai pelawak satir masa perang. Sketsa pendek Yannuru kana (やんぬる哉, "Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan", sekitar 1944–1945) adalah salah satu contoh terbaik dari wajah ketiga ini.

Dazai dan Tsugaru: Hubungan yang Rumit

Untuk memahami Dazai di masa Tsugaru, perlu diingat bahwa Tsugaru bukanlah sekadar daerah pengungsian — itu adalah kampung halamannya yang ia hindari sepanjang masa dewasanya.

Dazai lahir di kota kecil Kanagi (sekarang bagian dari Goshogawara, Prefektur Aomori) — putra keenam dari sebuah keluarga jinushi (tuan tanah besar) yang sangat kaya dan terkenal. Ayahnya, Tsushima Genemon, adalah salah satu pemilik tanah terbesar di Tsugaru dan pernah menjadi anggota House of Peers (badan parlemen lama Jepang). Rumah keluarga Tsushima — kini disebut Shayō-kan (斜陽館), diambil dari judul novel Dazai Shayō) — adalah salah satu rumah kayu privat terbesar di Jepang utara.

Dazai dewasa berusaha keras untuk menjauh dari status jinushi ini. Ia bergabung dengan gerakan komunis ilegal selama studi di Universitas Tokyo, menolak hak warisnya berulang kali, mencoba bunuh diri bersama seorang wanita di Kamakura (1930), dan kemudian membangun karier sastra di Tokyo — semuanya sebagai upaya untuk menjadi sastrawan kota dan bukan anak tuan tanah desa.

Tetapi pada 1944–1945, ketika pengeboman udara B-29 mulai memuncak di Tokyo, Dazai dipaksa untuk mengungsi ke Tsugaru bersama istri Michiko dan anak-anaknya. Ia tinggal di rumah keluarga besar yang ia hindari sepanjang masa dewasanya — sebuah ironi yang nyaris terlalu sempurna.

Sketsa Tsugaru: Sebuah Sastra Pengungsian yang Khas

Periode pengungsian Tsugaru ini menghasilkan beberapa karya Dazai yang paling unik:

  • Tsugaru (津軽, 1944) — sebuah memoir perjalanan panjang di kampung halamannya, di mana sang penulis kembali ke tanah ayahnya setelah lebih dari sepuluh tahun absen.
  • Otogi-zōshi (お伽草紙, 1945) — kumpulan dongeng tradisional Jepang yang ditulis ulang dengan sentuhan modern dan ironis.
  • Sketsa-sketsa pendek seperti Yannuru kana (1944–1945) — potongan-potongan satir kehidupan sehari-hari kota kecil di masa perang.

Karya-karya periode ini punya nada yang berbeda dari sebelumnya. Wajah self-loathing yang khas Dazai tetap ada, tetapi kini disertai oleh humor yang lebih dingin dan sinis — mungkin satu-satunya saat dalam karier Dazai di mana sang sastrawan benar-benar berhasil tersenyum sambil menggigit.

'Yannuru kana' — Sebuah Sketsa Satir Khas Periode Tsugaru

Yannuru kana adalah salah satu contoh sempurna dari gaya satir Dazai periode Tsugaru. Sketsa ini memuat semua elemen khasnya:

1. Narator Dazai yang muncul sebagai "aku" — sastrawan terkenal yang dipaksa berinteraksi dengan kaum intelektual desa yang merasa sederajat dengannya. Sang dokter dalam cerita — yang mengaku-aku sebagai teman sekolah menengahnya — adalah jenis "snob desa" yang Dazai paling muak di dalam kehidupan pengungsian.

2. Detail-detail masa perang yang sangat spesifik dan presisi: sider apel jatah ransum (配給のリンゴ酒), kabayaki ikan lele sebagai pengganti belut, ochoko sebesar bidal, dotera dingin musim, dan monpe (celana wartime wanita). Semua ini adalah pencatatan jujur kondisi material masyarakat Jepang masa perang yang kelangkaannya sungguh-sungguh.

3. Monolog parodik panjang — keseluruhan paragraf 21 (satu paragraf!) adalah pidato dokter tentang "kreativitas dan akal" istrinya yang berlangsung selama hampir dua jam, dengan Dazai sang narator hanya bisa mengangguk diam dan secara internal bertanya-tanya betapa absurd semuanya. Frasa "kreativitas dan akal" (創意工夫) muncul tujuh kali di sepanjang sketsa — sebuah pengulangan obsesif yang khas Dazai sebagai pengarang yang sangat sadar terhadap retorika klise.

4. Pengakuan diam-diam akan kehidupan kota (paragraf 22): Dazai sang narator tiba-tiba teringat akan kedai yakitori pinggir jalan di Ogikubo, Tokyo — dan ingin "sepuasnya, dengan suara keras, memaki segenap snob dunia." Tetapi ia tahu itu tidak mungkin di masa perang. Maka ia hanya "tersenyum, berdiri, dan menyampaikan ucapan terima kasih beserta basa-basi."

5. Penutup satu kalimat yang menghancurkan semua idealisme. Ketika di akhir Dazai melihat istri sang dokter — yang sudah dipuji sebagai dewi kreativitas dan akal selama dua jam — berjalan terhuyung dengan tiga labu di punggung dan keringat bercucuran, ia menutup sketsa dengan seruan klasik kanbun: "Yannuru kana. Itulah, dengan kata lain, kepulangan sang istri." (已矣哉。それが、すなわち、細君御帰宅。)

Dazai sebagai Pelawak Tinggi Sastra Jepang

Dalam sastra Jepang modern, sangat sedikit sastrawan yang berhasil menjadi pelawak kelas tinggi sekaligus penulis serius. Natsume Sōseki memiliki beberapa sketsa lucu seperti Wagahai wa Neko de Aru ("Aku Adalah Kucing"), tetapi pada akhirnya gaya Sōseki tetap intelektual. Akutagawa Ryūnosuke punya cerpen-cerpen yang ironis tetapi jarang yang benar-benar lucu. Bahkan Dazai sendiri, dalam karya-karya terkenal seperti Ningen Shikkaku dan Shayō, lebih dikenang sebagai pengarang tragedi pribadi.

Tetapi Yannuru kana, beserta sketsa-sketsa pendek lain dari periode Tsugaru, mengungkapkan dimensi Dazai yang sangat lucu dengan cara yang sangat sastra. Humor Dazai bukanlah humor anekdotal atau humor situasi sederhana — ini adalah humor diksi, humor register, humor pengulangan obsesif. Kontras antara register tinggi (frasa kanbun Yannuru kana, suara santun dokter) dengan kenyataan rendah (ikan lele murahan, monpe ditambal, tiga labu di punggung ibu petani) adalah seni komedi yang membutuhkan kepekaan sastra paling tinggi.

Bacaan Lanjutan

Bagi pembaca yang baru saja menemukan sisi humor Dazai melalui Yannuru kana, beberapa karya rekomendasi:

  • Otogi-zōshi (お伽草紙, 1945) — kumpulan dongeng tradisional Jepang yang ditulis ulang dengan sentuhan modern dan ironis.
  • Hashire Merosu (走れメロス, "Berlarilah, Melos!", 1940) — cerpen pendek yang sering masuk dalam buku ajar sekolah Jepang, dengan nada hangat dan inspiratif (kontras dari kebanyakan karya Dazai).
  • Untuk Kawabata Yasunari (川端康成へ, 1935) — sudah tersedia dalam bahasa Indonesia di Pagera. Surat terbuka satir-polemis seorang Dazai muda yang penuh kemarahan.

Baca "Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan" di Pagera

Kembali ke Pagera