Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Konteks Si Bisu Samryong: Yeomyeong 1925, Yangban Kolonial, dan Aliran Baekjo
Si Bisu Samryong terbit di majalah Yeomyeong edisi perdana Juli 1925—periode emas sastra Korea modern di tengah cengkeraman kolonialisme Jepang. Pelajari konteks historisnya: lereng Yeonhwabong, sistem yangban yang runtuh, kemiskinan kelas pelayan, dan jembatan antara Aliran Romantik Baekjo dan Natu
Pagera Editorial
Untuk memahami Si Bisu Samryong Na Do-hyang sebagai karya sastra, kita perlu menempatkannya kembali di dalam Seoul kolonial musim panas 1925—sebuah kota yang penuh dengan ketegangan, kebangkrutan kelas yangban tradisional, kemiskinan urban yang mendalam, dan modernisme kebudayaan yang mengalir dari Tokyo. Cerpen itu tidak muncul dari ketiadaan; ia adalah jawaban Na Do-hyang yang sangat khusus terhadap masa dan tempatnya.
Majalah Yeomyeong (黎明) Edisi Perdana
Cerpen ini terbit di edisi perdana majalah sastra Yeomyeong (黎明, "Fajar") pada bulan Juli 1925. Yeomyeong adalah salah satu dari banyak majalah sastra yang bermekaran di Seoul pada tahun 1920-an, periode yang oleh sejarawan disebut "masa kebudayaan" (문화통치 시기, 1920~1931). Setelah ditekan keras pasca Pemberontakan 1 Maret 1919, pemerintah kolonial Jepang melonggarkan sedikit kontrolnya atas pers Korea, dan majalah-majalah sastra serta surat kabar berbahasa Korea bermekaran—meskipun selalu di bawah sensor.
Yeomyeong sendiri tidak berusia panjang—hanya beberapa edisi—tetapi edisi perdananya menjadi tonggak karena memuat Si Bisu Samryong. Karya ini segera diakui sebagai salah satu cerpen terkuat dari generasi Na Do-hyang.
Lereng Yeonhwabong: Latar Geografis yang Nyata
Latar cerita ini adalah Yeonhwabong (蓮花峰, "Bukit Teratai")—sebuah punggungan rendah di Seoul yang kini bernama Cheongyeopjeong (靑葉町, dalam dialek kolonial Jepang) atau Cheongyeop-dong dalam bahasa Korea modern. Pada 1925, area ini terletak sedikit di luar gerbang Namdaemun (Gerbang Selatan), dan masih sebagian besar pedesaan. Dari atasnya, orang bisa melihat ojeongpo—meriam tengah hari—yang menandai pukul dua belas siang setiap hari (kebiasaan kolonial Jepang yang berlangsung sampai 1945).
Yeonhwabong 1925, seperti yang dideskripsikan Na Do-hyang dengan getir di paragraf pembuka cerpen, adalah area transisi: kelas yangban yang sedang merosot masih bertahan di sana, mengenakan gamtu (topi penanda status), tetapi sudah berdampingan dengan permukiman buruh kasar dan kebun-kebun sayur orang-orang "berkecukupan" yang bekerja keras seperti petani. Tiga puluh tahun kemudian—saat narator menulis—kawasan itu sudah turun sepenuhnya menjadi kampung kumuh.
Sistem Yangban yang Runtuh
Tuan O Saengwon, tokoh sentral cerita, adalah perwakilan tipikal kelas yangban (兩班) yang sedang merosot. Status "saengwon" (生員)—gelar bangsawan rendah yang diberikan kepada mereka yang lulus ujian negara tingkat dasar Joseon—sebenarnya sudah kehilangan makna setelah penghapusan ujian negara pada 1894. Tetapi orang yang masih bisa mengenakan gamtu dan memelihara seorang pelayan bisu masih berusaha mempertahankan gengsi sosial—sambil membayar tiga puluh ribu ryang untuk pernikahan anaknya dan menjual aset untuk memelihara fasad terhormat.
Pengantin perempuan—yang dijelaskan sebagai "anak yangban yang telah jatuh" (영락한 양반의 딸)—mencerminkan realitas serupa. Keluarganya tak lagi mampu membesarkannya dengan layak, sehingga Tuan O "hampir-hampir membeli" anak gadis dari janda Namchon dengan imbalan emas. Pernikahan yang diselenggarakan tergesa-gesa, pemberian biaya jahit dan cucian dua ribu lima ratus ryang per bulan—semuanya menggambarkan ekonomi pernikahan yang setengah-jual-beli di kelas yangban yang tengah runtuh.
Kelas Pelayan dan Penghinaan Bisu
Samryong, sebagai pelayan bisu, mewakili lapisan masyarakat paling rendah dalam hierarki Joseon-kolonial. Kelas pelayan turun-temurun (nobi) secara resmi dihapuskan pada 1894 dalam Reformasi Gabo, tetapi praktik sosialnya berlanjut—pelayan tetap menjadi pelayan, hanya dengan formalitas legal yang berbeda. Bahwa Samryong dibawa pindah "saat tuan rumah pindah" menunjukkan kontinuitas pola servitude tradisional.
Penghinaan "si bisu" (벙어리) bukan sekadar deskripsi medis. Pada 1925 Korea, istilah ini dipakai sebagai panggilan yang merendahkan, bahkan oleh anak-anak kampung. Na Do-hyang memilih mempertahankan kata ini—bukan menggantinya dengan eufemisme—justru untuk menampilkan kekejaman sosial yang menyebut Samryong sebagai "Si Bisu, Si Bisu" alih-alih nama pemberian orangtuanya. Cerpen ini sejak awal menyajikan disonansi: tokoh utamanya tak pernah dipanggil dengan namanya sendiri sampai narator mengungkapkan namanya kepada pembaca.
Aliran Baekjo dan Pergeseran ke Realisme
Na Do-hyang adalah salah satu anggota pendiri Baekjo (白潮, "Burung Kuntul Putih"), majalah sastra dekaden-romantik yang aktif 1921~1923. Bersama dengan Hyon Jin-gon, Yi Sang-hwa, dan Park Yeong-hui, ia menjadi bagian dari "Aliran Romantik Korea"—dipengaruhi simbolisme Prancis, dekadensi Eropa, dan estetika kesedihan ekstase.
Tetapi pada 1924~1925, gaya Na Do-hyang berubah dramatis. Ia mulai meninggalkan ekstase romantik untuk merangkul apa yang oleh kritikus kemudian disebut "neo-naturalisme"—realisme tajam yang menyelidiki ketidakadilan kelas, kemiskinan, dan determinisme lingkungan, tetapi diam-diam masih mempertahankan inti puitis dari romantisme awalnya. Si Bisu Samryong adalah representasi paling sempurna dari sintesis ini.
Jembatan ke Generasi Joseon Mundan 1925
Tahun 1925 sendiri adalah tahun emas sastra Korea modern. Pada Januari, Kim Dong-in menerbitkan Kentang (감자) di majalah Joseon Mundan—naturalisme kejam tentang determinisme lingkungan di kampung kumuh Pyongyang. Pada Juli, Na Do-hyang menerbitkan Si Bisu Samryong. Kedua cerpen tersebut mewakili dua pendekatan yang berbeda terhadap realitas kolonial Korea: Kim Dong-in dengan ironi dramatis yang kejam, Na Do-hyang dengan pengorbanan puitis yang menebus.
Generasi sastrawan tahun 1925—yang sering disebut generasi Joseon Mundan setelah nama majalah utama mereka—menjadi tulang punggung naturalisme Korea modern. Tetapi Na Do-hyang berbeda dari mereka: ia menambahkan dimensi romantik-puitis yang membuat karyanya lebih beresonansi emosional. Inilah yang membuat Si Bisu Samryong bertahan dalam ingatan generasi pembaca Korea—dan menjadi salah satu cerpen Korea modern paling sering diadaptasi ke film, drama, dan komik.
Pelajari konteks sastra Korea modern 1920-an di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Si Bisu Samryong di Wikisource Korea.
Baca Si Bisu Samryong karya Na Do-hyang di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.