Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Pandemi Influenza Spanyol di Jepang 1918-1920: Latar Sejarah Masker Kikuchi Kan

Pandemi influenza Spanyol melanda Jepang dari 1918 hingga 1920, menelan sekitar 450.000 nyawa dari populasi 56 juta. Inilah latar sejarah yang membentuk cerpen Masker karya Kikuchi Kan — sebelum era Taishō berakhir dan jauh sebelum COVID-19.

Pagera Editorial

Pandemi influenza Spanyol Jepang Taishō adalah bencana kesehatan masyarakat terburuk dalam sejarah Jepang modern — meskipun anehnya jarang dibicarakan dalam memori publik Jepang sendiri. Tiga gelombang virus H1N1 melanda Jepang dari musim gugur 1918 hingga musim semi 1920, menelan diperkirakan 450.000 nyawa dari populasi 56 juta pada waktu itu, atau hampir 0,8% populasi. Bandingkan dengan COVID-19 di Jepang yang menelan sekitar 75.000 nyawa dari 125 juta populasi (0,06%) selama 2020-2023, dan skala influenza Spanyol terlihat menakutkan.

Kikuchi Kan menulis cerpen Masker (マスク) pada 1920 — bukan sebagai sejarawan yang melihat ke belakang, tetapi sebagai saksi mata yang menulis di tengah krisis. Untuk pembaca Indonesia yang baru saja melewati COVID-19, memahami latar belakang sejarah ini akan membuka lapis kedalaman cerpen ini.

Asal Usul Nama: Mengapa Spanyol?

Pandemi 1918-1920 sebenarnya tidak berasal dari Spanyol. Bukti epidemiologis modern menunjukkan virus mungkin muncul di Kansas, Amerika Serikat (pangkalan militer Camp Funston, Maret 1918), atau di kamp tentara Tiongkok yang dikerahkan ke front Eropa. Namun, karena Spanyol netral dalam Perang Dunia I, persnya tidak disensor, sehingga laporan tentang penyakit Raja Alfonso XIII yang sakit parah menjadi berita internasional pertama. Hasilnya: dunia salah menyalahkan Spanyol, dan nama influenza Spanyol melekat.

Tiga Gelombang Pandemi di Jepang

Jepang mengalami pandemi dalam tiga gelombang berbeda, masing-masing dengan karakter sendiri:

Gelombang Pertama: April-Juli 1918

Gelombang ringan yang awalnya tidak dikenali sebagai influenza. Kematian rendah, gejala mirip flu musiman biasa. Kementerian Dalam Negeri Jepang (内務省) tidak menerbitkan peringatan publik. Banyak orang sembuh dalam beberapa hari.

Gelombang Kedua: Oktober 1918-Mei 1919 (Paling Mematikan)

Virus mutasi yang jauh lebih virulen menyerang. Inilah gelombang yang dipotret Kikuchi Kan dalam Masker. Korban tewas di Tokyo mencapai puncak sekitar 3.337 orang dalam satu hari — angka pasti yang dikutip Kikuchi dalam cerpennya (kemungkinan dari surat kabar harian seperti Yomiuri atau Asahi Shinbun). Total kematian gelombang kedua diperkirakan 257.000 orang di seluruh Jepang.

Berbeda dengan flu musiman normal yang membunuh terutama bayi dan lansia, influenza Spanyol mengejar dengan kuat orang dewasa muda berusia 20-40 tahun. Inilah mengapa narator Masker — meskipun gemuk dan tampak sehat — merasa diri sendiri sangat rentan: bukan hanya karena jantungnya lemah, tetapi karena demografi rentan terhadap virus ini justru adalah orang dewasa produktif seperti dirinya.

Gelombang Ketiga: Desember 1919-Mei 1920

Gelombang akhir yang lebih ringan. Sekitar 187.000 kematian. Masker ditulis pada akhir gelombang ini — Kikuchi mencatat kembalinya virus pada April-Mei 1920, momen ketika narator mulai menyaksikan pemuda bermasker hitam di stadion Waseda.

Tindakan Pemerintah Meiji-Taishō

Pada awal pandemi, pemerintah Jepang lambat bertindak. Kementerian Dalam Negeri akhirnya mengeluarkan brosur pencegahan pada November 1918, yang menyarankan:

  • Menghindari kerumunan

  • Memakai masker kain kasa di tempat umum

  • Berkumur dengan larutan antiseptik (sering: larutan hidrogen peroksida atau larutan boraks)

  • Membersihkan rumah dengan ventilasi udara

  • Melaporkan gejala demam tinggi ke dokter sesegera mungkin

Brosur ini didistribusikan ke setiap rumah tangga melalui sistem pemerintahan lokal. Narator Masker mengikuti rekomendasi ini dengan akurasi yang mengherankan: dia berkumur dengan hidrogen peroksida pagi-sore, memakai masker kasa, menghindari kerumunan. Kikuchi tidak mengarang detail — dia mencatat rutinitas yang nyata bagi kelas menengah Tokyo yang paham brosur pemerintah.

Masker pada 1918-1920: Inovasi Sosial

Inilah salah satu detail historis paling menarik dari cerpen ini: 1918-1920 adalah pertama kali masker kain dikenal sebagai alat pencegah penyakit oleh masyarakat umum Jepang. Sebelumnya, masker hanya dikenal oleh dokter dan personel medis. Selama dan setelah pandemi influenza Spanyol, masker menjadi bagian rutin kehidupan urban Jepang — dan tradisi ini tidak pernah benar-benar berhenti.

Itulah mengapa, ketika seluruh dunia bertanya-tanya pada awal 2020 mengapa orang Jepang sudah terbiasa memakai masker untuk flu musiman, jawabannya berasal dari 1918-1920. Kebiasaan masker yang menjadi norma sosial Jepang abad ke-21 berakar pada pandemi yang dipotret Kikuchi Kan.

Era Taishō: Konteks Sosial dan Politik

1918-1920 adalah masa pasca-Perang Dunia I di Jepang. Era Taishō (大正, 1912-1926) — bernama dari Kaisar Taishō, putra Kaisar Meiji — dikenal sebagai dekade Taishō Democracy: liberalisasi politik, pertumbuhan kelas menengah urban, pengaruh budaya Barat (jas, topi, teh kopi, bisbol), aktivisme sosial. Tetapi juga: kerusuhan beras 1918 (kome sōdō), inflasi pasca-perang, dan pertumbuhan ketegangan kelas.

Narator Kikuchi adalah figur khas Taishō: pria shokuminmu (kelas menengah urban) yang bekerja di profesi modern (wartawan, lalu novelis), tinggal di rumah Western-Japanese hybrid di Tokyo, bermain bisbol, membaca surat kabar harian, mempekerjakan pembantu wanita, dan berkonsultasi dengan dokter ala Barat. Bisbol Chicago-Waseda yang muncul di klimaks cerpen — ini adalah tur tim All-Stars Amerika Serikat ke Jepang pada Mei 1920, salah satu peristiwa olahraga internasional besar pertama di Jepang Taishō.

Mengapa Pandemi Ini Dilupakan?

Aneh tapi nyata: influenza Spanyol — meskipun membunuh tiga kali lebih banyak orang Jepang daripada COVID-19 — hampir hilang dari memori kolektif Jepang. Tidak ada peringatan publik, tidak ada museum, sedikit film. Beberapa alasan mungkin:

  • Dibayang-bayangi Perang Dunia I: pandemi terjadi bersamaan dengan akhir perang besar pertama abad ke-20, yang memakan korban militer dan sipil jauh lebih dramatis di media.

  • Dibayang-bayangi Gempa Kantō 1923: tiga tahun kemudian, Gempa Besar Kantō menghancurkan Tokyo dan Yokohama, menelan 105.000+ nyawa dalam sehari. Bencana ini menjadi trauma nasional yang menutupi memori influenza.

  • Cara penyakit menyebar: berbeda dengan gempa atau perang yang spektakular, pandemi terjadi tenang dalam rumah-rumah, satu kematian pada satu waktu, tanpa narasi pahlawan atau musuh.

Itulah mengapa Masker Kikuchi Kan sangat berharga — cerpen ini adalah salah satu dari sangat sedikit karya sastra Jepang yang langsung memotret pengalaman pandemi influenza Spanyol dari dalam.

Untuk Pembaca Pasca-COVID

Bagi pembaca Indonesia yang melewati 2020-2022, paralelnya akan terasa langsung mengganggu:

  • Konsultasi dokter yang berisi vonis serius (jantung lemah ~ komorbid)

  • Surat kabar harian dengan kolom angka kematian (sama dengan dashboard COVID)

  • Masker yang awalnya tabu, lalu wajib, lalu opsional, lalu sosial

  • Kebanggaan moral menjadi orang yang tetap memakai masker setelah orang lain berhenti

  • Reaksi mendalam terhadap orang yang berbeda pilihan

Kikuchi tidak meramalkan masa depan. Dia hanya mencatat psikologi manusia di hadapan virus — dan psikologi itu, ternyata, sangat sedikit berubah dalam seratus tahun.

Baca Masker karya Kikuchi Kan di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera