Ringkasan · 2026-05-13 · Waktu baca ~ 5 mnt
Ringkasan 'Dua Pejabat' (二人の役人) karya Miyazawa Kenji — Dua Anak yang Memergoki Penipuan Birokrat
Cerpen klasik karya Miyazawa Kenji: dua bocah sekolah dasar di padang Tōhoku Jepang memergoki dua pejabat pemerintah yang diam-diam menaburkan biji berangan palsu dan menyusun taman jamur palsu untuk menyenangkan Gubernur Tōhoku yang akan datang. Satire halus tentang kemunafikan birokrasi dan kepolosan masa kanak-kanak — sastra Jepang Taishō terbaik dalam terjemahan Indonesia di Pagera.
Pagera Editorial
Pengantar: Miyazawa Kenji dan Padang Tōhoku
Miyazawa Kenji (宮沢賢治, 1896–1933) adalah salah satu suara paling unik dalam sastra Jepang modern — penyair, pendongeng, ahli pertanian, dan guru sekolah desa di wilayah Tōhoku. Hidupnya yang singkat (37 tahun) menghasilkan karya prosa dan puisi yang penuh dengan padang rumput, sungai gunung, hewan-hewan yang bicara, dan kerinduan moral yang mendalam. Karya-karya seperti Yodaka no Hoshi (Bintang Yodaka), Chumon no Ōi Ryōriten (Restoran Pesanan Banyak), dan Ginga Tetsudō no Yoru (Malam di Kereta Galaksi) telah menjadi klasik sastra anak-anak yang dibaca pembaca dewasa.
Futari no Yakunin (二人の役人, "Dua Pejabat") adalah salah satu cerpen pendek Miyazawa yang ditulis sekitar 1921–1923 — masa akhir era Taishō (1912–1926) ketika modernisasi Jepang baru tiba di pedesaan Tōhoku dan birokrasi pemerintahan mulai menyentuh sudut-sudut terpencil. Cerpen ini, walau hanya sekitar lima ribu kata, menyajikan satu satire halus tentang birokrasi yang berkesan dalam dan jenaka pada saat bersamaan.
Latar cerita: padang Kazaho — padang rumput fiktif di pedesaan Tōhoku, kemungkinan terinspirasi dari Iwate, kampung halaman Miyazawa.
Ringkasan Cerita
Suatu Minggu akhir September, dua bocah kelas 5 sekolah dasar — narator dan teman karibnya Fujiwara Keijirō — pergi mencari jamur hatsutake dan berangan di padang Kazaho. Di pintu masuk padang, mereka menemukan papan pengumuman: "Hari ini, sehubungan dengan kunjungan rombongan Gubernur Tōhoku, dilarang memasuki kawasan ini mulai dari titik ini."
Keijirō berkeras: "Padang ini milik Yang Mulia Kaisar (Tenshi-sama), bukan milik kepala polisi atau siapa-siapa!" Mereka pun menyusup masuk dan bersembunyi di rumpun pohon han di Terabayashi — "hutan kuil," tempat terindah di padang itu, dikelilingi pohon han yang membentuk lingkaran sempurna.
Mereka pun melihat dua pejabat — satu mengenakan seragam berdiri navy, satu lagi setelan jas hitam — datang tergesa-gesa membawa kantung kain. Anak-anak yang ketakutan menyembunyikan keranjang jamur mereka, menyangka akan ditangkap dan diikat. Tapi para pejabat itu sama sekali tidak memperhatikan mereka. Mereka berdiri tegak, membuka tali simpul kantung, dan...
"Bara-bara — bara-bara." Suara biji berjatuhan terdengar dari kantung mereka. Anak-anak mengintip dari balik rumput kaya. Para pejabat itu sedang menabur tepung Amerika — atau lebih tepatnya, biji berangan palsu — di dasar pepohonan. Sebentar kemudian, salah seorang berteriak panik:
"Wah, gawat, ini pohon han, bukan pohon berangan! Kalau biji berangan ditemukan di pohon yang salah, ketahuan kita semua!"
Pejabat satunya menjawab dengan tenang: "Tidak apa-apa, kalau ditanya dari mana asalnya, bilang saja tertiup angin."
Tema dan Simbolisme
Setelah anak-anak ketahuan, para pejabat memutar siasat: alih-alih mengusir mereka, mereka justru meminta bantuan. "Pesta Gubernur akan membawa enam anggota keluarga. Tiga jamur saja tidak cukup. Cari yang banyak, kami beri imbalan."
Yang lucu — dan tragis sekaligus — adalah bagaimana Miyazawa menyusun adegan tersebut. Anak-anak yang awalnya ketakutan akan diikat, kini malah ikut serta membantu memalsukan pemandangan alam: para pejabat itu, dengan satu lembar rumput kaya sebagai tusuk, menancapkan jamur-jamur dari keranjang anak-anak ke tanah, menciptakan "taman jamur palsu" yang mereka rasa sangat indah — namun bagi anak-anak, tampak aneh dan miring-miring.
Inilah satire Miyazawa yang halus: dua pejabat — perwakilan negara modern, pelaksana administrasi Yang Mulia Kaisar — sedang mencurahkan tenaga dan akal demi menipu seorang gubernur. Dan demi penipuan kecil ini, mereka harus melibatkan anak-anak yang awalnya mereka maksudkan untuk diusir. Modernitas, dalam pandangan Miyazawa, ternyata bukan tentang efisiensi atau keadilan — tetapi tentang penyusunan permukaan yang rapi untuk dipandang dari atas.
Dan kemudian, terdengar percakapan pelan dari kejauhan: "Ah, sebaiknya jamurnya kita ambil lagi. Kalau ketahuan, bahaya. Kita simpan, lalu bilang kita yang memetiknya sendiri — berikan saja ke Nona muda (putri Gubernur). Itu lebih aman."
Anak-anak saling berpandangan, lalu tertawa terbahak — dan langsung berlari ke arah berlawanan.
Konteks Sastra: Warisan Miyazawa Kenji
Cerpen ini ditutup dengan satu kalimat ringan yang berbobot moral besar:
"Di tahun berikutnya kami masuk sekolah menengah di kota, dan sesekali kami berpapasan dengan kedua pejabat itu. Mereka memutar tongkat, atau membawa bungkusan, atau berteriak mabuk karena anggur di pacuan kuda — wajah mereka memerah. Kami tentu saja masih ingat dengan jelas. Namun dari pihak mereka, selalu saja ada ekspresi seolah berkata, 'Sepertinya pernah melihat anak-anak ini, tapi tidak bisa ingat di mana...'"
Inilah inti satire Miyazawa: kekuasaan tidak hanya menipu rakyatnya, ia juga lupa pada apa yang ia lakukan. Anak-anak yang menyaksikan kepalsuan birokrasi tetap mengingat dengan jelas — sementara para birokrat sendiri telah membuang ingatan itu, seolah peristiwa itu tak pernah ada.
Cerpen ini lahir di masa Miyazawa masih mengajar di sekolah pertanian Hanamaki — masa ketika ia sangat dekat dengan anak-anak desa dan paling tajam dalam mengamati kontras antara dunia anak-anak (yang jujur dan utuh) dan dunia orang dewasa (yang penuh penyusunan permukaan). Tema ini akan diulang dalam karya-karyanya yang lain — Donguri to Yamaneko (Biji Pohon Ek dan Kucing Gunung) tentang persidangan absurd di hutan, Yuki Watari (Menyeberangi Salju) tentang anak-anak yang melihat dunia roh — namun jarang sehalus seperti di Futari no Yakunin.
Keistimewaan gaya Miyazawa terletak pada onomatopoeia (kata tiruan bunyi) yang sangat khas: 「ばらっばらっ」 (bara-bara, biji berjatuhan), 「ずんずん」 (zun-zun, makin mendekat), 「ぴたっと」 (pita-tto, berhenti tiba-tiba), 「ぽいっと」 (poi-tto, sekenanya). Suara-suara ini menciptakan ritme yang membuat prosa Miyazawa hampir seperti puisi — tantangan tersendiri bagi penerjemah, karena harus menemukan padanan yang sama-sama hidup di bahasa target.
Di Indonesia, Futari no Yakunin termasuk karya pendek Miyazawa yang masih jarang dikenal pembaca umum. Pagera menghadirkan terjemahan penuh cerpen ini — dengan penjelasan untuk istilah-istilah budaya (tepung Amerika, pohon han, hatsutake, kaya) yang mungkin asing bagi pembaca Indonesia, namun ikon di padang Tōhoku 1920-an.
Baca Teks Lengkapnya di Pagera
Dua Pejabat adalah cerpen yang lucu dan menggetarkan sekaligus: pendek, anak-anak terlibat, namun pertanyaannya tetap tinggal lama setelah cerita ditutup. Kalau dua anak desa yang polos bisa langsung melihat kepalsuan permainan kekuasaan, mengapa para pelaku kekuasaan sendiri tidak pernah berhenti memainkannya?