Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Konteks Gerbang Rashō – Heian-kyō Abad 12, Taishō 1915, dan Film Kurosawa 1950

Konteks historis cerpen Gerbang Rashō: gerbang sejati Rajōmon di ibu kota Heian abad ke-12, sumber Konjaku Monogatari, periode Taishō 1915 saat debut Akutagawa, dan perbedaan antara cerpen ini dengan film Akira Kurosawa Rashomon 1950 yang sebenarnya berbasis cerpen Di Hutan.

Pagera Editorial

Untuk memahami Gerbang Rashō karya Ryūnosuke Akutagawa secara penuh, pembaca Indonesia perlu mengetahui tiga lapisan konteks yang berbeda: lokasi sejati gerbang Rajōmon di ibu kota Heian abad ke-12, sumber sastra klasik dari Konjaku Monogatari, dan periode Taishō 1915 yang menjadi waktu penulisan. Selain itu, blog ini akan membahas hubungan yang sering menjadi sumber kebingungan: film «Rashomon» (1950) karya Akira Kurosawa yang sebenarnya tidak didasarkan secara dominan pada cerpen ini.

Lapisan 1: Gerbang Rajōmon yang Sejati

Rajōmon (羅城門) — bukan «Rashōmon» — adalah nama asli gerbang ini. Nama Rajōmon berarti «gerbang dinding kota» (羅 = membentang, 城 = dinding/kota, 門 = gerbang). Gerbang ini adalah gerbang utama selatan ibu kota Heian-kyō (sekarang Kyōto), berdiri di ujung selatan jalan utama utara-selatan Suzaku-ōji yang lebarnya 84 meter — yang membentang dari Istana Kekaisaran di utara sampai gerbang ini di selatan.

Gerbang ini dibangun pada tahun 794 ketika ibu kota Jepang dipindahkan dari Nara ke Heian-kyō. Bangunannya megah: dua lantai, atap genteng dengan ornamen shibi (ekor-ikan) di puncak, lebar sekitar 35 meter dan tinggi sekitar 21 meter. Pilar-pilar dilapisi pernis merah ni-nuri (丹塗) khas arsitektur kekaisaran resmi.

Tetapi gerbang ini dua kali roboh oleh angin topan — pada tahun 816 dan kemudian sekitar 980. Setelah keruntuhan kedua, ia tidak pernah dibangun kembali. Pada periode ketika cerita Akutagawa berlangsung — kemungkinan akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13 — gerbang itu sudah menjadi reruntuhan yang dihuni rubah dan musang, tempat membuang mayat tak bertuan.

Dalam pengucapan klasik Heian, «rajō» secara bertahap melemah menjadi «rashō» — perubahan fonetis alami yang sama seperti kanjō → kanjō atau gajō → gashō. Pada zaman Akutagawa (1915), bentuk «Rashōmon» sudah menjadi bentuk umum, dan ia memilih untuk menggunakannya dengan ejaan kanji yang sedikit berbeda: 羅生門 (羅 + 生 + 門). Karakter «生» (sei/shō, hidup/lahir) menggantikan «城» (jō, dinding) — sebuah pilihan estetis yang menambah lapisan makna «gerbang kehidupan» atau «gerbang takdir hidup-mati» — sangat sesuai dengan tema cerpennya.

Lapisan 2: Sumber dari Konjaku Monogatari

Cerita yang Akutagawa angkat berasal dari Konjaku Monogatari-shū (今昔物語集) — sebuah antologi raksasa lebih dari 1.000 kisah pendek dari periode Heian (abad ke-12) yang menjadi salah satu sumber utama Akutagawa untuk cerpen-cerpen periode istananya.

Kisah aslinya ada di Konjaku Monogatari, Jilid 29, Kisah ke-18 — berjudul «Tentang Pencuri yang Naik ke Atas Rajōmon dan Melihat Mayat». Kisah aslinya jauh lebih sederhana: seorang pencuri yang sudah memang berniat mencuri menaiki Rajōmon untuk berteduh, melihat perempuan tua mencabuti rambut mayat, mengintimidasinya, dan kemudian mencuri pakaian si perempuan tua sebelum kabur.

Apa yang dilakukan Akutagawa terhadap sumber ini adalah:

  1. Mengubah motivasi tokoh utama — dari pencuri yang sudah pasti, menjadi gehin yang sedang ragu antara mati kelaparan atau menjadi perampok. Inilah inti psikologis modern Akutagawa.
  2. Memperluas pembelaan diri perempuan tua — kisah ular kering yang dijual sebagai ikan kering palsu adalah tambahan Akutagawa, bukan dari Konjaku. Pembelaan ini memperkenalkan logika sirkular moral yang menjadi katalis pembalikan gehin.
  3. Menambahkan akhir yang ambigu — kalimat «Tak seorang pun tahu ke mana gehin pergi» adalah murni inovasi modern Akutagawa. Konjaku berakhir dengan moral konvensional, sementara Akutagawa menolak memberikan kesimpulan.

Lapisan 3: Periode Taishō 1915 dan Sentimentalisme

Ketika Akutagawa menulis cerpen ini pada September 1915 dan menerbitkannya pada November 1915 di Teikoku Bungaku, Jepang sedang dalam periode Taishō (1912-1926) — periode singkat antara Meiji yang dipimpin militer dan Shōwa yang akan mengalami nasionalisme ekstrem dan Perang Dunia II. Taishō adalah periode liberalisme intelektual, modernisme budaya, dan pengaruh Eropa yang kuat terutama dari Prancis dan Jerman.

Di tengah narasi Heian-nya, Akutagawa menyusupkan kata serapan Prancis dengan sengaja: Sentimentalisme (dalam ejaan klasik Prancis, ditulis Akutagawa dengan kata serapan katakana サンチマンタリスム). Pada paragraf 5, narator mengomentari: «Tambah lagi, cuaca petang ini cukup memengaruhi Sentimentalisme gehin zaman Heian itu.» Ini adalah anakronisme yang disengaja — mustahil seorang gehin abad ke-12 memiliki «Sentimentalisme» dalam pengertian Eropa modern. Tetapi anakronisme inilah yang menjadi tanda tangan modernisme Akutagawa: narator omniscient Taishō yang membaca jiwa Heian dengan kosakata Eropa.

Dalam terjemahan Pagera, kata Sentimentalisme sengaja dipertahankan dengan italik untuk menjaga efek anakronisme tersebut.

Tentang Film Kurosawa «Rashomon» (1950) yang Sering Disalahpahami

Mari kita luruskan satu kebingungan besar. Film «Rashomon» (1950) karya Akira Kurosawa — yang memenangkan Golden Lion di Festival Film Venice 1951, Academy Award Honorary Award 1952, dan dianggap sebagai salah satu film paling berpengaruh dalam sejarah sinema dunia — TIDAK secara dominan didasarkan pada cerpen «Gerbang Rashō» yang sedang Anda baca.

Film Kurosawa adalah gabungan dari dua cerpen Akutagawa:

  • Plot utama: diambil dari cerpen «Di Hutan» (藪の中, 1922) — kisah pembunuhan seorang samurai di tengah hutan, diceritakan kembali oleh tujuh saksi yang memberikan versi yang saling bertentangan (samurai yang mati melalui medium, istrinya, perampok Tajōmaru, dll). Plot multi-perspektif inilah yang melahirkan istilah «Rashomon Effect» dalam sinema dan psikologi.

  • Bingkai naratif: diambil dari cerpen «Gerbang Rashō» (1915) — adegan tiga lelaki (penebang kayu, biksu, dan rakyat biasa) berlindung dari hujan deras di bawah gerbang Rashō yang runtuh, mendiskusikan kisah pembunuhan tadi. Lokasi dan atmosfer diambil dari cerpen 1915 ini, tetapi plot ceritanya bukan.

Jadi apa yang Anda baca di Pagera — gehin tanpa nama yang memergoki perempuan tua mencabuti rambut mayat — adalah cerita asli yang independen dari film. Film Kurosawa hanya «meminjam» judul, lokasi, dan suasana, sementara plotnya berasal dari cerpen Akutagawa yang lain sama sekali.

Mengapa Konteks Ini Penting?

Memahami tiga lapisan konteks ini — lokasi historis gerbang, sumber Konjaku, dan periode Taishō 1915 — plus klarifikasi tentang film Kurosawa — akan membantu pembaca mengapresiasi keunikan cerpen ini sebagai karya independen Akutagawa. Cerpen ini bukan ringkasan film Kurosawa, dan bukan sekadar terjemahan modern Konjaku. Ia adalah sintesis tiga lapisan: bahan klasik + psikologi modern + anakronisme Eropa.

Inilah yang membuatnya tetap dibaca lebih dari seabad kemudian di kelas-kelas sastra Jepang, di pelatihan kreatif penulisan cerpen, dan kini di layar baca pembaca Indonesia.

Baca Gerbang Rashō karya Ryūnosuke Akutagawa secara gratis di Pagera — sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Referensi lanjutan: Rashōmon (cerpen) di Wikipedia · Rashomon (film 1950) di Wikipedia · Konjaku Monogatari (Wikipedia) · Teks asli Aozora #127

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera