Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt
Konteks Lukisan yang Meramal – Boston Kolonial, Gilbert Stuart, dan Takhayul Salem
Konteks sejarah dan budaya cerpen Lukisan yang Meramal karya Hawthorne (1837): anekdot pelukis Gilbert Stuart dari History of the Arts of Design, latar Boston kolonial awal abad ke-18, tokoh-tokoh sejarah nyata, dan takhayul zaman Salem witch trials.
Pagera Editorial
Lukisan yang Meramal karya Nathaniel Hawthorne bukan ditulis dalam kekosongan sejarah. Dalam catatan pembuka cerpen ini, Hawthorne sendiri menyatakan bahwa cerita ini terilhami dari sebuah anekdot tentang Gilbert Stuart, yang dikisahkan dalam History of the Arts of Design in the United States (1834) karya William Dunlap. Anekdot itu, ditambah pemahaman Hawthorne yang mendalam tentang sejarah kolonial New England, menjadi dasar bagi salah satu alegori paling kuat dari Twice-Told Tales.
Gilbert Stuart: Pelukis Amerika yang Meramal
Gilbert Stuart (1755–1828) adalah salah satu pelukis potret Amerika paling termasyhur di awal Republik. Ia paling dikenal sebagai pelukis potret George Washington yang muncul pada uang dolar Amerika hingga hari ini. Anekdot yang dikutip Hawthorne menceritakan bahwa Stuart pernah melukis seorang lelaki di Inggris, dan tanpa disengaja menangkap tatapan kegilaan yang baru bertahun-tahun kemudian muncul pada wajah orang itu — ketika ia memang menjadi gila dan dirawat di rumah sakit jiwa.
William Dunlap (1766–1839) sendiri adalah dramawan, pelukis, dan sejarawan seni Amerika. History of the Arts of Design adalah karya monumentalnya yang menjadi rujukan utama untuk seni rupa Amerika abad ke-19 awal. Hawthorne, yang banyak membaca, menemukan dalam buku Dunlap bahan untuk merenungkan pertanyaan yang lebih besar: jika seni dapat menangkap masa depan, dapatkah ia memalingkan kita dari masa depan itu?
Latar Sejarah: Boston Awal Abad ke-18
Hawthorne menempatkan cerita ini secara samar pada awal abad ke-18 di Boston, kota utama kolonial Massachusetts. Beberapa tokoh sejarah nyata muncul sebagai potret di studio sang pelukis, dan masing-masing memberikan jangkar sejarah yang spesifik:
Dr. Mather — Cotton Mather (1663–1728), teolog Puritan Massachusetts, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Salem witch trials, dan ahli bahasa Ibrani.
Dr. Boylston — Zabdiel Boylston (1679–1766), dokter Boston yang pertama kali memperkenalkan inokulasi cacar di Amerika.
Gubernur Burnett — William Burnet (1688–1729), gubernur kolonial Massachusetts dan New Hampshire, terkenal karena konflik panjang dengan Dewan Perwakilan setempat.
Tuan Cooke — Elisha Cooke Jr. (1678–1737), pemimpin parlemen kolonial Massachusetts, lawan politik utama Burnet.
Sir William Phipps (1651–1695) — gubernur kerajaan pertama Massachusetts Bay. "Mendiang nyonyanya" yang muncul dalam potret "dicurigai bersihir" — mengacu pada peran Phipps sendiri dalam menghentikan Salem witch trials 1692.
John Winslow (1703–1774) — perwira militer kolonial Massachusetts; potretnya "masih muda" dalam cerita ini menunjukkan latar waktu kira-kira 1720-an, sebelum Winslow menjadi jenderal terkemuka.
Pendeta Dr. Colman — Benjamin Colman (1673–1747), pendeta liberal yang mendirikan Brattle Street Church di Boston dan tokoh penting kehidupan rohani kota itu.
Susunan tokoh ini menunjukkan bahwa Hawthorne secara hati-hati memilih satu generasi spesifik untuk menjadi galeri sang pelukis — generasi yang masih hidup di bayang Salem witch trials, tetapi mulai memasuki masa Pencerahan Amerika.
Takhayul Salem: Bayang yang Tidak Pernah Lepas
Salah satu sentuhan paling jeli Hawthorne adalah ketika ia menyebut bahwa beberapa orang Boston menganggap pelukis itu sebagai "Lelaki Hitam termasyhur dari zaman penyihir purba" — sebuah istilah yang spesifik untuk takhayul Massachusetts pasca-Salem witch trials 1692. Black Man of the woods adalah figur iblis yang konon menggoda penyihir di hutan Salem untuk menandatangani namanya dalam "buku iblis" dengan darah. Bahwa lima belas tahun setelah witch trials, sebagian Boston masih membayangkan pelukis sebagai inkarnasi figur ini, menunjukkan betapa mendalam bayang ngeri itu masih ada di benak masyarakat.
Hawthorne, sebagai keturunan langsung dari salah satu hakim Salem witch trials (John Hathorne), memiliki ketertarikan pribadi yang dalam terhadap takhayul ini. Ia sering menggunakan tema penyihir dan iblis bukan sebagai unsur supernatural sederhana, melainkan sebagai cermin moral untuk ambisi dan ketakutan manusia.
Hukum Musa dan Keberatan Puritan terhadap Lukisan
Hawthorne mencatat bahwa sebagian penduduk Boston menganggap perbuatan sang pelukis sebagai "pelanggaran terhadap hukum Musa" — yakni keberatan Puritan terhadap pembuatan citra makhluk hidup, yang berakar pada larangan Sepuluh Perintah ("Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun..."). Keberatan ini, walaupun semakin lemah di abad ke-18, masih menggemakan praktik Reformasi Inggris dan Belanda. Bahwa sang pelukis dapat tetap bekerja di Boston menunjukkan transisi dari Puritanisme keras ke Pencerahan toleran.
Pengembaraan Sang Pelukis: Geografi Amerika Romantik
Pada babak ketiga cerita, sang pelukis pulang dari pengembaraan panjang yang membawanya melintasi alam Amerika yang romantik:
Crystal Hills — nama lama untuk White Mountains di New Hampshire, gunung tertinggi di New England.
Danau George di New York utara — danau yang sering disebut "Vatikan Amerika" karena keindahannya.
Niagara — air terjun yang sudah menjadi tujuan utama wisatawan romantik Amerika sejak awal abad ke-19.
Perkampungan suku Indian — Hawthorne menyebut "martabat tegar para kepala suku Indian" dan "keindahan kelam para gadis Indian". Bahwa sang pelukis melukis mereka, alih-alih hanya pemandangan alam, menunjukkan minat awal abad ke-19 terhadap dokumentasi etnografis penduduk asli Amerika.
Petarung Prancis tua — sisa dari perang Indian-Prancis (1754–1763), generasi yang sudah memutih di hutan-hutan Amerika.
Pengembaraan ini menunjukkan bahwa Hawthorne menulis pada saat Amerika sedang membentuk identitas budayanya sendiri yang berbeda dari Eropa — di mana lukisan lanskap Hudson River School (Thomas Cole, Frederic Church) dan etnografi George Catlin menjadi cara baru untuk memahami benua ini.
Twice-Told Tales (1837): Kumpulan Cerpen yang Memuat Kisah Ini
Twice-Told Tales adalah kumpulan pertama Hawthorne dan dianggap salah satu titik balik untuk genre cerpen di Amerika. Edgar Allan Poe menulis ulasan panjang dan terkenal tentang kumpulan ini pada 1842, di mana ia merumuskan teorinya tentang "efek tunggal" untuk cerpen pendek. Poe memuji Hawthorne karena "jenius kreatifnya yang tinggi" — walau juga mengkritik kecenderungan alegoris Hawthorne yang berlebihan.
Baca Lukisan yang Meramal karya Nathaniel Hawthorne secara gratis di Pagera.
Referensi: Gilbert Stuart (Wikipedia) · Salem witch trials (Wikipedia) · Teks asli Project Gutenberg #9204
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.