Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Alegori Romantik Amerika 1837 – Konteks Sejarah Pencarian Bunga Lili Hawthorne

Konteks sastra dan sejarah Pencarian Bunga Lili (1837): tradisi Romantisisme Amerika, alegori Puritan, gerakan Transcendentalisme, dan posisi Hawthorne di antara Emerson dan Poe.

Pagera Editorial

Untuk memahami Pencarian Bunga Lili (The Lily's Quest) karya Nathaniel Hawthorne sepenuhnya, kita perlu meletakkannya dalam konteksnya: Amerika Serikat tahun 1837, di tengah gelombang Romantisisme yang sedang dalam puncak pertamanya. Cerpen ini bukan hanya sebuah kisah tentang dua orang kekasih; ia adalah jawaban Hawthorne atas pertanyaan besar zamannya tentang apakah manusia bisa mencapai kebahagiaan murni di bumi ini.

Romantisisme Amerika di Tahun 1837

Pada 1837, Amerika Serikat baru berusia enam puluh satu tahun. Negara muda itu sedang membangun identitas budayanya sendiri, terlepas dari tradisi Eropa. Gerakan Romantisisme Amerika, yang berbeda dari Romantisisme Eropa, menaruh kepercayaan besar pada alam sebagai sumber kebenaran moral dan spiritual. Ralph Waldo Emerson, dalam esai terkenalnya Nature (1836) yang terbit setahun sebelum Twice-Told Tales, menyatakan bahwa alam adalah cermin jiwa manusia dan bahwa jiwa yang bersih bisa membaca kebenaran langsung dari pohon dan langit.

Hawthorne tidak sepakat. Bukan secara terbuka dan polemis, melainkan lewat cerita. Dalam Pencarian Bunga Lili, alam digambarkan dengan indah: lembah berbatu dengan anak sungai yang riang, sudut terlindung di kaki bukit dengan warna langit senja. Namun di balik setiap keindahan itu tersimpan kenangan duka manusia. Alam bagi Hawthorne bukan cermin jiwa yang bersih; ia adalah arsip memori kolektif yang menyimpan segala kebaikan dan kejahatan yang pernah terjadi di atasnya.

Tradisi Alegori Puritan yang Diwarisi

Sebelum ada Romantisisme Amerika, ada Puritanisme Salem. Para pendiri koloni Massachusetts percaya bahwa dunia fisik penuh dengan tanda-tanda spiritual yang bisa dibaca oleh orang yang cukup jeli. Setiap peristiwa di alam ada kaitannya dengan kehendak Ilahi; setiap tempat bisa menjadi arena pertempuran antara kebaikan dan kejahatan.

Hawthorne mewarisi cara pandang ini, namun membebaskannya dari teologi. Dalam Pencarian Bunga Lili, Walter Gascoigne berfungsi seperti nabi Puritan: ia membaca tanda-tanda di setiap tanah yang diinjak pasangan muda itu dan menemukan jejak dosa dan duka di mana-mana. Bedanya, Hawthorne tidak menghakimi. Ia tidak mengatakan bahwa duka itu adalah hukuman; ia hanya mengatakan bahwa duka itu ada, dan bahwa kebahagiaan yang abadi harus berdiri di atas pengakuan akan keberadaan duka itu.

Posisi Hawthorne di Antara Emerson dan Poe

Untuk memahami keunikan Hawthorne, bayangkan ia berdiri di antara dua tokoh besar sezamannya. Di satu sisi ada Ralph Waldo Emerson dengan optimisme Transcendentalnya: jiwa manusia dapat mencapai kesatuan dengan alam semesta, kebahagiaan adalah keadaan alami jiwa yang bebas. Di sisi lain ada Edgar Allan Poe dengan pessimismenya yang gelap: duka dan teror adalah kebenaran paling mendasar tentang kondisi manusia.

Hawthorne menolak kedua ekstrem itu. Pencarian Bunga Lili tidak berakhir dengan kemenangan optimisme Emersonian, namun juga tidak berakhir dengan keputusasaan Poeian. Adam Forrester kehilangan Lily, namun pada akhir cerita ia memahami sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kebahagiaan duniawi: bahwa kebahagiaan sejati harus berakar pada penerimaan terhadap kenyataan kematian dan duka, dan bahwa kebahagiaan semacam itu adalah milik Keabadian.

Simbolisme Nama: Adam, Lily, dan Gascoigne

Hawthorne tidak memilih nama-nama tokohnya secara kebetulan. Adam Forrester membawa resonansi biblis yang jelas: Adam adalah manusia pertama yang dipaksa meninggalkan Taman Eden, tempat yang awalnya tampak sebagai surga kebahagiaan. Forrester berarti orang yang hidup di hutan, di alam. Bersama, nama ini menggambarkan manusia yang optimis dan dekat dengan alam, yang percaya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di dunia.

