Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Tokyo Akhir Taisho 1926: Konteks Cangkang Kerang Akutagawa

Cangkang Kerang terbit Desember 1926, bulan terakhir era Taisho. Untuk memahami vignet-vignet pendek Akutagawa ini, kita perlu memahami kota Tokyo yang sedang berubah, geisha, trem listrik, dan kecemasan modernisasi yang menyelimuti masa itu.

Pagera Editorial

Membaca Cangkang Kerang tanpa memahami konteksnya seperti memungut cangkang kerang tanpa tahu pantai mana yang melahirkannya. Lima belas vignet pendek Akutagawa Ryunosuke ini terbit pada Desember 1926, secara harfiah pada bulan-bulan terakhir era Taisho (1912~1926). Beberapa hari setelah penerbitan, Kaisar Taisho meninggal, dan Jepang memasuki era Showa yang akan ditandai oleh militerisme dan perang.

Era Taisho: Antara Modernisasi dan Kecemasan

Era Taisho sering disebut sebagai "demokrasi Taisho". Jepang baru saja menang dalam Perang Rusia-Jepang (1905), mengikat aliansi dengan Inggris, dan mengirim pasukan ke Perang Dunia I sebagai sekutu. Ekonomi tumbuh. Kelas menengah perkotaan muncul. Mahasiswa membaca Marx, Engels, Nietzsche, dan Dostoevsky dalam terjemahan.

Tetapi di balik kemajuan itu, ada kecemasan dalam yang tidak terselesaikan. Modernisasi membawa pertanyaan: apa yang masih Jepang dan apa yang sudah hilang? Bagaimana kelas samurai lama menyesuaikan diri di tengah kapitalisme industri? Bagaimana wanita Jepang membaca Ibsen dan tetap menjadi istri yang patuh?

Karya-karya Akutagawa, terutama yang akhir, hidup dalam ruang kecemasan ini. Cangkang Kerang mengumpulkan lima belas "kepingan" yang masing-masing menyentuh satu retakan kecil dari modernisasi itu.

Trem Listrik Ginza Yonchome

Vignet keempat, Seorang Sopir, terjadi di Ginza Yonchome. Bagi yang tinggal di Tokyo hari ini, Ginza adalah distrik perbelanjaan mewah. Tetapi pada 1926, Ginza baru saja pulih dari Gempa Besar Kanto 1923, yang menghancurkan sebagian besar Tokyo dan menewaskan lebih dari 100 ribu orang.

Trem listrik di Ginza adalah simbol Tokyo modern. Tetapi sopir di vignet Akutagawa salah lihat bendera merah sebagai biru, lalu berteriak "MAAF!" dengan suara sekeras tentara. Narator mendengar suara itu dan langsung memikirkan "barak militer dan lapangan latihan tentara". Detail yang tampaknya remeh ini menyimpan komentar tajam: di balik kota modern, masih ada disiplin militer yang baru saja dipakai dalam Perang Dunia I, dan yang akan segera menjelma menjadi militerisme Showa.

Waiting Houses, Geisha, dan Obi Dua Ratus Yen

Vignet keenam, Orang Tokyo, terjadi di sebuah "machiai" atau rumah pertemuan tertutup geisha. Ini adalah salah satu institusi yang paling unik dari Jepang masa itu: rumah-rumah kecil di distrik geisha tempat tamu pria yang sudah jadi langganan dapat mengundang geisha untuk minum, makan, mendengar shamisen, atau sekedar bercakap-cakap.

Vignet ini berkisah tentang obi (sabuk kimono) seharga dua ratus yen yang dipesan oleh nyonya machiai untuk geisha kesayangannya. Dua ratus yen pada 1926 adalah jumlah besar, hampir setara dengan gaji seorang guru sekolah dasar selama lima bulan. Ketika obi itu jadi, baik nyonya machiai maupun pemilik toko kain sama-sama merasa obi itu "terlalu mencolok". Pemilik toko menurunkan harga ke 150 yen tanpa mengatakan apa-apa. Nyonya machiai menyebut harga kepada geisha hanya 120 yen. Geisha menerimanya tanpa berkata apa-apa, lalu mengirim 120 yen kembali, tetapi tidak memakai obi itu sendiri, melainkan memberikannya kepada adik perempuannya.

Akutagawa menutup vignet ini dengan kalimat narator yang sinis: "Memang dari dulu orang Tokyo itu jenis manusia yang penuh sungkan-sungkan konyol seperti ini." Sebuah komentar yang sekaligus mengejek dan menyayangi kelas menengah Tokyo Taisho.

Beijing, Yangrou Hutong, dan Ibu Geisha

Vignet keempat belas, Ibu dan Anak, terjadi sebagian di Beijing. Ini bukan kebetulan. Pada 1921, Akutagawa sendiri pernah melakukan perjalanan ke Tiongkok sebagai koresponden surat kabar Mainichi, mengunjungi Shanghai, Beijing, dan kota-kota lain.

Pada saat itu, Beijing masih ibu kota Republik Tiongkok yang baru. Banyak warga Jepang tinggal di sana untuk bisnis. Yangrou Hutong (Lorong Kambing) adalah salah satu gang Beijing yang dikenal sebagai distrik makanan. Bahwa ibu sang protagonis, mantan geisha Jepang, membuka rumah makan di sana adalah detail yang sangat konkret: banyak wanita Jepang yang mengalami penurunan status sosial pindah ke Manchuria atau Tiongkok untuk memulai kehidupan baru.

Vignet ini menangkap satu pertemuan singkat antara putra yang sukses dan ibu yang menua, dengan satu detail kejam: "banyaknya gigi emas ibunya itu, bagi dirinya tetap saja tidak menyenangkan". Bukan kebencian, bukan kasih sayang yang penuh, melainkan ketidaknyamanan halus dari kehidupan yang tidak rapi.

Kajika, Iroha-jibiki, dan Hal-Hal yang Hampir Punah

Vignet-vignet Akutagawa juga penuh dengan benda-benda kecil yang sudah hampir punah pada 1926. Kajika, katak sungai Jepang dengan suara seperti rusa, yang sekarang sangat sulit ditemukan di alam liar. Iroha-jibiki, kamus klasik Jepang yang disusun menurut urutan iroha tradisional, yang pada 1926 sudah digantikan oleh kamus berurutan a-i-u-e-o. Hanten cetak, jaket pekerja Jepang dengan motif khas yang sekarang lebih sering jadi pakaian festival.

Setiap benda ini berfungsi seperti penanda waktu. Akutagawa sengaja mengumpulkan cangkang-cangkang dari era yang sudah mulai meninggalkan dia.

Mengapa Vignet Pendek di Akhir Karier

Pilihan Akutagawa untuk menulis vignet pendek alih-alih cerpen panjang adalah pilihan estetis yang juga pilihan eksistensial. Pada 1926, ia sudah terlalu lelah untuk membangun plot besar. Tetapi ia masih memiliki mata yang sangat tajam untuk detail.

Hasilnya adalah Cangkang Kerang, sebuah buku yang bisa dibaca dalam satu jam, tetapi setiap halamannya menyimpan kepingan dunia Tokyo Taisho yang akan segera hilang. Tujuh bulan setelah penerbitan, Akutagawa bunuh diri. Dua puluh tahun kemudian, Tokyo Taisho yang ia rekam akan terbakar habis dalam Perang Dunia II. Cangkang-cangkang itu menjadi salah satu dari sedikit yang tersisa.

Bagi yang ingin mengenal karya Akutagawa lainnya, tersedia Sennin karya Akutagawa dan Dia karya Akutagawa di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang era Taisho di Wikipedia Indonesia dan tentang Gempa Besar Kanto 1923 di Wikipedia Inggris.

Baca Cangkang Kerang karya Akutagawa Ryunosuke di Pagera, lima belas vignet pendek lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera