Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt
Konteks Menara London – Sōseki di Inggris 1900–1902, Tudor di Mata Meiji, dan Pendahulu Yume Jūya
Lima lapis konteks Menara London (1905): Sōseki di London 1900–1902 yang menyiksa, sejarah Tower of London dari William the Conqueror hingga Tudor, peperangan estetika 余裕派 vs naturalisme, kutipan Dante-Ainsworth-Shakespeare, dan posisi sebagai pendahulu langsung Yume Jūya 1908.
Pagera Editorial
«Menara London» (倫敦塔, Rondon-tō) diterbitkan di majalah Teikoku Bungaku edisi Januari 1905 dan kemudian dihimpun dalam kumpulan Yōkyoshū (漾虚集) yang terbit pada 1906. Untuk memahami mengapa karya ini menjadi salah satu cerpen fantastik paling matang Sōseki sekaligus pelopor «Yume Jūya» (1908), kita perlu memahami lima lapis konteksnya. Baca terjemahan Indonesianya secara gratis.
1. Sōseki di London — Dua Tahun yang Menyiksa (1900–1902)
Pada Mei 1900, pemerintah Meiji memberi Natsume Sōseki (1867–1916) beasiswa dua tahun untuk belajar sastra Inggris di London. Tetapi pengalaman London menjadi mimpi buruk: ia mengalami depresi berat, isolasi sosial, dan masalah keuangan. Beasiswa tak mencukupi — ia tinggal di kamar-kamar sempit di Clapham Common, Camberwell, dan akhirnya Tooting Bec — dan menghindari kuliah resmi, lebih memilih membaca sendiri di kamar. Sebuah laporan resmi pemerintah bahkan mendeskripsikannya sebagai "Natsume yang gila" — kabar yang sampai ke Tokyo dan memicu kepulangannya pada Desember 1902.
Kunjungan tunggal ke Tower of London terjadi pada masa-masa awal di London — sebelum depresi memburuk. Itu sebabnya Sōseki menulis: "Bagiku, kunjungan ke «Menara» sebaiknya cukup sekali saja" — karena ingatan tunggal yang murni itu terlalu sayang untuk dirobohkan oleh kunjungan kedua.
Justru di London inilah Sōseki mulai membangun teori sastra eksperimentalnya, yang kemudian terbit sebagai Bungaku-ron (Teori Sastra, 1907). «Menara London» — yang ditulis tiga tahun setelah ia pulang ke Jepang — adalah hasil pemikiran tersebut dalam bentuk sastra: fantastik, simbolis, dan reflektif.
2. Sejarah Tower of London — Dari William the Conqueror hingga Tudor
Sōseki memilih Tower of London bukan secara kebetulan. Kompleks ini, yang ia sebut "intisari dari sejarah Inggris", memuat hampir seluruh tragedi monarkis Inggris:
- 1066 — William the Conqueror membangun White Tower sebagai donjon kerajaan setelah penaklukan Norman.
- 1399 — Richard II (1367–1400) dipaksa turun tahta oleh Henry IV di Menara Putih (Sōseki menggambarkan adegan ini di Bab II).
- 1483 — Edward V (12 tahun) dan adiknya Richard (9 tahun), dua "Princes in the Tower", dipenjarakan dan dibunuh atas perintah Richard III — adegan yang menjadi khayalan pertama Sōseki.
- 1537 — Pasley dieksekusi dan meninggalkan prasasti "Pengharapanku ada dalam Kristus".
- 1554 — Lady Jane Grey (17 tahun, "Ratu Sembilan Hari") dipenggal pada 12 Februari setelah hanya sembilan hari memerintah; suaminya Lord Guildford Dudley dipenggal sehari sebelumnya. Ayah mertuanya John Dudley, Adipati Northumberland, telah dieksekusi 1553.
- 1605 — Guy Fawkes dipenjarakan di Menara Lonceng setelah Plot Bubuk Mesiu (Sōseki menyebutnya secara bayangan di akhir Bab III).
- 1660s — Raja Charles II menerima persembahan baju zirah Jepang dari Mongol — yang ditunjukkan oleh Beefeater kepada Sōseki di Bab II.
Setiap tahun penting di sejarah Tudor adalah satu prasasti di dinding Beauchamp Tower (91 inskripsi total), dan Sōseki menatapnya seperti membaca cincin pertumbuhan sebatang pohon. Tudor dynasty bermula dengan Henry VII pada 1485 — yang juga merupakan tahun pembentukan Yeomen Warders (Beefeater), penjaga Tower of London yang masih bertugas hingga hari ini dengan seragam merah-emas Tudor yang sama.
3. Peperangan Estetika — Naturalisme vs 余裕派 (yoyū-ha)
Pada 1904–1905, sastra Jepang Meiji sedang berada di ambang ledakan naturalisme. Shimazaki Tōson akan menerbitkan «Hakai» (1906) — debut naturalis besar pertama — dan Tayama Katai akan mengikuti dengan «Futon» (1907), yang akan membuka era pengakuan brutal naturalis.
Sōseki memilih jalan yang berlawanan. Di tahun yang sama ia akan menerbitkan «Wagahai wa Neko de Aru» (1905, dari sudut pandang seekor kucing), ia juga menerbitkan «Menara London» (Januari 1905) sebagai bukti bahwa fantastik dan reflektif dapat menjadi modus sastra yang sama matangnya dengan naturalisme. Aliran yang ia pimpin — 余裕派 (yoyū-ha, "aliran ketenangan") — memilih:
- Reflektif alih-alih konfesional.
- Simbolis alih-alih dokumenter.
- Jarak ironis alih-alih intensitas emosional.
- Fantastik dan historis alih-alih realis kontemporer.
Di «Menara London», Sōseki bahkan menulis pernyataan estetika secara terang-terangan di Bab II:
"Aku menghibur diri dengan kekhawatiran yang tak perlu. Saat aku mati nanti, aku tak akan menggubah puisi perpisahan pun. Setelah mati, aku tak akan minta dibangunkan batu nisan pun. Daging dibakar, tulang dijadikan bubuk, lalu pada hari ketika angin barat bertiup kencang, dihamburkan ke langit luas."
Ini deklarasi anti-monumental yang menjadi inti 余裕派: menolak monumen, menolak pengakuan, memilih jejak khayal yang akan terhembus angin.
4. Tiga Lapis Kutipan Klasik — Dante, Ainsworth, Shakespeare, Old English
Sōseki mengisi karyanya dengan empat sumber klasik Eropa yang menjadi tulang punggung struktur cerpen:
- Dante Inferno Canto III (1308–1320, Italia) — enam baris yang Sōseki tafsirkan dari pintu Neraka PER ME SI VA NELLA CITTÀ DOLENTE. Di terjemahan Pagera kami pertahankan dalam Bahasa Indonesia puitis-formal. Baris keenam "Siapa yang melewati gerbang ini, tinggalkanlah segala harapan" adalah frasa sastra dunia yang paling sering dikutip.
- William Harrison Ainsworth, The Tower of London (1840, Inggris) — sembilan bait puisi tukang penggal yang dipertahankan dalam Bahasa Inggris asli dalam terjemahan Pagera, mengikuti instruksi Sōseki sendiri yang menjelaskan: "Aku ingin menerjemahkan seluruh bait ini, tetapi tidak berjalan sebagaimana yang kuinginkan, dan lagipula khawatir terlalu panjang, maka kuhentikan."
- William Shakespeare, Richard III (sekitar 1592) — Sōseki mengakui di Bab III bahwa adegan Elizabeth menemui dua pangeran dan dialog pembunuh dipinjam dari "drama sejarah Sang Penyair Tua".
- Bahasa Inggris Kuno (sekitar 1500-an, ukiran asli di Beauchamp Tower) — empat baris pada lambang Dudley: "Yow that the beasts do wel behold and se…" yang juga dipertahankan dalam bahasa aslinya.
Cara Sōseki memperlakukan kutipan Eropa ini berbeda dengan sastrawan Meiji lainnya: ia tidak meratakannya ke bahasa Jepang seakan-akan miliknya sendiri, tetapi membiarkannya berdiri sebagai gemstones asli yang memantulkan cahaya budayanya masing-masing.
5. Pendahulu Langsung «Yume Jūya» (1908)
«Menara London» adalah pendahulu langsung «Sepuluh Malam Mimpi» (1908). Banyak teknik yang akan disempurnakan Sōseki di «Yume Jūya» sudah hadir di «Menara London»:
- Khayalan sebagai bingkai sastra: di Bab I–III, Sōseki menggunakan tiga khayalan terpisah (dua pangeran, ibu+pembunuh, Lady Jane Grey) — pendahulu sepuluh mimpi.
- Multi-temporal: dalam satu kunjungan ke Tower, Sōseki melintasi 1066–1605, sebagaimana di «Yume Jūya» ia akan melintasi jindai-Edo-Kamakura-Meiji.
- Perempuan misterius: perempuan dengan anak laki-laki di Bab II–III yang ternyata adalah Lady Jane Grey sendiri dalam wujud hantu kontemporer adalah pendahulu langsung perempuan-perempuan misterius di «Yume Jūya».
- Kalimat penutup yang membalikkan: setelah seluruh khayalan, Sōseki dihancurkan oleh pemilik penginapan yang menjelaskan "gagak selalu lima ekor karena diganti", sama seperti banyak mimpi «Yume Jūya» berakhir dengan pembalikan dingin.
Untuk pembaca yang ingin menikmati eksperimen fantastik Sōseki secara berurutan, urutan yang ideal adalah:
- «Menara London» (1905) — versi panjang, satu tempat, multi-temporal.
- «Yume Jūya» (1908) — sepuluh sketsa pendek, sepuluh tempat, multi-temporal.
Mengapa Karya Ini Penting Bagi Pembaca Indonesia Hari Ini?
Bagi pembaca Indonesia, «Menara London» dalam terjemahan Pagera menjadi pintu masuk yang halus ke sastra fantastik Jepang sekaligus jendela ke pertemuan East–West di awal abad ke-20. Sōseki adalah orang Asia pertama yang menatap Tudor dengan empati sastrawi — bukan dengan mata wisatawan, melainkan dengan mata seorang sastrawan yang memahami bahwa setiap menara tua di setiap kota tua di dunia menyimpan dendam dan kerinduan yang sama.
Catatan untuk Pembaca Muslim: Karya ini menggambarkan tempat eksekusi sejarah dengan adegan kapak dan darah sebagai konteks sejarah, bukan glorifikasi kekerasan; kutipan Dante Inferno III diperlakukan sebagai sitiran sastra abad pertengahan, bukan ajakan teologis Kristen. Adegan eksekusi Lady Jane Grey 17 tahun diperlakukan dengan jarak ironis Sōseki, bukan sebagai tontonan kekerasan.