Lilias Fay, yang dipanggil Lily, membawa simbolisme ganda. Bunga lili dalam tradisi Barat melambangkan kemurnian dan kepolosan, namun juga sering muncul dalam konteks pemakaman: bunga lili adalah bunga kematian. Kata Fay berasal dari bahasa Prancis Kuno yang berarti peri atau makhluk gaib, sesuatu yang tidak sepenuhnya termasuk dunia fana. Hawthorne dengan cermat membangun kesan bahwa Lily memang terlalu rapuh untuk dunia ini sejak awal.

Walter Gascoigne adalah nama yang lebih samar. Gascoigne adalah nama daerah di Prancis selatan yang juga diasosiasikan dengan karakter yang sombong dan berlebihan dalam tradisi sastra Inggris. Namun dalam konteks cerpen ini, yang lebih penting adalah kata Walter: dalam bahasa Jerman kuno, Walter berarti pemimpin tentara atau penguasa pasukan. Gascoigne adalah penguasa atas wilayah kesedihan; ia yang menentukan di mana duka berdiam.

Twice-Told Tales dalam Konteks Penerbitan 1837

Kumpulan Twice-Told Tales terbit pada Maret 1837, diterbitkan oleh American Stationers' Company di Boston. Ini adalah kumpulan cerpen pertama Hawthorne yang diterbitkan atas namanya sendiri (karya-karya sebelumnya terbit anonim atau dengan nama samaran). Kumpulan ini langsung menarik perhatian Henry Wadsworth Longfellow, yang menulis resensi pujian. Setahun kemudian, Edgar Allan Poe juga memujinya.

Keberhasilan kumpulan ini membuka jalan bagi Hawthorne untuk melepaskan diri dari kesunyian dua belas tahunnya. Pada 1838, ia mulai aktif dalam kehidupan sastra Boston dan bertemu Sophia Peabody, yang kelak menjadi istrinya. Cerpen yang ada di hadapan kita, Pencarian Bunga Lili, adalah salah satu yang masuk dalam edisi kedua dan diperluas pada 1842, ketika Hawthorne sudah menikah dan hidupnya mulai berubah.

Alegori Hawthorne versus Alegori Bunyan

Tradisi alegori yang paling dikenal dalam bahasa Inggris adalah The Pilgrim's Progress (1678) karya John Bunyan, di mana tokoh bernama Christian melakukan perjalanan dari Kota Kehancuran menuju Kota Surgawi, melewati rintangan-rintangan yang semuanya diberi nama simbolis: Rawa Keputusasaan, Gerbang Sempit, Bukit Kesulitan.

Hawthorne sadar betul akan tradisi ini. Ia bahkan menyebut cerpen-cerpennya sendiri sebagai allegories of the heart, alegori tentang batin. Bedanya dengan Bunyan: Hawthorne tidak memberikan nama simbolis kepada tempat-tempatnya. Tempat-tempat dalam Pencarian Bunga Lili adalah tempat biasa: sudut di kaki bukit, lembah berbatu, gundukan tanah kecil. Justru kenyataan tempat-tempatnya yang tidak simbolis itulah yang membuat alegorinya lebih mengena; kita bisa mengenali tempat-tempat itu sebagai tempat yang ada di sekitar kita.

Cerpen Hawthorne Lainnya tentang Kebahagiaan dan Duka

Tema pencarian kebahagiaan yang selalu berakhir dengan penemuan kesedihan adalah tema yang berulang dalam karya Hawthorne. Aliran dari Pompa Kota, yang terbit dalam kumpulan yang sama, mengeksplorasi tema serupa dari sudut yang berbeda: sebuah pompa air yang berpidato tentang kemungkinan dunia yang sempurna melalui temperansi, namun dengan ironi lembut yang membiarkan kita bertanya apakah kebahagiaan kolektif semacam itu sungguh bisa dicapai. Untuk membandingkan, pembaca dapat juga mencoba Koleksi Sang Virtuoso dari Mosses from an Old Manse, cerpen yang mengeksplorasi obsesi manusia atas benda-benda bersejarah dan mitologis sebagai cara melarikan diri dari kematian.

Baca Pencarian Bunga Lili karya Nathaniel Hawthorne secara gratis di Pagera — sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Referensi lanjutan: Romantisisme (Wikipedia Bahasa Indonesia) · American Romanticism (Wikipedia) · Teks asli di Project Gutenberg #9217

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera