Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-14 · Waktu baca ~ 4 mnt

Konteks Sastra 'Oni Momotaro': Dongeng Momotaro, Era Meiji, dan Seni Parodi Kenyu-sha

Untuk memahami 'Oni Momotaro' sepenuhnya, perlu tahu tiga hal: seperti apa dongeng Momotaro yang asli, bagaimana suasana sastra Meiji akhir abad ke-19 ketika cerpen ini ditulis, dan apa yang membuat parodi Ozaki Koyo berbeda dari sekadar lelucon. Artikel ini menyajikan ketiga konteks itu.

Pagera Editorial

Membaca Oni Momotaro tanpa latar belakang yang cukup ibarat menonton parodi tanpa pernah melihat film yang diparodikan. Kamu mungkin masih menikmatinya, tapi separuh kesenangannya terlewat. Artikel ini menyiapkan konteks yang kamu butuhkan.

Pertama: Dongeng Momotaro yang Asli

Momotaro adalah dongeng yang kemungkinan besar sudah beredar di Jepang sejak periode Muromachi (abad ke-14 hingga ke-16), meski versi cetak pertama yang diketahui berasal dari abad ke-17. Di abad ke-19, kisah ini sudah menjadi dongeng paling dikenal di Jepang, setara dengan Cinderella atau Biancaneve di Eropa.

Alurnya sederhana dan tetap. Sepasang kakek-nenek yang tidak punya anak menemukan buah persik raksasa yang hanyut di sungai. Dari dalam buah persik itu lahirlah seorang bayi laki-laki yang mereka beri nama Momotaro (Putra Persik). Momotaro tumbuh menjadi anak yang kuat. Saat dewasa, ia memutuskan pergi ke Pulau Oni (Onigashima) yang menjadi sarang para iblis yang selama ini merampas harta dan mengganggu penduduk.

Dalam perjalanan, ia bertemu seekor kera, seekor burung pegar (kijang dalam beberapa versi), dan seekor anjing. Ketiganya bergabung sebagai pengikutnya setelah diberi kibi-dango, kue dari tepung millet. Bersama mereka, Momotaro menyerbu Pulau Oni, mengalahkan Raja Oni, dan membawa pulang seluruh harta rampasan. Ia disambut sebagai pahlawan.

Struktur ini adalah apa yang diparodikan Ozaki Koyo. Setiap elemen dalam Oni Momotaro memiliki padanannya dalam dongeng asli, tapi dibalik sudut pandangnya: persik manis menjadi persik pahit, kue kibi-dango menjadi tengkorak manusia panggang, kera-pegar-anjing menjadi naga-babon-serigala, dan pahlawan yang menang menjadi pahlawan yang jatuh dari awan sebelum sampai ke tujuan.

Kedua: Suasana Sastra Meiji Akhir Abad ke-19

Ketika Ozaki Koyo menulis Oni Momotaro pada 1891, Jepang sedang berada di tengah transformasi besar. Era Meiji (1868-1912) adalah periode di mana Jepang secara sadar mendorong westernisasi di hampir semua bidang: pemerintahan, pendidikan, militer, ekonomi, dan budaya.

Dalam sastra, tekanan westernisasi terasa kuat. Banyak penulis muda berlomba mempelajari dan meniru gaya sastra Eropa. Novel realis bergaya Flaubert atau Turgenev menjadi acuan. Bahasa sehari-hari (kogo) mulai dianggap lebih modern dan relevan dibanding bahasa prosa klasik (bungotai).

Kenyu-sha, kelompok sastra yang didirikan Ozaki Koyo bersama rekan-rekannya pada 1885, mengambil posisi yang tidak lazim di tengah arus ini. Mereka tidak menolak modernitas, tapi mereka percaya bahwa sastra Jepang punya kekayaan tradisi yang tidak perlu dibuang demi menjadi modern. Koyo dan kawan-kawan mempelajari prosa klasik Heian dan Edo dengan serius, lalu menggunakan teknik-teknik itu untuk menulis tentang kehidupan Meiji.

Hasilnya adalah gaya yang khas: prosa yang terasa agung dan memiliki ritme, tapi tidak terasa usang atau kaku. Saat Koyo menulis parodi dongeng, ia menulis dalam gaya yang sama dengan gaya yang digunakan untuk menulis dongeng itu sendiri. Ironi bekerja dari dalam, bukan dari luar.

Ketiga: Momotaro sebagai Simbol Nasional

Aspek penting yang perlu dipahami: pada akhir abad ke-19, dongeng Momotaro bukan hanya hiburan anak-anak. Ia sudah mulai dimuati makna yang lebih berat. Dalam narasi nasionalis Meiji, Momotaro sering dibaca sebagai metafora kekuatan Jepang yang mengalahkan kekuatan asing (para oni) dan membawa pulang kemakmuran.

Ketika Ozaki Koyo membalikkan perspektif dongeng ini, ia tidak sekadar membuat lelucon. Ia juga sedang mengambil jarak dari narasi nasionalis yang terlalu mudah itu. Para oni dalam Oni Momotaro digambarkan bukan sebagai monster yang layak dikalahkan, melainkan sebagai mahluk yang punya kehormatan, rasa malu, dendam yang bisa dimengerti, dan bahkan kelucuan yang manusiawi. Dengan meminjamkan simpati kepada para oni, Koyo mengingatkan pembaca bahwa dalam setiap cerita kemenangan, ada pihak yang kalah dan merasa sakit.

Di sisi lain, cara Kumomotaro gagal, bukan karena kalah dari pahlawan yang lebih kuat, melainkan karena pertikaian dalam barisannya sendiri, adalah ironi yang lebih dalam: ambisi besar yang runtuh bukan dari luar, melainkan dari dalam.

Keempat: Tradisi Parodi dalam Sastra Klasik Jepang

Parodi dongeng bukan hal baru dalam sastra Jepang. Sejak era Heian, ada tradisi sastra yang disebut mitate (見立て): teknik mengambil karya atau elemen yang sudah dikenal, lalu menempatkannya dalam konteks baru yang menghasilkan makna yang berbeda. Waka parodi, parodi kisah Genji, parodi peristiwa sejarah, semuanya punya sejarah panjang dalam sastra Jepang.

Apa yang membuat Koyo menonjol adalah kecanggihan eksekusinya. Ia tidak hanya membalik alur, ia juga membalik nada emosional. Dongeng asli Momotaro terasa seperti kisah pahlawan yang jelas dan bersih. Parodi Koyo terasa seperti gambaran dunia yang lebih berantakan, di mana rencana besar bisa gagal karena hal-hal kecil, dan pahlawan yang disiapkan dengan segala kemegahan ritual justru tidak pernah sampai ke panggung pertempuran.

Konteks untuk Pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia yang tidak tumbuh dengan dongeng Momotaro, menikmati Oni Momotaro tetap bisa dilakukan tanpa perlu hafal semua detailnya. Ozaki Koyo merangkum latar belakang dongeng aslinya di bagian pembuka cerpen, dengan gaya narasi yang cukup untuk memberikan konteks.

Yang lebih penting untuk dinikmati adalah struktur ironinya: ekspedisi yang disiapkan dengan kemegahan yang luar biasa, tetapi gagal sebelum mencapai tujuan. Itu adalah ironi yang universal, tidak memerlukan pengetahuan budaya Jepang untuk bisa dirasakan.

Dan jika kamu tertarik menggali lebih dalam, teks lengkap terjemahan bahasa Indonesia tersedia di Pagera, bersama catatan glosarium yang membantu memahami istilah-istilah budaya yang muncul sepanjang cerita.

Baca Oni Momotaro di Pagera

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera