Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt
Konteks Hasegawa-kun dan Aku — Siapakah Futabatei Shimei dan Mengapa Kematiannya Penting bagi Sastra Meiji
Futabatei Shimei (1864-1909) bukan sekadar sahabat Natsume Soseki. Ia adalah pelopor novel Jepang modern, penerjemah pertama sastra Rusia, dan satu-satunya orang yang menolak menyebut dirinya sastrawan. Kematiannya pada 1909 menutup satu zaman.
Pagera Editorial
Hasegawa-kun dan Aku (1909) tidak bisa dipahami sepenuhnya tanpa konteks siapa Hasegawa Tatsunosuke — yang dunia sastra mengenalnya sebagai Futabatei Shimei (二葉亭四迷). Esai pendek Soseki ini sebenarnya adalah penutup untuk sebuah era — era ketika seorang sastrawan paling pelopor dalam sastra Jepang modern justru menolak memanggil dirinya sastrawan.
Futabatei Shimei: Pelopor yang Menolak Disebut Pelopor
Hasegawa Tatsunosuke (長谷川辰之助) lahir di Edo pada 1864, empat tahun sebelum Restorasi Meiji. Ia datang dari keluarga samurai yang terdegradasi statusnya setelah Restorasi. Pada usia 17 tahun, ia mendaftar ke Sekolah Bahasa Asing Tokyo untuk belajar bahasa Rusia — sebuah pilihan yang sangat tidak biasa pada waktu itu. Sebagian besar pemuda Meiji yang ambisius belajar bahasa Inggris atau Jerman. Futabatei memilih Rusia.
Pilihan ini akan menentukan seluruh hidupnya. Ia jatuh cinta pada sastra Rusia — terutama Turgenev, yang akan menjadi obsesinya seumur hidup. Pada 1887, dalam usia 23 tahun, ia menerbitkan novel Ukigumo (浮雲, "Awan Mengambang") — yang oleh para ahli sastra Jepang dianggap sebagai novel modern Jepang yang pertama. Apa yang revolusioner dari Ukigumo?
Bahasa modern: Sampai 1887, prosa Jepang masih ditulis dalam bungo (文語) — bahasa tulis klasik yang sangat berbeda dari bahasa lisan. Futabatei adalah orang pertama yang menulis novel dalam genbun-itchi (言文一致) — kesatuan bahasa lisan dan tulis. Inilah dasar prosa Jepang modern.
Realisme psikologis: Dipengaruhi Turgenev, Ukigumo adalah novel pertama Jepang yang menggambarkan psikologi internal karakter dengan kompleksitas modern.
Tema kontemporer: Tokoh utama Ukigumo adalah seorang pegawai pemerintah yang baru saja dipecat — tema yang sangat relevan dengan kekacauan sosial Meiji awal.
Tapi inilah paradoksnya: setelah menerbitkan novel pelopor itu, Futabatei berhenti menulis novel selama hampir 20 tahun. Ia merasa tidak puas dengan karyanya sendiri. Ia merasa tidak pantas menjadi sastrawan. Ia memilih bekerja sebagai pegawai pemerintah, penerjemah, dan akhirnya jurnalis. Soseki mencatat dalam esainya: "Pada saat itu aku tidak mengira sama sekali bahwa ia tak menganggap dirinya seorang sastrawan." Ini bukan sekadar kerendahan hati. Ini adalah keyakinan filosofis Futabatei yang sangat dalam.
Mengapa "Futabatei Shimei" — Nama Pena yang Aneh
Nama pena "Futabatei Shimei" (二葉亭四迷) sebenarnya adalah lelucon yang sangat khas Futabatei. Dalam pengucapan bahasa Jepang, nama itu bisa dibaca sebagai "kutabatte shimee" — yang dalam dialek Edo lama berarti "mati saja sana" atau "bangkrutlah". Konon nama itu adalah kata-kata yang dilontarkan ayahnya kepadanya ketika tahu putranya memilih jalur sastra alih-alih karier yang mapan. Futabatei mengambil kata-kata kutukan ayahnya itu dan menjadikannya nama pena. Ini adalah humor hitam Meiji yang sangat khas.
Sono Omokage (1906): Kembali ke Sastra Setelah 20 Tahun
Setelah hampir 20 tahun tidak menulis novel, Futabatei mengejutkan dunia sastra dengan menerbitkan Sono Omokage (其面影, "Bayang Itu") pada 1906, dan Heibon (平凡, "Yang Biasa-biasa") pada 1907. Soseki membaca Sono Omokage dan terkagum-kagum — sebuah kekaguman yang ia bawa sampai akhir hayatnya. "Dalam pengertian tertentu, sampai sekarang pun aku tetap kagum," Soseki menulis di esai ini.
Tetapi yang menarik: meski Soseki memuji Sono Omokage, balasan Futabatei berupa satu kartu pos yang sangat ringkas — "Tak ada sedikit pun gaya Sono Omokage di dalamnya, dan itu mengejutkan aku," tulis Soseki. Inilah karakter Futabatei: ia menolak menjadi sosok yang konsisten dengan karyanya. Tulisannya satu hal, dirinya sendiri hal lain.
Misi Rusia 1908-1909: Akhir yang Tragis
Pada 1908, Asahi Shimbun mengirim Futabatei sebagai koresponden khusus ke Sankt-Peterburg, Rusia. Ini adalah penugasan yang sangat penting — Rusia dan Jepang baru saja berperang (Perang Rusia-Jepang 1904-1905), dan hubungan diplomatik masih sangat tegang. Asahi membutuhkan seseorang yang fasih bahasa Rusia, memahami budaya Rusia secara mendalam, dan bisa menulis laporan yang akurat. Futabatei adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal.
Tetapi tubuhnya yang sudah lemah karena tuberkulosis tidak sanggup melawan dingin musim dingin Rusia. Kartu pos yang ia kirim ke Soseki dari Sankt-Peterburg — "Aku tahu ini terdengar lemah, tapi dingin di tempat ini sulit kulawan" — adalah salah satu surat terakhir Futabatei yang tercatat. Pada awal 1909, kondisinya memburuk drastis. Pada Februari 1909, ia memutuskan kembali ke Jepang lewat laut — perjalanan panjang melalui Suez dan Samudra Hindia.
Pada 10 Mei 1909, Hasegawa Tatsunosuke meninggal di kapal di Teluk Bengal, dalam perjalanan pulang. Usianya 45 tahun. Esai Soseki ini ditulis tak lama setelah berita kematian itu sampai di Tokyo.
Mengapa Kematian Futabatei Menutup Sebuah Era
Pada 1909, ketika Futabatei meninggal, Meiji sudah hampir berakhir (Kaisar Meiji akan meninggal pada 1912, menutup era yang dinamai sesuai namanya). Generasi sastrawan Meiji pelopor — Tsubouchi Shōyō, Mori Ōgai, Futabatei Shimei — sudah memasuki usia tua atau, dalam kasus Futabatei, mati muda. Generasi baru — Soseki sendiri, lalu Akutagawa Ryūnosuke, Tanizaki Jun'ichirō — akan mengambil alih.
Tetapi Futabatei meninggalkan satu pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab: Apa yang membuat seorang pelopor menolak disebut pelopor? Apa artinya bagi sastra Jepang bahwa orang yang membuka pintu modernitas justru orang yang paling jujur mengakui bahwa karyanya sendiri tidak cukup baik? Inilah pertanyaan yang Soseki coba jawab dengan diam — melalui esai pendek yang menolak menjadikan Futabatei sebagai monumen.
Para Tokoh Pendukung dalam Esai Ini
Ikebe-kun (Ikebe Sanzan, 1864-1912): Kepala redaksi Asahi Shimbun Tokyo, dikenal sebagai jurnalis yang sangat dihormati. Ia adalah orang yang merekrut Soseki ke Asahi pada 1907.
Torii-kun (Torii Sosen, 1867-1928): Kepala redaksi Asahi Osaka, sahabat dekat Ikebe.
Danchenko (Vasily Nemirovich-Danchenko, 1844-1936): Jurnalis perang dan novelis Rusia yang sangat terkenal. Saudaranya, Vladimir Nemirovich-Danchenko, adalah salah satu pendiri Moscow Art Theatre. Vasily mengunjungi Jepang pada 1908, dan Futabatei menjadi pemandu utamanya.
Putri Mozume (Mozume Kazuko): Putri ilmuwan klasik Jepang Mozume Takami (1847-1928). Ia adalah salah satu murid kesusastraan yang dititipkan Futabatei kepada Soseki sebelum berangkat ke Rusia.
Bagi Pembaca Indonesia: Mengapa Konteks Ini Penting
Esai pendek seperti Hasegawa-kun dan Aku bisa dibaca tanpa konteks dan masih indah. Tetapi dengan konteks — siapa Futabatei, mengapa kematiannya penting, mengapa Soseki memilih kejujuran daripada ratapan — esai ini berubah menjadi sebuah dokumen yang luar biasa. Ini bukan sekadar potret persahabatan dua sastrawan. Ini adalah potret seluruh era yang sedang menutup mata, ditulis oleh sastrawan terbesar yang akan menggantikan era itu.
Baca Esainya di Pagera
Hasegawa-kun dan Aku tersedia gratis di Pagera dalam terjemahan bahasa Indonesia. Untuk konteks tambahan, baca juga Senja di Kyoto (1907) — esai Soseki yang juga membahas kenangan tentang Masaoka Shiki, sahabat lain yang sudah meninggal pada saat itu.
Referensi: Wikipedia Futabatei Shimei | Aozora Bunko (teks asli Jepang).
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.