Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 6 mnt
Konteks Asahi Shimbun Meiji 1907-1909 — Surat Kabar Tempat Soseki dan Futabatei Berjumpa
Pada 1907 hingga 1909, Asahi Shimbun adalah surat kabar paling berpengaruh di Jepang Meiji. Di sanalah Natsume Soseki dan Futabatei Shimei bekerja sebagai rekan, di sanalah esai Hasegawa-kun dan Aku diterbitkan. Konteks redaksi Asahi adalah konteks tersembunyi dari esai pendek ini.
Pagera Editorial
Ketika membaca Hasegawa-kun dan Aku (1909), pembaca modern mudah sekali melewatkan satu konteks yang sangat penting: Asahi Shimbun (朝日新聞). Surat kabar ini bukan sekadar tempat kerja kedua tokoh utama esai ini. Asahi adalah karakter ketiga yang tak terlihat — sebuah lembaga yang membentuk hubungan, percakapan, dan akhirnya kematian Futabatei.
Asahi Shimbun pada 1907: Surat Kabar yang Sedang Bertransformasi
Asahi Shimbun didirikan di Osaka pada 1879 sebagai surat kabar lokal yang relatif kecil. Tetapi pada akhir abad ke-19, di bawah kepemimpinan Murayama Ryōhei, Asahi melakukan langkah berani: mendirikan cabang di Tokyo pada 1888. Pada awal abad ke-20, Asahi Tokyo dan Asahi Osaka berfungsi sebagai dua surat kabar terpisah dengan redaksi mandiri, meskipun di bawah satu perusahaan induk.
Pada 1907, Asahi sedang berada di fase transformasi penting. Setelah kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905), Asahi memutuskan untuk meningkatkan kualitas konten budaya dan sastra mereka. Salah satu cara yang dipilih: merekrut sastrawan terkemuka sebagai karyawan tetap. Surat kabar bukan hanya melaporkan berita, tetapi juga menerbitkan novel serial yang menjadi salah satu daya tarik utama pembaca.
Inilah konteks ketika Natsume Soseki — yang saat itu adalah dosen sastra Inggris di Universitas Kekaisaran Tokyo — direkrut oleh Asahi pada 1907. Soseki adalah rekrutan VIP. Ia akan menerbitkan novel-novel besarnya sebagai serial di Asahi — Gubijinsō (1907), Sanshirō (1908), Sorekara (1909), Mon (1910). Asahi memberinya gaji yang baik, ruang kerja sendiri, dan kebebasan kreatif.
Dua Bos: Ikebe-kun dan Torii-kun
Esai Soseki menyebut dua nama yang menjadi tulang punggung Asahi pada 1907-1909:
Ikebe-kun (Ikebe Sanzan, 池辺三山, 1864-1912)
Kepala redaksi Asahi Tokyo dari 1898 sampai 1912. Lulusan tanah kelahiran Soseki sendiri (Edo/Tokyo) dan salah satu jurnalis paling dihormati pada zamannya. Ikebe adalah orang yang merekrut Soseki ke Asahi — sebuah keputusan yang akan membentuk seluruh karier sastra Soseki selanjutnya. Dalam esai Hasegawa-kun dan Aku, Ikebe-kun yang mengundang sekitar sepuluh orang ke klub di Yūrakuchō untuk pertama kalinya mempertemukan Soseki dengan Hasegawa. Ikebe meninggal hanya tiga tahun setelah Hasegawa (1912), pada usia yang sama 48 tahun.
Torii-kun (Torii Sosen, 鳥居素川, 1867-1928)
Kepala redaksi Asahi Osaka. Sahabat dekat Ikebe Sanzan, dan sering datang ke Tokyo untuk rapat antar-cabang. Dalam esai ini, kedatangan Torii dari Osaka menjadi alasan diadakannya jamuan Yūrakuchō. Beberapa tahun kemudian, Torii akan menjadi salah satu jurnalis sayap kiri yang dipecat dari Asahi karena artikel anti-pemerintah (insiden 1918).
Ruang Redaksi Asahi: Tempat Pertemuan Kedua
Salah satu adegan paling visual dalam esai ini adalah pertemuan kedua di ruang redaksi Asahi: "Aku menaiki tangga kayu yang kotor, membuka pintu ruang redaksi, lalu masuk. Di dekat jendela utara, mengelilingi meja Barat, ada empat-lima orang sedang berbincang." Detail-detail ini bukan sekadar warna. Mereka menggambarkan keadaan fisik redaksi surat kabar Meiji:
Tangga kayu yang kotor: Kantor Asahi Tokyo waktu itu adalah bangunan yang sederhana, jauh dari kemegahan kantor surat kabar modern. Para wartawan dan editor naik tangga kayu setiap hari, membawa naskah, koreksi, dan tinta.
Jendela utara: Pemilihan jendela utara untuk ruang kerja adalah teknik pencahayaan tradisional — cahaya yang masuk dari utara cenderung stabil sepanjang hari, tidak menyilaukan. Ini adalah ruangan yang dirancang untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.
Meja Barat: Yōshiki no tsukue (洋机) — meja gaya Barat. Pada awal abad ke-20, meja kayu gaya Barat baru saja diperkenalkan di Jepang sebagai pengganti meja rendah tradisional. Adopsi meja Barat di redaksi adalah simbol modernisasi.
Setelan jas abu-abu: Hasegawa duduk dengan setelan jas (sebiro/背広) abu-abu — bukan kimono. Ini adalah penanda bahwa Hasegawa adalah "pegawai modern". Soseki, sebagai novelis, lebih sering memakai kimono. Kontras pakaian antara kedua orang ini adalah kontras yang halus tetapi signifikan.
Misi Asahi ke Rusia: Mengapa Futabatei Dipilih
Pada 1908, Asahi memutuskan mengirim seorang koresponden khusus ke Sankt-Peterburg, Rusia. Konteks geopolitiknya sangat tegang: hanya tiga tahun sebelumnya (1905), Perang Rusia-Jepang berakhir dengan kemenangan Jepang yang mengejutkan dunia. Hubungan diplomatik antara kedua negara masih sangat dingin. Banyak rahasia diplomatik perlu diliput. Asahi membutuhkan koresponden yang:
Fasih bahasa Rusia (tidak hanya percakapan, tetapi membaca dokumen pemerintah)
Memahami budaya Rusia secara mendalam
Bisa menulis laporan yang akurat dan tidak melibatkan emosi nasional
Memiliki kredibilitas di antara intelektual Rusia (banyak yang membenci Jepang setelah perang)
Hanya satu orang yang memenuhi semua kriteria ini: Hasegawa Tatsunosuke (Futabatei Shimei). Ia satu-satunya sastrawan Jepang yang fasih membaca dan menerjemahkan Turgenev langsung dari aslinya. Ia tinggal di Manchuria selama bertahun-tahun (1902-1908), bekerja dalam administrasi militer dan dagang. Dan, yang paling penting, ia memiliki kontak langsung dengan dunia sastra Rusia.
Tetapi, seperti yang ditunjukkan Soseki dalam esainya, ada satu masalah: tubuh Futabatei sudah sangat lemah. Tuberkulosis paru-paru yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun membuatnya tidak boleh kehilangan kehangatan tropis Manchuria. Rusia akan jauh lebih dingin. Soseki dan banyak teman lainnya khawatir, tetapi Futabatei sendiri merasa ini adalah tugas yang harus diambil. Dan Asahi sangat membutuhkannya.
Esai Ini Diterbitkan di Asahi
Yang sering terlewat: Hasegawa-kun dan Aku ditulis Soseki untuk dipublikasikan di Asahi Shimbun. Yaitu, esai pemakaman ini muncul di halaman surat kabar tempat Hasegawa pernah bekerja, dibaca oleh karyawan-karyawan yang pernah duduk semeja dengannya, melingkupi peristiwa yang terjadi di ruang redaksi yang sama. Ini adalah esai pemakaman yang juga berfungsi sebagai catatan internal kantor. Inilah yang membuat kejujuran Soseki — termasuk pengakuannya tentang "kemalasan" sosial dan persahabatan yang tak pernah mekar — terasa sangat berani. Ia tidak menulis untuk pembaca yang anonim. Ia menulis untuk rekan-rekan kerja Hasegawa, yang mungkin mengenal kebenarannya lebih baik daripada Soseki sendiri.
Asahi Setelah 1909
Setelah kematian Futabatei pada 1909, Asahi terus berkembang menjadi salah satu surat kabar terbesar Jepang. Soseki melanjutkan menulis novel-novel besarnya di Asahi sampai kematiannya pada 1916. Ikebe Sanzan meninggal pada 1912 (usia 48). Tradisi merekrut sastrawan terkemuka sebagai karyawan Asahi berlanjut: setelah Soseki, ada Kuroiwa Ruikō, lalu Akutagawa Ryūnosuke (yang menulis untuk Mainichi, surat kabar kompetitor), lalu generasi-generasi berikutnya. Asahi hari ini masih merupakan salah satu surat kabar terbesar Jepang, meskipun perannya sebagai "penerbit novel serial" sudah lama berakhir.
Bagi Pembaca Indonesia: Mengapa Konteks Asahi Penting
Hubungan antara sastra dan jurnalisme — yang menjadi konteks tersembunyi Hasegawa-kun dan Aku — adalah salah satu fenomena penting dalam sastra Asia Timur abad ke-20. Di Jepang, di Tiongkok, di Korea, surat kabar besar menjadi tempat lahirnya sastra modern. Banyak novelis terkenal Asia Timur memulai karier sebagai wartawan, kolumnis, atau editor. Hubungan ini juga relevan dengan sejarah Indonesia: sastrawan Indonesia awal abad ke-20 (Pramoedya Ananta Toer, Muhammad Yamin) juga memiliki latar jurnalistik. Memahami konteks Asahi membantu kita memahami bagaimana sastra dan media bisa saling membentuk dalam masyarakat yang sedang bermodernisasi.
Baca Esainya di Pagera
Hasegawa-kun dan Aku tersedia gratis di Pagera dalam terjemahan bahasa Indonesia. Untuk perbandingan dengan karya Soseki lainnya yang juga berasal dari periode Asahi: Senja di Kyoto (1907).
Referensi: Wikipedia Asahi Shimbun | Wikipedia Ikebe Sanzan.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.