Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 4 mnt

Penulis: Ahn Guk-seon (안국선, 1878 ~ 1926)

Penulis: Ahn Guk-seon (안국선, 1878 ~ 1926)

Pagera Editorial

Penulis: Ahn Guk-seon (안국선, 1878 – 1926)

Ahn Guk-seon adalah pendiri novel alegoris Korea modern dan salah satu intelektual paling tajam pada masa transisi dari Joseon akhir ke periode kolonial Jepang. Dengan nama pena Cheon-gang (천강), ia menulis hanya beberapa karya prosa, tetapi salah satunya, Geumsu Hoeuirok (1908), menjadi karya pertama yang dilarang terbit oleh pemerintah Jepang di Korea, sekaligus menandai kelahiran satir alegoris dalam sastra Korea modern.

Tujuh Tahap Hidup

1878, Lahir di Anseong, Provinsi Gyeonggi. Anak dari keluarga yangban (bangsawan rendah) provinsi. Mendapat pendidikan klasik Korea dan Konfusianisme dalam masa-masa terakhir kerajaan Joseon yang sedang menghadapi tekanan kolonial Jepang dan Rusia.

1895, Belajar di Jepang, masuk Keio Gijuku. Setelah Perjanjian Shimonoseki 1895, banyak pemuda Korea dikirim belajar ke Jepang. Ahn Guk-seon adalah salah satu dari mereka, bersekolah di Keio Gijuku Tokyo, sekolah yang didirikan oleh Fukuzawa Yukichi dan menjadi pintu masuk modernitas Barat ke Asia Timur. Di sana ia menyerap pemikiran politik modern, sosiologi, dan teori hukum Eropa.

1899, Pulang ke Korea, bergabung dengan Independence Club (독립협회). Independence Club adalah gerakan reformasi politik pertama di Korea, mengusung kebebasan pers, parlemen, dan modernisasi pemerintahan. Ketika klub ini dibubarkan oleh pengadilan Joseon, banyak anggotanya, termasuk Ahn Guk-seon, beralih ke aktivitas pers dan sastra.

1907, Bergabung dengan Daehan Hyeophoe (대한협회). Organisasi politik pengganti Independence Club yang masih dapat beroperasi semi-legal. Ahn aktif menulis artikel dan editorial untuk publikasi internalnya.

1908, Geumsu Hoeuirok diterbitkan oleh Hwangseong Seojeok Johap. Karya alegoris pertama Korea modern. Bentuknya: sidang delapan hewan yang masing-masing menyerang perbuatan manusia. Strukturnya menyerupai novel satir Jepang Kinju Kaigi Jinrui Kogeki (1904) karya Sato Kuratarō, tetapi Ahn menanamkan kritik politik konkret terhadap birokrasi Joseon akhir dan campur tangan Jepang.

1909, Buku dilarang terbit. Pada tahun yang sama dengan pengesahan Hukum Penerbitan oleh kantor Penghuni Tertinggi Jepang (Itō Hirobumi), Geumsu Hoeuirok menjadi karya pertama yang dilarang terbit dan ditarik dari peredaran. Yang dipermasalahkan terutama pidato Rubah (chapter 4) yang dianggap menyerang "mereka yang meminjam kekuatan asing", dan pidato Harimau (chapter 9) yang mengutip Konfusius "tirani lebih ganas dari harimau".

1915, Menerbitkan Gongjinhoe (공진회), kumpulan cerpen pertama Korea. Tiga cerpen, Gisaeng (penari istana), Illyeokga-kkun (penarik becak), dan Shigol Noin Iyagi (kisah orang tua desa), dikumpulkan dalam satu jilid. Ini adalah kumpulan cerpen modern pertama dalam sejarah sastra Korea, mendahului tradisi cerpen Joseon Mundan 1920-an.

1926, Wafat di Korea (di bawah pendudukan Jepang). Catatan biografis pasca-1915 sangat terbatas. Selama 11 tahun terakhir hidupnya, Ahn diketahui menulis beberapa buku hukum dan ekonomi (Minbeop-gwa Sangbeop, Hukum Perdata dan Dagang; Hoesa-ui Jongnyu, Jenis Perseroan), tetapi tidak ada karya sastra baru yang ia terbitkan. Pada 1926, di usia 48 tahun (penanggalan Korea), ia wafat, meninggalkan dua karya yang masing-masing menjadi yang pertama di bidangnya.

Lima Tempat dalam Sejarah Sastra Korea

Ahn Guk-seon menempati lima posisi penting dalam sejarah sastra Korea modern:

  1. Penggagas novel alegoris pertama Korea, Geumsu Hoeuirok 1908 mendahului tradisi dongmul soseol (novel hewan) Korea hingga ke Yong-gwa Yong-ui Daegyeokjeon Shin Chae-ho 1928 dan beyond.

  2. Penulis buku larangan pertama Korea modern, di bawah Hukum Penerbitan Jepang 1909, ini menjadi titik awal sejarah sensor dan perlawanan literer Korea.

  3. Pengarang kumpulan cerpen pertama Korea, Gongjinhoe 1915 mendahului Changjo dan Baekjo tahun 1920-an.

  4. Penyatir kolonial pertama Korea, pidato Rubah dan Harimau dalam Geumsu membuka tradisi sastra perlawanan kolonial yang dilanjutkan oleh Yi Gwang-su, Choe Nam-seon, dan generasi Kapf.

  5. Murid Keio Gijuku angkatan awal Korea, bersama Yi In-jik dan Ch'oe Chae-u, menjadi penghantar modernitas politik Jepang-Eropa ke Korea akhir Joseon.

Konflik Tafsiran

Ahn Guk-seon adalah tokoh yang lebih kompleks daripada kelihatannya. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah aneksasi 1910, ia turut serta dalam administrasi kolonial Korea di tingkat provinsi (sebagai gunsu, kepala distrik di Provinsi Gyeonggi). Beberapa sejarawan menafsirkan ini sebagai "kerja sama pragmatis untuk bertahan hidup", sementara yang lain menganggapnya sebagai kompromi politik yang menodai warisan sastranya. Penilaian akhir tergantung pada konteks Korea kolonial yang sangat sulit, di mana banyak intelektual harus memilih antara pengasingan, perlawanan, atau partisipasi.

Pembaca modern dapat menikmati Geumsu Hoeuirok sebagai satir alegoris pra-aneksasi yang tajam, sambil menyadari bahwa penulisnya, seperti banyak intelektual Korea zaman itu, hidup dalam ironi sejarah yang berlapis.

Untuk Pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, satir alegoris Ahn Guk-seon mengingatkan pada Hikayat Kalilah dan Dimnah versi Melayu, atau lebih dekat lagi pada Hikayat Bayan Budiman, karya-karya di mana hewan berpidato untuk menyentil keburukan manusia. Yang unik dari Geumsu, hewan-hewannya tidak bercerita kepada raja atau anak, melainkan duduk dalam sidang formal seperti dewan rakyat modern, sebuah inovasi struktural yang mencerminkan ide-ide parlementer yang diserap Ahn selama belajar di Keio Gijuku.


Baca buku lengkap di Pagera

Kembali ke Pagera