Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 5 mnt

Konteks Sejarah Dongyang Pyeonghwa Ron 1910: Eulsa, Harbin, Lushun, Pan-Asianisme

Lima lapis konteks sejarah Dongyang Pyeonghwa Ron (1910): Perjanjian Eulsa 1905, Perang Rusia-Jepang, Penjara Lushun, Insiden Harbin, dan fermentasi pemikiran politik Asia Timur 1900-1910.

Pagera Editorial

Konteks Sejarah Dongyang Pyeonghwa Ron: Lima Lapis Latar Belakang 1910

Untuk membaca risalah An Jung-geun dengan benar, kita perlu memahami lima lapis konteks historis yang membentuk dunia di mana ia menulis di Penjara Lushun pada Februari 1910.

Lapis 1: Perjanjian Eulsa 1905 dan Hilangnya Kedaulatan Korea

Pada 17 November 1905, di bawah ancaman militer Jepang yang menempatkan tentara di sekitar istana, lima menteri Korea (yang kemudian dikenal sebagai Eulsa Ojeok, "Lima Penjahat Eulsa") menandatangani Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai protektorat Jepang. Korea kehilangan hak diplomatik luar negeri — semua hubungan internasional Korea harus melalui Tokyo.

Ito Hirobumi ditunjuk sebagai Residen-Jenderal Korea pertama pada Desember 1905. Posisinya secara teknis adalah "penasihat" tetapi pada praktiknya ia adalah penguasa de facto Korea. Pada 1907, Ito Hirobumi memaksa Kaisar Gojong turun takhta karena Gojong diam-diam mengirim utusan ke Konferensi Perdamaian Den Haag.

An Jung-geun, yang awalnya berharap Jepang akan menjadi "kakak Asia" yang membantu Korea modernisasi, berbalik melawan Jepang sepenuhnya setelah Eulsa.

Lapis 2: Perang Rusia-Jepang 1904-1905 dan "Janji Asia Timur"

Pada 8 Februari 1904, Jepang menyerang armada Rusia di Lushun (旅順, Port Arthur). Perang Rusia-Jepang dimulai. Dalam Deklarasi Perang Kaisar Jepang Meiji, terdapat kalimat:

"Mempertahankan perdamaian Asia Timur dan memperkokoh kemerdekaan Korea Raya."

Kalimat ini dikutip An Jung-geun di c1-p009 sebagai bukti utama pengkhianatan Jepang. Rakyat Korea dan Tiongkok membantu Jepang dalam perang ini — bahkan menjadi tukang angkut, mata-mata, dan pemandu jalan untuk pasukan Jepang. An Jung-geun menulis:

"Rakyat Korea dan Tiongkok... menyambut tentara Jepang dan tidak menyayangkan tenaga untuk transportasi, perbaikan jalan, dan pengintaian." (c1-p008)

Kemenangan Jepang di Pertempuran Tsushima (Mei 1905) adalah kejutan global pertama — sebuah bangsa Asia mengalahkan kekuatan besar Eropa. Tapi alih-alih membebaskan Korea sesuai janjinya, Jepang mencaplok Korea melalui Perjanjian Eulsa November 1905.

Lapis 3: Penjara Lushun dan Sejarah Pelabuhan yang Diperebutkan

Lushun (旅順, dalam ejaan modern Mandarin "Lvshun", dalam Korea "Yeosun"; nama Rusia "Port Arthur") adalah pelabuhan militer di ujung selatan Semenanjung Liaodong, Manchuria. Sejarahnya:

  • 1894-1895: Direbut Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang
  • 1895: Tripartit Intervensi (Rusia, Prancis, Jerman) memaksa Jepang mengembalikan Lushun ke Tiongkok
  • 1898: Rusia menyewa Lushun selama 25 tahun dan membangun pelabuhan militer + jalur kereta api
  • 1904-1905: Pengepungan Lushun menjadi salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Rusia-Jepang (sekitar 100.000 tewas)
  • 1905-1945: Lushun dikuasai Jepang sebagai "Kanto-shu" (関東州)
  • 1909-1910: An Jung-geun dipenjara di sini, dieksekusi 26 Maret 1910

Penjara Lushun yang menahan An Jung-geun masih berdiri hari ini sebagai museum di Dalian, RRT.

Lapis 4: Insiden Harbin 26 Oktober 1909

Latar belakang kunjungan Ito Hirobumi ke Harbin:

Ito Hirobumi pada 1909 sudah mengundurkan diri sebagai Residen-Jenderal Korea (dipegang oleh Sone Arasuke). Tetapi ia tetap arsitek utama kebijakan Asia Timur Jepang. Ia akan bertemu Vladimir Kokovtsov, Menteri Keuangan Rusia, untuk membahas pembagian pengaruh Manchuria — Jepang akan mengontrol bagian selatan, Rusia bagian utara.

An Jung-geun mendapat informasi ini melalui jaringan kemerdekaan Korea di Vladivostok. Ia memutuskan ini adalah kesempatan terakhir untuk membunuh Ito Hirobumi sebelum perjanjian pembagian Manchuria itu ditandatangani.

Peron Stasiun Harbin pada pagi 26 Oktober 1909 dipenuhi pasukan kehormatan Rusia, pejabat Tiongkok, dan masyarakat Jepang lokal. Ito Hirobumi turun dari kereta sekitar pukul 09:00. An Jung-geun, yang sudah berdiri di antara kerumunan, menembak tiga kali. Ito Hirobumi terkena di dada, perut, dan paha. Ia meninggal dalam 20 menit di kereta yang sama yang membawanya ke Harbin.

An Jung-geun tidak melarikan diri. Ia berdiri tegak, melepaskan tembakan ke arah tiga pejabat Jepang lain (yang terluka tapi selamat), lalu melemparkan pistolnya dan berteriak dalam bahasa Rusia: "Korea Hura! Korea Hura! Korea Hura!" Polisi Rusia menangkapnya tanpa perlawanan.

Lapis 5: Pemikiran Politik Asia Timur 1900-1910

Periode 1900-1910 adalah masa fermentasi intelektual Asia Timur. Beberapa garis pemikiran yang bersaing:

A. Pan-Asianisme Jepang (Konyo-shi, 興亜思想)

Slogan: "Asia untuk orang Asia." Versi awal (1880-an) anti-kolonial Eropa. Versi belakangan (1930-an, "Kekayaan Bersama Asia Timur") menjadi kedok imperialisme Jepang.

B. Pan-Asianisme Korea (Dongyang Pyeonghwa, 東洋平和)

An Jung-geun adalah formulator utama di sisi Korea. Visinya: aliansi setara Korea-Tiongkok-Jepang. Berbeda dari versi Jepang yang hierarkis (Jepang sebagai pemimpin Asia).

C. Reformasi Karakter Bangsa (Minjok Gaejo, 민족개조)

An Chang-ho di Amerika dan kemudian Shanghai mengusung gerakan reformasi bangsa Korea dari dalam sebelum bisa melawan Jepang. Berbeda dari aksi langsung An Jung-geun.

D. Revolusi Nasional (Hyeokmyeong Sasang, 革命思想)

Shin Chae-ho menulis Joseon Hyeokmyeong Seoneon (1923) yang mengusung anarkisme-revolusioner. Inspirasinya: Kropotkin, Bakunin.

E. Modernisasi Konfusianisme (Yugyo Gusin, 儒教救新)

Park Eun-sik mengusung Konfusianisme yang diperbaharui sebagai dasar gerakan kemerdekaan. Visinya: identitas Korea berakar pada tradisi Konfusianisme tetapi modern.

An Jung-geun adalah representasi awal garis B (Dongyang Pyeonghwa) — dengan akar Katolik dan visi pan-Asianis yang berbeda dari semua garis lain.

Lima Konteks Terjadi Sekaligus

Pada momen An Jung-geun menarik pistol di Harbin pada 26 Oktober 1909, kelima konteks ini hadir sekaligus:

  1. Hilangnya kedaulatan Korea (1905) → motivasi pribadi
  2. Pengkhianatan Jepang atas janji 1904 → motivasi filosofis
  3. Penjara Lushun yang menanti → konteks penulisan risalah
  4. Insiden Harbin → tindakan yang menjadi titik balik
  5. Fermentasi pemikiran politik Asia Timur → konteks intelektual

Tanpa memahami kelima lapis ini, Dongyang Pyeonghwa Ron terbaca sebagai sekadar pembelaan diri seorang pembunuh politik. Dengan memahami konteks, terbaca sebagai manifesto Pan-Asianisme Korea pertama — yang melebihi nasionalisme sempit dan memformulasikan visi geopolitik untuk seluruh Asia Timur.


Baca karya lengkap: Dongyang Pyeonghwa Ron — An Jung-geun (Pagera)

Tema: Sejarah Asia Timur · Imperialisme · Kolonialisme Korea · Perang Rusia-Jepang · Pan-Asianisme awal

Kembali ke Pagera