Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt
Konteks Dia Akutagawa: Periode Taishō, Marx, dan Tuberkulosis 1920-an
Dia Akutagawa cerpen 1927 lahir di tengah Periode Taishō yang penuh kontradiksi: ledakan literatur modernis, ketertarikan kaum muda pada Marxisme, dan tuberkulosis yang menggerogoti generasi pemuda Jepang.
Pagera Editorial
Untuk memahami sepenuhnya Dia Akutagawa cerpen, pembaca Indonesia perlu memahami atmosfer Periode Taishō (1912~1926) yang menjadi latar emosional cerita ini. Bukan latar fisik saja — meski Hongō, Honjō, Kameido, dan Susaki memang tempat-tempat nyata di Tokyo era itu — tetapi juga latar intelektual dan medis yang mewarnai seluruh kehidupan tokoh Dia dan narator aku.
Periode Taishō: Antara Modernitas dan Krisis
Periode Taishō dimulai dengan kematian Kaisar Meiji pada 30 Juli 1912 dan berakhir dengan kematian Kaisar Taishō pada 25 Desember 1926. Hanya empat belas tahun — periode kekaisaran terpendek dalam sejarah Jepang modern. Tetapi periode ini menjadi salah satu era paling produktif dalam sejarah literatur dan pemikiran Jepang.
Di permukaan, Periode Taishō adalah era "Taishō Demokurashī" — sebuah eksperimen pertama Jepang dengan politik parlementer yang lebih terbuka. Hak pilih diperluas. Universitas swasta berkembang. Majalah sastra bermunculan: Shirakaba, Mita Bungaku, Shinchō. Surat kabar membahas isu-isu yang sebelumnya tabu. Para pemuda dari keluarga samurai tua dan pedagang kaya bisa membaca terjemahan Tolstoy, Dostoevsky, dan Maupassant dalam beberapa minggu setelah karya itu diterbitkan di Eropa.
Tapi di balik permukaan modernis itu, ada kerapuhan. Inflasi pasca-Perang Dunia I. Kemiskinan pedesaan yang ekstrim. Sensor pemerintah yang semakin ketat menjelang akhir periode. Dan, di atas segalanya, dua bencana yang membentuk generasi Taishō: Gempa Besar Kantō 1923 yang menghancurkan Tokyo, dan epidemi tuberkulosis yang menggerogoti kaum muda terdidik.
Marx, Bakunin, dan Pemuda Intelektual
Dalam cerpen Dia, salah satu poin utama yang membuat narator aku terus didebat habis-habisan oleh Dia adalah ketertarikan Dia pada Marxisme. Setelah gagal ujian masuk Ikkō, Dia mulai "tergila-gila pada buku-buku Marx dan Engels". Aku merasakan rasa hormat — atau lebih tepatnya rasa takut — terhadap kata-kata seperti "kapital" dan "eksploitasi".
Fenomena ini bukan rekaan Akutagawa. Antara 1917 (Revolusi Rusia) dan pertengahan 1920-an, gelombang Marxisme menyapu kampus-kampus elit Jepang. Sekolah Tinggi Pertama Tokyo (Ikkō), Sekolah Tinggi Keenam Okayama (Rokkō), Universitas Kekaisaran Tokyo, dan Universitas Waseda menjadi pusat pembacaan literatur sosialis. Pemuda-pemuda dari keluarga borjuis kecil membaca Das Kapital versi terjemahan, mendebat tentang "eksploitasi nilai surplus", dan bermimpi tentang revolusi yang akan menyapu hierarki feodal Jepang.
Yang menarik dalam cerpen Dia adalah kalimat terkenal: "Revolusi pada akhirnya adalah menstruasi sosial, kan begitu." Ini adalah cara Akutagawa, melalui mulut tokoh Dia, mengejek sekaligus memuja semangat revolusioner generasinya — sebuah momen pelepasan yang sangat menyakitkan namun perlu, seperti siklus alamiah tubuh.
Verlaine, Rimbaud, Baudelaire: Simbolisme Prancis di Tokyo
Sementara Dia tergila-gila pada Marx, narator aku memuja para penyair simbolis Prancis: Paul Verlaine (18441896), Arthur Rimbaud (18541891), dan Charles Baudelaire (1821~1867). Ini juga bukan rekaan. Periode Taishō adalah masa di mana literatur simbolis Prancis menjadi tren dominan di kalangan pemuda sastra Jepang.
Penerjemah seperti Ueda Bin dan Nagai Kafū memperkenalkan Les Fleurs du Mal Baudelaire dan Saisons en Enfer Rimbaud ke pembaca Jepang. Bagi pemuda terdidik, membaca Baudelaire berarti masuk ke dunia spleen, eksotika, dan keindahan suram modernitas urban. Akutagawa sendiri menggunakan motif Baudelairean dalam beberapa karyanya. Dalam Dia, "berhala melampaui berhala" itu menjadi simbol dari dua kutub spiritual pemuda Taishō: kutub Marx yang menjanjikan tindakan, dan kutub Baudelaire yang menawarkan estetika kepekaan dan kehancuran.
Tuberkulosis Ginjal: Penyakit Generasi
Salah satu detail yang paling menyentuh dalam Dia adalah diagnosis penyakit Dia: tuberkulosis ginjal (jinzō kekkaku). Bukan tuberkulosis paru-paru yang lebih umum dikenal, melainkan bentuk tuberkulosis yang menyerang ginjal — sebuah penyakit yang seringkali tidak bisa disembuhkan pada era pra-antibiotik.
Tuberkulosis adalah penyakit yang mendefinisikan Periode Taishō. Antara 1900 dan 1930, tuberkulosis adalah penyebab kematian nomor satu di Jepang untuk usia produktif. Sekitar dua ratus ribu orang Jepang meninggal karena tuberkulosis setiap tahun pada masa puncaknya. Mahasiswa, penulis, seniman, pekerja pabrik tekstil — semua jatuh dalam jumlah yang mengejutkan. Beberapa sastrawan terkenal seperti Masaoka Shiki, Higuchi Ichiyō, Ishikawa Takuboku, dan Kajii Motojirō meninggal karena tuberkulosis di usia muda.
Pengobatan terbatas pada "tenchi" (pindah berobat ke iklim yang lebih baik) — yang dilakukan Dia ketika ia pindah ke rumah sakit di pesisir. Rumah-rumah sakit khusus berkembang di Odawara, Hakone, dan Chigasaki, tempat para pasien terbaring di kamar-kamar berjendela kaca menatap pohon palem dan laut, persis seperti yang dialami Dia dalam cerpen.
Susaki, Hongō, dan Topografi Sastra Taishō
Akutagawa menempatkan ceritanya di lokasi-lokasi yang sangat spesifik di Tokyo. Hongō adalah distrik tempat Universitas Kekaisaran Tokyo berada — pusat intelektual Jepang. Honjō adalah distrik kelas pekerja di sisi timur sungai Sumida, tempat SMP Ketiga berada. Kameido adalah kawasan pinggiran dengan kuil Tenmangū yang terkenal akan pohon-pohon plum. Susaki, yang muncul ketika K mengajak teman-temannya pergi, adalah kawasan hiburan terkenal era Taishō — sebuah kompleks pelacuran resmi yang menggambarkan sisi gelap modernitas Tokyo.
Pemilihan Susaki bukan kebetulan: Akutagawa sedang menggambarkan tiga jalur yang ditempuh pemuda intelektual Taishō — Marxisme (Dia), seni simbolis (aku), dan sinisme hedonisme (K). Tiga jalur, satu generasi, dan tidak satu pun yang menjamin keselamatan.
Mengapa Konteks Ini Penting bagi Pembaca Modern
Bagi pembaca Indonesia di abad ke-21, Dia mungkin tampak seperti cerpen yang sederhana — kenangan tentang sahabat lama yang meninggal muda. Tetapi setiap detail dalam cerita ini — kamar di atas percetakan, rokok Golden Bat, perdebatan tentang Marx, pohon palem di luar jendela rumah sakit, Samudra Pasifik yang hitam pekat — adalah bagian dari dunia yang sangat spesifik: Tokyo Taishō yang sedang berubah dengan cepat, generasi muda yang terkoyak antara modernitas dan kerapuhan, dan seorang penulis yang merasakan dirinya sendiri pelan-pelan mendekat ke akhir.
Membaca Dia bersama dengan karya lain dari era yang sama dapat memperdalam pemahaman ini. Cerpen Sennin karya Akutagawa menampilkan sisi awal sang penulis yang masih bermain dengan dongeng klasik, sementara Untuk Kawabata Yasunari karya Dazai Osamu menunjukkan bagaimana tradisi pengakuan diri dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Pelajari lebih lanjut tentang Periode Taishō di Wikipedia Indonesia dan tentang sejarah tuberkulosis di Jepang di Wikipedia Inggris.
Baca Dia karya Ryūnosuke Akutagawa di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.