Ringkasan · 2026-05-13 · Waktu baca ~ 6 mnt
Ringkasan 'Di Bawah Pohon Pandanus' (章魚木の下で) karya Nakajima Atsushi — Esai Akhir Sastrawan tentang Sastra dan Perang
Esai pendek karya Nakajima Atsushi (1942), ditulis beberapa bulan sebelum kematiannya yang prematur akibat asma. Setelah setahun lebih bertugas di Kepulauan Selatan (Nan'yō Guntō, mandat Jepang di Mikronesia), sang sastrawan kembali ke Tokyo dan menyadari betapa terasingnya pemikirannya dari dunia sastra perang. Renungan jujur tentang manfaat sastra di masa darurat, dengan keberanian untuk meletakkan pena ketika sastra tidak datang sendiri.
Pagera Editorial
Pengantar: Nakajima Atsushi dan Wahyu di Pulau Pandanus
Nakajima Atsushi (中島敦, 1909–1942) adalah salah satu suara sastra Jepang paling unik dari era Showa awal. Dalam hidupnya yang singkat — hanya 33 tahun, dipotong oleh asma akut — ia berhasil menciptakan beberapa cerpen yang menjadi klasik tak tergantikan: Sangetsuki (山月記, "Sajak Rembulan di Atas Gunung"), Yofunroku (妖氛録, "Catatan Hawa Gaib"), dan Riryō (李陵). Karya-karyanya yang berakar pada sastra klasik Tiongkok dan ditulis dalam gaya kanbun (漢文調) yang padat dan berjarak telah memberi sastra Jepang modern salah satu rahangnya yang paling tajam.
Takonoki no Shita de (章魚木の下で, "Di Bawah Pohon Pandanus") adalah salah satu esai pendek terakhir Nakajima — ditulis pada 1942, beberapa bulan sebelum kematiannya pada Desember tahun yang sama. Berbeda dengan cerpen-cerpennya yang lebih terkenal, ini bukan fiksi melainkan refleksi langsung sang sastrawan tentang pengalaman pribadinya yang baru saja berakhir: setahun lebih bekerja sebagai pegawai pemerintah Jepang di Kepulauan Selatan (Nan'yō Guntō) — yaitu wilayah mandat Jepang di Mikronesia (sekarang Palau, Yap, Pohnpei, Chuuk, Marshall Islands, dan Mariana Utara) yang berlangsung dari 1919 hingga 1945.
Nakajima dikirim ke kepulauan tersebut pada Juni 1941 sebagai pejabat pendidikan yang membuat buku ajar bahasa Jepang untuk penduduk asli. Selama satu tahun lebih ia tinggal di antara penduduk pulau yang sebagian besar Mikronesia, di antara hutan tropis dan pohon Pandanus — sebatang pohon ikonik Pasifik dengan akar gantung dan daun-daun seperti pedang yang panjang. Pada pertengahan 1942 ia kembali ke Tokyo. Inilah esai yang ia tulis tak lama setelah kepulangannya itu, sebagai upaya jujur untuk memahami betapa terasingnya pemikirannya menjadi setelah satu tahun di "pulau Pohon Pandanus".
Ringkasan Cerita
Esai dibuka dengan deskripsi singkat sang sastrawan tentang masa pelayanannya di Kepulauan Selatan. Selama berada di sana, ia tidak pernah membaca surat kabar maupun majalah dari daratan utama Jepang. Sastra hampir sepenuhnya terlupakan. Di tengah masa itu, perang Pasifik pecah (Desember 1941) — namun bahkan kabar perang pun terasa jauh, dan pemikiran tentang sastra makin lama makin menjauh dari kesadarannya.
Setelah beberapa bulan kemudian kembali ke Tokyo, kontras yang ditemuinya begitu mencolok sehingga ia "benar-benar tercengang". Bukan hanya iklim yang berubah dari tropis ke dingin musim semi Tokyo, tetapi seluruh atmosfer intelektual berubah serentak. Tumpukan buku-buku menggunung di toko-toko, gairah diskusi sastra, debat tentang peran sastrawan di masa perang — semua itu terasa asing baginya. Ia mendapati dirinya kesulitan mengikuti diskusi: ia tidak memiliki pengetahuan dasar tentang keadaan dunia sastra, ia tidak mengenal beberapa istilah dan kata kunci yang seharusnya ia ketahui, dan secara psikologis maupun logis ia telah menjadi terlalu "serampangan dan sederhana" — manusia yang kehilangan ketajaman intelektualnya.
Nakajima menamai keadaan ini Nan'yō boke — kelinglungan setelah lama tinggal di Selatan. Suatu kondisi semi-melankolis di mana pikiran menjadi mati rasa terhadap kehidupan daratan utama, dan butuh waktu lama untuk pulih kembali ke ketajaman lama.
Tema dan Simbolisme
Inti esai ini adalah pertanyaan moral yang dihadapi Nakajima setelah kembali: apakah sastra bisa berguna untuk perang? Ia mengaku, secara mengejutkan, bahwa di pulau Pohon Pandanus ia tidak pernah memikirkan pertanyaan ini. "Perang adalah perang, sastra adalah sastra. Saya menganggap keduanya sebagai hal yang sepenuhnya terpisah," tulisnya. Tugas praktis yang dibebankan kepadanya saat itu adalah hal yang paling mendesak — membuat buku ajar untuk penduduk asli — dan ia tidak punya waktu untuk memikirkan apakah sastranya berkontribusi pada tujuan negara.
Setelah kembali ke Tokyo, ia menyadari bahwa pertanyaan ini ternyata adalah perdebatan utama di kalangan sastrawan Jepang. Banyak sastrawan menulis tentang bagaimana sastra harus berkontribusi: melalui gerakan pencerahan budaya, uraian karya klasik, tulisan reportase. Nakajima jujur mengakui bahwa di pulau Pandanus, "sungguh ceroboh sekali" ia tidak pernah sampai memikirkannya.
Namun di sini esai mengambil belokan yang khas Nakajima — sebuah penolakan yang hati-hati terhadap pemikiran instrumental. Kalau sastra memang punya manfaat di masa perang, ujarnya, manfaat itu agaknya terletak pada perannya sebagai semacam pengawet (antiseptik) terhadap dua sifat berbahaya yang justru cenderung terabaikan di zaman seperti ini:
"Sifat keras di luar namun lemah di dalam (gaikō naijū) kita sendiri — atau, sifat penghindar pemikiran (shikō kihi) yang tersembunyi di balik permukaan yang tampak penuh semangat."
Dua frasa kanbun ini adalah inti kritis Nakajima terhadap masyarakat Jepang masa perang. Gaikō naijū — bersikap keras dan disiplin di permukaan, namun rapuh dan tidak teguh di dalam. Shikō kihi — menghindari pemikiran kritis di balik fasad semangat patriotik yang berlebihan. Nakajima menyiratkan, dengan kehati-hatian seorang sastrawan yang masih hidup di bawah sensor wartime, bahwa peran sastra mungkin justru menjaga kita dari penyakit-penyakit jiwa kolektif ini.
Konteks Sastra: Keberanian Meletakkan Pena
Esai berakhir dengan sebuah usulan moral yang berani — dan, dilihat dari konteks masa perang yang sangat menekankan dukungan sastrawan pada negara, juga sedikit berbahaya. Nakajima menyarankan bahwa sastrawan yang sudah tidak bisa menulis lagi, atau yang merasa cemas terhadap karyanya sendiri, tidak perlu memaksakan diri untuk tetap terpaku di ruang kerja:
"Pada saat tenaga manusia sedang kurang seperti ini, ada baiknya bila mereka meletakkan pena dan menerjuni pekerjaan praktis dalam bentuk apa pun. Saya kira hal itu pun akan baik bagi sastra maupun bagi negara."
Inilah usulan yang khas Nakajima: bukan pengabdian total sastra kepada negara, tetapi keberanian untuk meletakkan pena ketika sastra tidak datang sendiri. Filosofinya: "Berbeda dengan makanan dan pakaian, sastra tidak membutuhkan barang pengganti. Kalau tidak bisa terbentuk, biarkan tidak terbentuk, lalu tidak ada cara lain selain menunggu sampai yang asli muncul." Inilah pernyataan moral seorang sastrawan yang menempatkan sastra di tempat yang sangat tinggi — terlalu tinggi untuk dipakai sebagai poster propaganda, terlalu tinggi untuk diganti dengan tiruan.
Esai ditutup dengan refleksi diri yang penuh kerendahan hati: ketegasan pemisahan antara perang dan sastra yang ia praktikkan di pulau Pandanus, ujarnya, "hampir menggelikan". Namun bahkan setelah kembali ke "kota bunga" (sebutan puitis untuk Tokyo), kecenderungan itu sepertinya tidak akan mudah berubah. Kalimat terakhir esai ini — yang berfungsi sebagai pengakuan jujur dan sedikit senyum getir — adalah salah satu kalimat Nakajima yang paling khas: "Mungkin Nan'yō boke saya belum hilang juga."
Bagi pembaca Indonesia abad ke-21, esai ini terasa sangat relevan di luar konteks Jepang masa perangnya. Dalam masa-masa ketika ada tekanan kuat agar seni dan sastra "berguna" untuk tujuan politik tertentu, posisi Nakajima — bahwa sastra dijunjung justru karena tidak boleh dipakai sebagai pengganti aksi nyata, dan justru karena terlalu tinggi untuk ditiru dengan poster — tetap menjadi pernyataan moral yang menggetarkan.
Baca Teks Lengkapnya di Pagera
Di Bawah Pohon Pandanus adalah salah satu dokumen terakhir dari Nakajima Atsushi — ditulis hanya beberapa bulan sebelum kematiannya pada Desember 1942. Esai pendek ini — kurang dari tiga ribu kata — membawa serta seluruh kompleksitas moral seorang sastrawan yang menolak baik pengabdian total maupun ketidakpedulian total, dan justru memilih keberanian untuk meletakkan pena. Sebuah dokumen langka dari sastra Jepang masa perang yang berbicara kepada pembaca abad ke-21 dengan kejujuran yang nyaris tak tertandingi.