Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 3 mnt

Hadiah Akutagawa 1935: Penghargaan yang Melahirkan Pertengkaran Bersejarah

Hadiah Akutagawa perdana tahun 1935 adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah sastra Jepang modern. Di balik pengumuman pemenangnya tersimpan pertengkaran sengit antara Dazai Osamu dan Kawabata Yasunari yang bergema hingga hari ini.

Pagera Editorial

Untuk memahami Untuk Kawabata Yasunari karya Dazai Osamu, kita perlu memahami tempat dan waktu yang melahirkannya: Jepang 1935, dan Hadiah Akutagawa perdana.

Tahun 1935 adalah tahun yang tidak biasa dalam sejarah sastra Jepang. Di tengah meningkatnya tekanan militerisme dan sensor pemerintah terhadap dunia seni, majalah Bungei Shunju yang didirikan novelis Kikuchi Kan mengumumkan penghargaan sastra baru: Hadiah Akutagawa dan Hadiah Naoki.

Dua penghargaan itu, yang masih diberikan hingga hari ini dua kali setahun, segera menjadi tolok ukur paling bergengsi dalam dunia sastra Jepang.

Mengapa Penghargaan Ini Dinamai Akutagawa?

Akutagawa Ryunosuke (1892-1927) adalah penulis cerpen yang paling dihormati dalam sastra Jepang modern. Pengarangnya mati muda pada 1927 akibat overdosis barbiturat yang disengaja. Dalam surat yang ditinggalkannya, ia menulis: "Aku hidup dalam kegelapan samar yang aneh, dan aku lelah".

Kikuchi Kan, yang mengenal Akutagawa sejak masa kuliah dan mengelola majalah Bungei Shunju, mendirikan penghargaan ini delapan tahun setelah kematian Akutagawa. Tujuannya jelas: menghargai karya sastra pendek terbaik dari penulis-penulis muda berbakat, dalam semangat yang sama dengan karya-karya Akutagawa.

Hadiah Akutagawa Perdana: Nominasi yang Penuh Nama Besar

Untuk edisi perdana yang diumumkan pada 1935, dewan juri mencakup nama-nama besar sastra Jepang waktu itu, di antaranya Kawabata Yasunari, yang kelak menerima Nobel Sastra pada 1968.

Di antara karya yang dinominasikan adalah Bunga Pelawak (Doke no Hana) karya Dazai Osamu, seorang penulis muda berusia dua puluh enam tahun dari Aomori yang mulai dikenal di lingkaran sastra Tokyo. Sahabat Dazai, Dan Kazuo, telah membawa karya itu kepada Kawabata dengan keyakinan bahwa Kawabata akan memahami nilainya.

Penilaian Kawabata dan Api yang Dinyalakannya

Ketika pemenang diumumkan, Bunga Pelawak tidak terpilih. Dalam catatan evaluasinya yang diterbitkan di Bungei Shunju edisi September 1935, Kawabata menulis: "Ada awan yang mengganggu di atas kehidupan pengarang saat ini, sehingga bakat tidak tersalurkan dengan bebas."

Kalimat itu meledak bagai bom di hadapan Dazai. Bukan karena karyanya tidak menang. Itu bisa diterima. Yang tidak bisa diterima adalah cara Kawabata menggunakan kehidupan pribadi Dazai, kemiskinannya, penyakitnya, kekacauan hidupnya, sebagai alasan sastra untuk menolak karyanya.

Dazai sedang dalam pemulihan dari hampir mati akibat peritonitis dan kolaps paru-paru. Ia baru saja mendapat kesepakatan dari kakak lelakinya untuk menerima 50 yen sebulan sebagai syarat terakhir mencoba menjadi penulis. Dan di tengah semua itu, juri paling berpengaruh dalam dunia sastra Jepang menyebut hidupnya sebagai "awan yang mengganggu".

Pertengkaran yang Mencerminkan Dua Dunia

Surat terbuka yang kemudian ditulis Dazai, Untuk Kawabata Yasunari, adalah lebih dari sekadar respons terhadap penilaian satu penghargaan. Ini adalah pertengkaran antara dua cara memahami sastra.

Kawabata mewakili pandangan bahwa karya sastra lahir dari ketenangan dan penguasaan diri. Kehidupan yang kacau menghasilkan karya yang tidak bebas. Kawabata sendiri, meskipun punya masa muda yang tidak mudah, membangun citra penulis yang tenang, bijak, dan jauh dari drama pribadi yang menarik perhatian buruk.

Dazai, sebaliknya, percaya bahwa kehidupan yang kacau adalah bahan bakar yang sah untuk sastra. Bahwa seorang penulis yang hidup di tengah kemiskinan nyata, penyakit nyata, dan tekanan nyata justru memiliki sesuatu yang lebih penting untuk dikatakan daripada penulis yang hidup nyaman dan menonton dari jarak aman.

Hadiah Akutagawa Setelah 1935

Perdebatan itu tidak menghentikan Hadiah Akutagawa. Penghargaan itu terus diberikan dan menjadi salah satu penghargaan sastra paling diikuti di dunia. Setiap kali pemenang diumumkan, seluruh Jepang membicarakannya.

Dazai sendiri, meski tidak pernah memenangkan Hadiah Akutagawa, akhirnya dianggap sebagai salah satu suara sastra terpenting era Showa. Ironisnya, dua penulis yang berseteru pada 1935 itu kini sama-sama dianggap sebagai pilar sastra Jepang modern.

Kawabata menang Nobel pada 1968. Dazai mati pada 1948 dalam keadaan yang persis mencerminkan cara ia menulis: tanpa kompromi, tanpa jarak aman antara hidup dan kata-kata.

Untuk membaca karya-karya dari dunia sastra Jepang era yang sama, tersedia Senja di Kyoto karya Natsume Soseki dan Kisah Air Mancur karya Okamoto Kanoko di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang sejarah Hadiah Akutagawa di Wikipedia Inggris dan tentang Kawabata Yasunari di Wikipedia Indonesia.

Baca Untuk Kawabata Yasunari di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera