Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Kyoto 1907: Kota Kuno di Tengah Jepang yang Berubah Cepat

Meiji 40 (1907) adalah titik paling bergolak dalam modernisasi Jepang. Sementara Tokyo berubah secepat bintang jatuh, Kyoto berdiri diam seperti selalu. Inilah konteks yang membentuk esai Senja di Kyoto karya Natsume Soseki.

Pagera Editorial

Untuk memahami mengapa Senja di Kyoto terasa begitu berat, kita perlu mengetahui dunia tempat Natsume Soseki hidup dan menulis. Tahun 1907, atau Meiji 40, adalah waktu yang sangat spesifik dalam sejarah Jepang.

Jepang baru saja memenangkan Perang Rusia-Jepang (1904-1905), sebuah kemenangan yang mengejutkan dunia dan membuat Jepang berdiri sejajar dengan kekuatan-kekuatan besar Eropa. Modernisasi yang dimulai sejak Restorasi Meiji 1868 telah mengubah negeri ini dari kerajaan feodal menjadi negara industri modern dalam waktu kurang dari empat puluh tahun.

Kyoto 1907: Kota yang Menolak Berubah

Di tengah arus modernisasi yang gila itu, Kyoto berdiri dengan caranya sendiri. Ibu kota kekaisaran selama lebih dari seribu tahun, sejak Kaisar Kanmu memindahkan istana ke sana pada 794 Masehi, Kyoto adalah kota yang menganggap dirinya lebih tua dari perubahan apa pun.

Ketika Soseki tiba di Stasiun Shichijo pada malam musim semi itu, yang ia temui adalah kota yang sama seperti yang dikunjunginya 15-16 tahun sebelumnya: jalan-jalan sempit dengan nama yang tidak berubah sejak era Heian, lampion-lampion berdebu di bawah atap beranda, dan keheningan yang terasa seperti waktu membekukan diri.

Dalam esai itu, Soseki menulis: padang Sanekata, Sungai Kamo, Gunung Hiei, Atago, dan Kurama, semuanya persis seperti dulu: padang, sungai, dan gunung yang tidak berubah. Bagi Soseki, keabadian Kyoto bukan sesuatu yang menghibur. Justru sebaliknya: kota yang tidak berubah membuat kontras yang menyakitkan dengan semua yang telah berubah dalam dirinya, termasuk ketiadaan Shiki.

Jalur Kereta Tokaido: Jantung Modernisasi

Perjalanan Soseki dari Tokyo ke Kyoto menggunakan jalur kereta Tokaido, jalur kereta terpenting di Jepang yang menghubungkan dua kota besar itu. Jalur ini adalah simbol modernisasi Meiji paling nyata: ia memotong jarak 500 kilometer lebih yang dulu memerlukan dua minggu berjalan kaki menjadi perjalanan satu malam.

Di awal esai, Soseki menggambarkan kereta dengan kalimat yang luar biasa: kereta uap melesat secepat bintang jatuh, menembus 200 ri musim semi, lalu melemparkan aku ke atas peron. Kereta bukan sekadar kendaraan. Ia adalah kekuatan yang melempar manusia dari satu dunia ke dunia lain.

Riksha: Teknologi yang Terdesak

Setibanya di Kyoto, Soseki naik riksha, bukan mobil atau trem. Di 1907, riksha masih menjadi transportasi utama di dalam kota Kyoto. Bunyi rodanya, kan-kararan di atas batu jalanan, menjadi leitmotif esai ini: suara era lama yang melawan keheningan kota kuno.

Menariknya, Soseki menyebut angka yang sangat spesifik: ia mengeluarkan 22 yen 50 sen untuk tiket kereta dari Tokyo ke Kyoto. Di era Meiji, ini adalah jumlah yang besar, setara dengan beberapa bulan gaji buruh biasa. Transportasi modern memang tersedia, namun tidak murah.

Zenzai dan Budaya Makanan Kyoto

Salah satu motif terkuat dalam esai ini adalah Zenzai, sup kacang merah azuki yang dimasak manis. Di Kyoto, warung Zenzai dengan lampion besarnya adalah pemandangan malam yang sangat khas. Soseki melihat lampion itu sebagai simbol Kyoto yang tidak berubah, dan sekaligus sebagai jembatan ke kenangan bersama Shiki.

Yang membuat motif ini begitu kuat adalah ironi kecil yang Soseki ungkapkan dengan tenang: meski lampion Zenzai selalu menarik perhatiannya setiap kali ke Kyoto, ia sendiri tidak pernah sekalipun benar-benar makan Zenzai. Ia bahkan tidak tahu wujud sesungguhnya Zenzai itu. Kenangan tentang lampion merah itu lebih nyata dari rasanya.

Hutan Tadasu dan Kuil Shimogamo

Tujuan akhir perjalanan Soseki adalah sebuah rumah di tepi Hutan Tadasu, hutan keramat di kompleks Kuil Shimogamo yang terletak di persimpangan Sungai Kamo dan Sungai Takano. Hutan ini adalah salah satu tempat paling tua di Kyoto: pohon-pohon besarnya berusia ratusan tahun, dan kawasan ini dianggap sakral oleh penganut Shinto sejak sebelum Kyoto berdiri sebagai ibu kota.

Di sinilah Soseki tidur di bawah selimut futoori, mendengar lonceng jam tengah malam, dan dibangunkan oleh suara gagak di pagi hari. Hutan yang tenang di luar memperbesar keheningan yang ia bawa dari dalam.

Soseki sebagai Pengamat Modernisasi

Soseki bukan penulis yang meromantisasi masa lalu atau menolak modernitas. Ia pernah belajar dua tahun di London, menguasai sastra Inggris, dan mengajar di universitas modern. Namun ia juga tidak silau oleh modernitas.

Dalam esai ini, ketegangan itu hadir secara halus: kereta yang melempar manusia ke kota kuno, riksha yang berbunyi di atas batu jalanan, selimut futoori dan tenunan Gun'nai di kamar 12 tatami, dan lonceng jam abad ke-18 berbingkai kayu cendana ungu yang berbunyi di tengah malam. Modernitas dan tradisi berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Yang menyatukan semuanya adalah kesadaran diam-diam bahwa masa muda tidak bisa kembali, dan sahabat yang telah pergi tidak bisa dipanggil lagi.

Masaoka Shiki: Sahabat yang Mendahului

Tidak mungkin membicarakan Senja di Kyoto tanpa membicarakan Masaoka Shiki (1867-1902). Shiki adalah penyair haiku dan tanka yang merombak tradisi puisi Jepang dengan prinsip shasei (sketsa kehidupan nyata). Ia juga adalah sahabat terdekat Soseki sejak masa universitas.

Shiki meninggal pada usia 34 tahun setelah bertahun-tahun berjuang melawan tuberkulosis tulang yang sangat menyakitkan. Dalam esai ini, Soseki menggambarkan kematian Shiki dengan satu kalimat yang menghantam: Shiki telah tiada. Pergi mengering, seperti hechima (labu pundak) yang layu dan kering.

Hechima adalah simbol yang sangat disengaja: Shiki sendiri menulis haiku tentang hechima di hari-hari terakhir hidupnya, menggunakannya sebagai metafora tubuhnya yang layu oleh penyakit.

Untuk membaca lebih banyak karya sastra Jepang era Meiji dalam bahasa Indonesia, tersedia juga Pendidikan dan Seni Sastra (Natsume Soseki) dan Kabar dari London di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Natsume Soseki dan era Meiji di Wikipedia Indonesia dan artikel Masaoka Shiki di Wikipedia Inggris.

Baca Senja di Kyoto di Pagera, gratis, lengkap dalam bahasa Indonesia.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera