Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 3 mnt

Konteks Sejarah dan Sastra "Chitra" — Rabindranath Tagore (1913)

Konteks penulisan Chitra 1892 Bengali → 1913 Inggris, posisi Tagore dalam sastra Bengal Renaissance, kaitan dengan Mahabharata dan tradisi adaptasi epos Hindu, serta resonansi dengan budaya wayang Jawa-Bali.

Pagera Editorial

Tagore dan Renaissance Bengal

Rabindranath Tagore (1861~1941) adalah tokoh sentral dalam Renaissance Bengal — gerakan kebangkitan intelektual, sastra, dan sosial Bengal yang berlangsung kira-kira dari 1820 hingga 1930. Lahir di keluarga Tagore Calcutta — keluarga bangsawan Hindu progresif yang memimpin reformasi sosial India — ia tumbuh dalam lingkungan yang memadukan tradisi Sanskerta klasik, filsafat Vaishnava, dan modernisme Barat.

Asal-Usul Bengali Tahun 1892

Versi Bengali asli Chitrangada ditulis Tagore pada tahun 1892, ketika ia berusia 31 tahun. Saat itu Tagore sudah aktif menulis puisi liris dan novel sejak remaja, tetapi Chitrangada adalah salah satu karya dramatisnya yang pertama-tama mendapat pengakuan luas. Versi Bengali ditulis dalam bentuk geet-natak — drama yang dijalin dengan musik dan tarian, tradisi pertunjukan Bengal.

Pada tahun 1913, Tagore menerjemahkan sendiri ke bahasa Inggris dengan judul Chitra: A Play in One Act. Tahun itu juga ia menerima Hadiah Nobel Sastra — orang Asia pertama yang meraih penghargaan tersebut — atas antologi puisinya Gitanjali. Setelah Nobel, karya-karya Tagore dengan cepat menyebar ke Eropa, Amerika, dan kemudian ke Asia Tenggara.

Sumber Mahabharata

Kisah Chitrangada berasal dari Mahabharata kitab Adi Parva (Buku Pertama), khususnya bagian yang menceritakan pengembaraan Arjuna sebagai pertapa (penebusan dosa) setelah melanggar perjanjian dengan saudara-saudaranya. Dalam pengembaraan inilah Arjuna bertemu beberapa kekasih yang masing-masing melahirkan anak — Ulupi (Naga), Chitrangada (Manipura), dan kemudian menikahi Subhadra.

Tradisi adaptasi Mahabharata dalam sastra India sangat panjang — dari versi Sanskerta Vyasa, ke versi Tamil, Telugu, Bengali, Hindi, hingga Jawa Kuno (Bharatayuddha Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, 1157 M). Tagore berdiri dalam tradisi ini, tetapi memberikan twist modern: perspektif perempuan menjadi fokus utama, sesuatu yang jarang dilakukan dalam adaptasi-adaptasi sebelumnya.

Posisi dalam Sastra Dunia 1913

Pada tahun 1913, dunia sastra global berada di ambang Modernisme. Saat Tagore menulis tentang Chitra yang melepas selubungnya, di tempat lain:

  • Marcel Proust menerbitkan Du côté de chez Swann (jilid pertama À la recherche du temps perdu).
  • D. H. Lawrence menerbitkan Sons and Lovers.
  • Thomas Mann menerbitkan Death in Venice (1912).
  • W. B. Yeats sedang menulis puisi-puisi mistis dan dramatisnya — Yeats juga yang memperkenalkan Tagore ke pembaca Inggris dan menulis pengantar untuk Gitanjali.

Chitra dengan demikian adalah suara Asia di forum sastra Modernis Eropa. Tagore tidak menulis dalam kerangka Eropa; ia membawa kerangka Vedanta + Vaishnava + Mahabharata ke panggung dunia, dan diterima sebagai setara dengan tradisi Eropa.

Resonansi dengan Budaya Wayang Jawa-Bali

Bagi pembaca Indonesia, Chitra akan terasa luar biasa akrab. Kisah Mahabharata adalah dasar dari wayang purwa Jawa dan wayang Bali. Arjuna adalah salah satu Pandawa, tokoh utama dalam tradisi wayang Nusantara. Manipura, Chitravahana, dan Chitrangada sendiri juga tercatat dalam beberapa versi Bharatayuddha Jawa Kuno.

Namun ada perbedaan penting. Dalam wayang Jawa, Arjuna kerap digambarkan sebagai tokoh halus, romantis, dan sedikit playboy. Tagore mengembalikan Arjuna ke versi yang lebih dekat dengan Mahabharata Sanskerta: seorang pertapa yang tulus, pencari kebenaran, yang baru terbangun oleh Chitra dari ilusi kecantikan menuju cinta yang sejati.

Tagore dan Indonesia

Pada tahun 1927, Tagore mengunjungi Hindia Belanda (Indonesia modern), terutama Jawa dan Bali. Ia terpukau oleh kesinambungan tradisi Sanskerta-Hindu di Bali, dan menulis beberapa puisi serta esai tentang pengalamannya. Kunjungan ini memperkuat ikatan kultural antara India dan Indonesia, dan menjadikan Tagore sosok yang dihormati di kalangan intelektual Indonesia awal abad ke-20, termasuk Soekarno.

Penutup Konteks

Membaca Chitra adalah membaca pertemuan antara tradisi sastra India klasik, modernitas Bengali, dan suara dunia tahun 1913. Pembaca Indonesia memiliki keuntungan ganda: kita memahami kerangka Mahabharata dari wayang, dan juga merasakan keindahan bahasa puitis modern yang sebanding dengan kakawin dan kidung kita sendiri.

Baca lengkapnya di Pagera: Chitra: Sandiwara Satu Babak

Kembali ke Pagera