Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt

Jepang Taisho 1921: Sungai Edogawa, Jurnalisme, dan Kerumunan Urban

Latar Menertawakan yang Mati adalah Tokyo era Taisho (1921) dengan Sungai Edogawa, surat kabar harian, trem kota, dan film Universal Amerika yang baru tiba di Asakusa. Memahami konteks modernitas urban Taisho membantu pembaca Indonesia mengerti satire sosial Kikuchi.

Pagera Editorial

'Shisha wo Warau' adalah satire Kikuchi atas kekejaman massa yang mentertawakan tragedi orang lain — refleksi sastra tentang moralitas kolektif, bukan ajakan untuk tidak menghormati yang meninggal. Konteks era Taisho (1912-1926) sangat penting untuk memahami mengapa Kikuchi memilih latar Sungai Edogawa, profesi wartawan, dan referensi film Amerika sebagai panggung satirenya.

Tokyo 1921: Modernitas yang Mendesak

Tokyo tahun 1921 adalah kota yang sedang bertransformasi dengan cepat. Periode Taisho (1912-1926) dikenal sebagai era Taisho Demokurashii (Demokrasi Taisho) — masa pertumbuhan kelas menengah urban, partisipasi politik yang lebih luas, dan budaya populer modern. Tetapi 1921 juga adalah dua tahun sebelum Gempa Besar Kanto (1 September 1923) yang akan menghancurkan sebagian besar Tokyo dan Yokohama, menewaskan lebih dari 140.000 orang.

Pada masa Kikuchi menulis cerpen ini, kota Tokyo memiliki populasi sekitar 2,2 juta jiwa. Trem listrik (yang disebut densha dalam cerita ini) sudah menjadi moda transportasi utama. Telegraf, telepon, dan surat kabar harian menyebarkan informasi dengan kecepatan yang baru. Bioskop di Asakusa menayangkan film-film Amerika dan Eropa, termasuk komedi Universal yang disebutkan Keikichi.

Sungai Edogawa: Tepi Air Tokyo Lama

Sungai Edogawa yang disebutkan dalam cerpen ini bukan sungai Edogawa besar yang membentuk batas timur Tokyo modern. Yang dimaksud Kikuchi adalah Edogawa kecil — sebuah kanal sempit di kawasan Bunkyo (Tokyo tengah-utara) yang mengalir melalui distrik Higashi-Gokencho. Kanal ini dilintasi beberapa jembatan kecil seperti Kozakurabashi dan Ishikiribashi yang disebutkan dalam cerita.

Pada era Taisho, kawasan ini adalah daerah perumahan kelas menengah yang dipadati oleh pegawai pemerintah, pengusaha kecil, dan profesional muda seperti tokoh Keikichi sang wartawan. Kanal Edogawa kecil ini relatif dangkal (Kikuchi sendiri menyebutkan 'Bisa mati di sungai sedangkal ini?' melalui salah satu tokoh dalam kerumunan), tetapi cukup dalam untuk tenggelam dalam semalam karena hipotermia musim gugur.

Wartawan sebagai Tokoh: Mata Modernitas

Pilihan Kikuchi untuk menjadikan tokoh utamanya seorang wartawan surat kabar bukanlah kebetulan. Pada era Taisho, profesi jurnalis muncul sebagai simbol modernitas yang ambigu: di satu sisi, wartawan adalah pengamat masyarakat yang seharusnya netral dan terdidik; di sisi lain, mereka adalah produsen tontonan — yang mengubah tragedi pribadi menjadi berita untuk dikonsumsi massa.

Keikichi sebagai wartawan tahu betul bahwa berita tentang orang tenggelam, setelah dilirik sekilas seperti kertas bekas, langsung dilemparkan ke keranjang sampah. Mayat orang tenggelam adalah peristiwa rutin dalam logika berita harian — fenomena sosial yang sangat biasa. Tetapi ketika ia menyaksikan mayat sungguhan, ia menyadari bahwa angka di koran adalah orang. Ini adalah jenis kesadaran yang khas Kikuchi: kritik terhadap dehumanisasi modernitas.

Film Universal di Asakusa: Sinema Awal sebagai Pendidikan Selera

Referensi Kikuchi terhadap film Universal Studios Amerika di Asakusa adalah detail historis yang penting. Pada awal 1920-an, Asakusa adalah pusat hiburan populer Tokyo. Bioskop seperti Denkikan (1903) menayangkan film bisu impor dari Hollywood, terutama komedi slapstick dengan tokoh-tokoh seperti Mabel Normand, Roscoe 'Fatty' Arbuckle, dan kemudian Charlie Chaplin.

Adegan yang diingat Keikichi — aktris gemuk yang berulang kali jatuh ke danau saat orang-orang mencoba menyelamatkannya — adalah formula klasik komedi slapstick era diam: pengulangan, anti-klimaks, dan kepuasan visceral dari melihat orang lain menderita secara komik. Universal Studios memang memproduksi banyak komedi seperti ini di pertengahan 1910-an, sering disutradarai Mack Sennett atau Henry 'Pathe' Lehrman.

Kikuchi menggunakan referensi ini bukan untuk mengkritik sinema, tetapi untuk menunjukkan bahwa psikologi tawa kerumunan adalah universal — sama di bioskop maupun di tepi sungai, sama di Amerika maupun di Jepang. Yang membedakan hanyalah apakah objek tawa adalah fiksi (aktris yang dibayar) atau realitas (mayat seorang perempuan yang baru saja bunuh diri).

Kerumunan Urban: Topik Sastra Taisho

Tema kerumunan urban (gunshu) adalah salah satu obsesi sastra Taisho. Penulis-penulis seperti Tanizaki Junichiro, Edogawa Ranpo, dan tentu saja Akutagawa Ryunosuke (sahabat dekat Kikuchi) sering menulis tentang anonimitas, voyeurisme, dan kekejaman pasif kerumunan kota.

Pada masa Kikuchi menulis cerpen ini, ide-ide sosiolog Eropa seperti Gustave Le Bon (La psychologie des foules, 1895) tentang psikologi massa baru saja diperkenalkan ke Jepang melalui terjemahan. Kikuchi tampak menyerap pemikiran ini tetapi memberinya nuansa khas Jepang: tidak ada moralitas yang puas diri — bahkan pengamat sendiri (Keikichi, dan dengan demikian pengarang) tidak terlepas dari psikologi yang dikecamnya.

Mengapa Cerpen Ini Relevan bagi Pembaca Indonesia 2026

Bagi pembaca Indonesia hari ini, Menertawakan yang Mati mungkin terasa sangat akrab justru karena temanya. Di era media sosial, kita menyaksikan setiap hari bagaimana tragedi pribadi — kecelakaan, kematian, bunuh diri — dikonsumsi sebagai konten yang dibagikan, dikomentari, kadang ditertawakan. Pertanyaan Kikuchi pada 1921 — 'Pantaskah manusia tertawa seperti ini terhadap mayat sesama manusia?' — adalah pertanyaan yang sama dengan yang kita hadapi di era TikTok dan Twitter.

Tetapi yang membuat Kikuchi lebih dari sekadar moralis adalah penutup cerpennya. Keikichi tidak berkesimpulan dengan rasa superior moral atas kerumunan; sebaliknya, ia mengakui bahwa ia sendiri pun memiliki rasa ingin tahu dangkal yang sama. Pengakuan jujur ini — bahwa kita semua adalah bagian dari kerumunan yang kita kecam — adalah kontribusi etis paling berharga dari cerpen ini.

Baca Menertawakan yang Mati karya Kikuchi Kan di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera