Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 8 mnt

Hidup di Jepang Masa Perang Pasifik — Latar Sejarah di Balik Sketsa Dazai 'Yannuru kana'

Latar sejarah masa perang Pasifik Jepang (1941–1945) — pengungsian sōkai, sistem jatah ransum (haikyū), pasar gelap (yami), kabayaki ikan lele sebagai pengganti belut, sōba bertepung jagung sebagai pengganti soba, monpe sebagai pakaian wajib wanita. Konteks yang membuat sketsa Dazai terasa hidup dan nyata.

Pagera Editorial

Konteks Sejarah: Perang Pasifik dari Sisi Domestik

Sketsa Dazai Yannuru kana (やんぬる哉, sekitar 1944–1945) terletak di dalam salah satu periode paling kelam dalam sejarah Jepang modern: Perang Pasifik tahap akhir (1944–1945). Bagi pembaca Indonesia abad ke-21 yang mungkin lebih familiar dengan sisi militer perang ini — Pearl Harbor, pertempuran laut di Pasifik, akhirnya bom atom Hiroshima dan Nagasaki — sketsa Dazai membuka jendela ke sisi domestik perang yang sering kurang diceritakan: bagaimana masyarakat biasa Jepang hidup di tengah kelangkaan, pengeboman, dan propaganda.

Sepanjang sketsa, Dazai memasukkan detail-detail spesifik masa perang yang kini hampir terlupakan. Mari kita telusuri konteks sejarah di balik setiap detail tersebut.

Pengungsian (疎開, Sōkai): Mengapa Dazai di Tsugaru?

Salah satu kebijakan paling masif pemerintah Jepang masa perang adalah gerakan pengungsian (sōkai) — pemindahan penduduk kota ke daerah pedesaan untuk menghindari pengeboman B-29. Mulai Juli 1943, pemerintah memaksa pengosongan kawasan padat di Tokyo, Osaka, dan kota-kota industri besar lainnya. Dua kelompok yang diutamakan:

  • Pengungsian sekolah dasar (gakudō sōkai): seluruh anak SD dari kelas 3 hingga 6 dipindahkan secara kolektif ke kuil-kuil dan penginapan pedesaan di provinsi lain — sebuah trauma kolektif generasi yang lahir 1930–1937.
  • Pengungsian keluarga (engo sōkai): keluarga-keluarga dengan kerabat di pedesaan didorong untuk pindah ke kampung halaman mereka, mengosongkan rumah-rumah Tokyo yang akan dihancurkan untuk membuat firebreak (jalur pemisah api untuk mencegah penyebaran kebakaran akibat pengeboman).

Dazai dan istri Michiko, beserta anak-anak mereka, dievakuasi dari Mitaka di pinggiran Tokyo ke kampung halaman Dazai di Kanagi (Tsugaru, Prefektur Aomori) pada Juli 1945. Dazai tinggal di rumah keluarga besar Tsushima — Shayō-kan (斜陽館) — yang sekarang menjadi museum. Periode pengungsian inilah yang menjadi latar belakang sketsa Yannuru kana dan kumpulan dongeng Otogi-zōshi (1945).

Dalam sketsa Dazai, istri pengungsi dari Tokyo yang tinggal di tukang tatami sebelah adalah salah satu dari ribuan keluarga sōkai yang harus beradaptasi dengan kehidupan desa yang asing. Konflik antara pengungsi (sebagai "orang kota yang berpura-pura sederhana") dan penduduk asli desa (sebagai "petani yang baru saja menemukan kekuasaan") adalah salah satu ketegangan sosial paling tajam masa perang Jepang.

Korban Kebakaran (焼け出され, Yakedasare): Pengeboman Tokyo

Frasa yakedasare (焼け出され, "korban kebakaran") yang muncul dalam sketsa Dazai mengacu pada korban langsung pengeboman B-29. Selama 1944–1945, Tokyo dibombardir oleh USAAF lebih dari 100 kali. Yang paling termasyhur adalah Operation Meetinghouse pada malam 9–10 Maret 1945, ketika 334 bomber B-29 menjatuhkan 1.665 ton bom pembakar di pusat Tokyo. Sekitar 100.000 orang tewas dalam satu malam — angka korban tewas tunggal yang lebih besar dari Hiroshima maupun Nagasaki. Lebih dari sejuta orang menjadi yakedasare — kehilangan rumah dan harta dalam semalam.

Para yakedasare inilah yang kemudian mengungsi ke daerah pedesaan, termasuk Tsugaru. Konflik mereka dengan penduduk asli desa adalah inti dari perdebatan dua istri yang diceritakan oleh sang dokter dalam paragraf 21 sketsa Dazai.

Sistem Jatah Ransum (配給, Haikyū)

Haikyū (配給, "distribusi jatah") adalah sistem pengeluaran terkontrol dari bahan-bahan kebutuhan pokok yang berlaku di Jepang sejak 1940 dan diperketat sepanjang perang. Sistem ini berlaku untuk:

  • Beras (米): jatah per orang per hari mulai dari 330g (1941) turun menjadi 297g (1942), lalu 263g (1944). Untuk konteks, konsumsi normal Jepang pra-perang adalah sekitar 500g per orang per hari.
  • Gula (砂糖): 75g per orang per bulan pada 1942, hampir hilang sepenuhnya pada 1945.
  • Minyak goreng (食用油): praktis tidak ada pada 1944–1945.
  • Sake dan minuman alkohol: produksi dibatasi keras, dan sider apel menjadi salah satu pengganti alkohol yang masih bisa diproduksi dari apel lokal.

Frasa haikyū no ringo-shu (配給のリンゴ酒, "sider apel jatah ransum") yang dipakai sang dokter dalam sketsa Dazai adalah penanda spesifik masa pertengahan-akhir perang, ketika alkohol-alkohol biasa sudah tidak tersedia dan rakyat Jepang harus puas dengan sider apel produksi lokal yang kandungan alkoholnya rendah.

Pasar Gelap (闇, Yami) dan Harga Pasar Gelap (闇値段)

Karena sistem haikyū tidak bisa memenuhi kebutuhan riil masyarakat, pasar gelap (yami, harfiah berarti "kegelapan") berkembang pesat. Petani di pedesaan menyimpan sebagian hasil panen mereka secara ilegal dan menjualnya kepada pembeli kota dengan harga yang 5–10 kali lebih tinggi dari harga jatah resmi.

Konflik antara penduduk desa dan pengungsi kota berputar di sekitar isu yami. Pengungsi yang punya uang dari penjualan harta atau pencairan obligasi negara (kōsai) dan asuransi (hoken) membeli makanan dari petani dengan harga pasar gelap. Petani kemudian menjadi kaya mendadak dengan uang dari pengungsi — sebuah keberuntungan finansial yang mengubah dinamika sosial pedesaan Jepang secara permanen.

Inilah inti perdebatan dua istri dalam sketsa Dazai. Istri pengungsi mengeluh bahwa para petani mengambil uang banyak dari mereka sambil "berkata barang seperti ini sama dengan kertas sampah saja — sungguh kualat, di setiap lembar uang ada lambang krisan Kekaisaran." Istri dokter, sebaliknya, menyalahkan para pengungsi karena tidak punya kreativitas dan akal sendiri.

Pengganti Masa Perang: Kabayaki Lele dan Sōba Amerika

Dua detail makanan dalam sketsa Dazai adalah simbol klasik masa perang Jepang:

1. Kabayaki ikan lele (ナマズの蒲焼). Kabayaki adalah teknik memasak tradisional Jepang — daging dipanggang dengan kuas kecap-mirin-gula yang menghasilkan rasa manis-asin dan permukaan mengilap. Kabayaki secara tradisi dibuat dari belut (unagi), salah satu hidangan paling mewah dalam masakan Jepang. Tetapi karena belut menjadi langka di masa perang, substitusi dengan ikan lele (namazu) — ikan air tawar yang dianggap rendahan — menjadi salah satu inovasi sōi kufū yang dipromosikan pemerintah. Hasilnya, tentu saja, tidak setara: Dazai sang narator dengan sinisnya bertanya-tanya "belut macam apa yang dulu pernah dimakan dokter ini" agar sang dokter bisa benar-benar mengatakan kabayaki ikan lele "sama sekali tidak berbeda dengan belut".

2. Sōba Amerika (アメリカソバ). "Soba Amerika" adalah sebutan masa perang untuk soba bertepung jagung — soba yang biasanya dibuat dari tepung buckwheat (sobako) yang asli, kini dicampur atau diganti dengan tepung jagung impor. Nama "Amerika" berasal dari fakta bahwa jagung diperkenalkan dari Amerika dalam jumlah besar pada akhir Meiji dan dianggap sebagai bahan rendah dibanding buckwheat tradisional. Namanya yang ironis (mengingat Jepang sedang berperang melawan Amerika) menjadi salah satu slang masa perang paling sinis.

Monpe (モンペ): Pakaian Wajib Wanita

Frasa monpe (モンペ) yang muncul dalam dialog istri pengungsi (paragraf 21) mengacu pada celana panjang longgar khas wanita Jepang masa perang. Awalnya berupa pakaian kerja petani perempuan Tōhoku, monpe menjadi seragam wajib untuk wanita Jepang di kota mulai 1942 — diharuskan oleh pemerintah untuk efisiensi gerak dalam latihan kebakaran pengeboman dan pekerjaan pabrik perang.

Pakaian tradisional seperti kimono dilarang untuk wanita yang aktif di luar rumah karena terlalu sulit untuk berlari atau bekerja dengan cepat dalam kondisi darurat. Monpe menjadi simbol pengiyaan perempuan kepada perang — dan, secara paradoks, juga simbol kebebasan baru bagi banyak wanita Jepang yang untuk pertama kalinya memakai pakaian yang memungkinkan gerak fisik bebas.

Dalam dialog yang diceritakan istri pengungsi, ada petani yang dengan santainya berkata: "Bagaimana kalau monpe Tuan itu juga?" — sebuah pernyataan yang membuat istri pengungsi "merinding". Konteksnya: petani itu meminta agar istri pengungsi menukar monpe-nya (yang masih layak pakai) dengan beras atau makanan. Bagi pengungsi yang nyaris hanya berbekal pakaian di badan, kehilangan monpe berarti kehilangan satu-satunya celana yang layak.

Wisuke (ウィスケ): Bahasa Slang Masa Perang

Detail kecil yang menonjol di paragraf 22: Dazai sang narator merindukan "yakitori dua sen per tusuk dan satu gelas wisuke sepuluh sen" di Ogikubo, Tokyo. Wisuke adalah slang masa perang untuk wiski (uisukī, ウイスキー dalam katakana standar). Penyingkatan dengan akhiran "-suke" — yang biasanya dipakai dalam nama panggilan akrab untuk lelaki — adalah kebiasaan slang masa perang untuk menyembunyikan asal kata bahasa Inggris ("whiskey") yang resminya seharusnya dijauhi karena dianggap bahasa musuh.

Sepanjang masa perang, pemerintah Jepang mendorong pembersihan bahasa Inggris dari kosakata sehari-hari (tekiseigo seisaku, "kebijakan menjauhi bahasa musuh"). Banyak kata serapan diganti dengan terjemahan kanji buatan: baseball (bēsubōru) menjadi yakyū (野球, "bola lapangan"), strike menjadi yoshi, dan seterusnya. Tetapi untuk kata-kata yang sudah terlanjur familiar seperti wiski, sake bir, dan lain-lain, slang menjadi cara untuk tetap menggunakan kata-kata itu sambil sedikit menyamarkannya.

Dazai menyebut "wisuke" dengan sangat sengaja — sebuah penanda kerinduan terhadap kehidupan urban pra-perang yang penuh dengan kata-kata serapan dari Barat. Wisuke sepuluh sen di Ogikubo adalah simbol seluruh kebebasan kosmopolitan Tokyo 1930-an yang sedang hilang di tahun 1944.

Penutup: Sastra sebagai Catatan Sejarah

Sketsa Dazai Yannuru kana bukan hanya cerita lucu yang berhasil, tetapi juga dokumen sejarah yang sangat berharga. Detail-detail material masa perang — haikyū, yami, kabayaki ikan lele, sōba Amerika, monpe, wisuke — tercatat dengan presisi seorang ahli antropolog kebudayaan. Bagi sejarawan, sketsa ini adalah salah satu sumber primer terbaik tentang realitas keseharian Jepang masa perang akhir.

Bagi pembaca biasa, detail-detail ini bukan rintangan tetapi jembatan menuju masa yang sekarang sudah terlalu jauh untuk dibayangkan. Dazai berhasil menjadikan kelangkaan masa perang terasa hidup melalui detail kecil yang sangat spesifik: sebuah botol sider apel jatah ransum, sebuah cangkir ochoko sebesar bidal, sebuah piring kabayaki lele yang katanya "sama sekali tidak berbeda dengan belut".

Baca "Ah, Sudah Tidak Bisa Diapa-apakan" di Pagera

Kembali ke Pagera