Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Tokyo 1927: Konteks Sejarah dan Sastra di Balik Penulis Wanita Tokuda Shusei

Tokyo April 1927. Empat tahun setelah Gempa Kanto, dua tahun sebelum krisis ekonomi global, di tengah pertumbuhan bioskop, modan garu, dan kalangan sastra yang berkembang. Inilah konteks sejarah dan sastra di balik cerpen Tokuda Shusei.

Pagera Editorial

Ketika Tokuda Shusei menerbitkan Penulis Wanita di Shincho April 1927, Tokyo sedang dalam masa transisi yang sangat tajam. Empat tahun sebelumnya, kota ini hancur oleh Gempa Besar Kanto—lebih dari 100.000 jiwa tewas, sebagian besar pusat kota terbakar habis. Pembangunan kembali baru saja selesai, dan jejak bencana masih tampak di mana-mana, termasuk dalam adegan penggalangan sumbangan amal di pratayang film yang muncul dalam cerpen.

Lima bulan setelah penerbitan cerpen ini, Kaisar Taisho akan wafat. Era Taisho yang ditandai oleh "demokrasi Taisho," gerakan sosialis, dan kebebasan sastra akan berakhir. Era Showa baru akan dimulai—pada awalnya dengan optimisme, tapi pada akhirnya akan membawa Jepang ke militerisme dan Perang Pasifik.

Modan Garu: Wanita Modern dan Politik Penampilan

Salah satu konteks yang paling jelas dalam cerpen ini adalah dunia modan garu—modern girl, wanita perkotaan muda yang memotong rambutnya pendek (danpatsu), mengenakan pakaian Barat, dan menolak norma tradisional pernikahan dini dan kepatuhan kepada keluarga.

Eiko adalah modan garu par excellence. Ia memotong rambutnya pendek, meminta kekasihnya menyetrika ombak rambut dengan kote, hidup di kosan sendiri terpisah dari keluarga, dan menulis cerita tentang cinta sesama wanita untuk majalah komersial. Setiap satu detail ini adalah pernyataan politik di Tokyo 1927: tubuh, rambut, ruang tinggal, tema tulisan—semua ditentukan oleh pilihan individual, bukan oleh perintah keluarga atau norma masyarakat.

Tetapi Shusei menulis tentang modan garu bukan dengan dramatisasi atau pidato. Ia hanya menunjukkan: Eiko duduk di sudut kamar mengganti pakaian, datang ke depan lutut Komori, dan meminta dengan suara biasa, "Sayang, tolong tata bagian belakangnya sedikit lagi, ya." Adegan ini akan tidak mungkin terjadi sepuluh tahun sebelumnya di sastra Jepang. Dan Shusei menulisnya seakan-akan tak ada yang istimewa.

Bioskop Awal: 1920-an dan Industri Film Jepang

Industri film Jepang pada 1927 sudah berusia sekitar tiga puluh tahun, tapi masih dalam fase eksperimen besar-besaran. Studio-studio besar seperti Nikkatsu (1912), Shochiku (1920), dan Toho (akan didirikan 1932) sedang bersaing memperkenalkan teknik baru dari Hollywood. Pratayang film menjadi peristiwa sosial penting—dihadiri penulis, kritikus, jurnalis, dan tokoh teater.

Tapi Eiko, Komori, dan Tuan N yang menonton pratayang Lima Wanita di Sekelilingnya menyimpulkan dengan kecewa: "Ini cuma mengumpulkan teknik permukaan dari film impor." Kritik ini bukan tanpa dasar. Banyak film Jepang awal memang sangat tergantung pada gaya Hollywood dan ekspresionisme Jerman, dan baru pada akhir 1930-an—dengan Yasujiro Ozu, Kenji Mizoguchi, Sadao Yamanaka—muncul gaya sinematik yang otentik Jepang.

Lingkaran Sastra Tokyo: Bungo, Senja, Montei

Cerpen ini juga membuka jendela ke struktur sosial dunia sastra Tokyo. Ada hierarki yang jelas: bungo (sastrawan agung) di puncak, senja (juri sayembara) yang memilih dan mengangkat penulis baru, montei (murid) yang mengelilingi sastrawan agung di acara-acara resmi seperti yang terjadi di Teater Kekaisaran ketika T-ko menerima hadiah debutnya.

Di sisi lain hierarki, ada juga jaringan informal—penulis yang saling kunjung di kosan, jurnalis majalah yang menghubungkan dunia sastra dengan publik komersial, dan kalangan kritikus yang memutuskan reputasi siapa naik dan siapa turun. Shusei sendiri merupakan bagian dari semua jaringan ini, dan Penulis Wanita dapat dibaca sebagai dokumen otobiografis yang sangat tipis—dengan Komori sebagai versi naratif dari Shusei sendiri di paruh baya.

Tamura Toshiko: Sosok di Balik Nyonya T?

Banyak komentator menduga sosok T-ko / Nyonya T dalam cerpen ini didasarkan pada Tamura Toshiko (1884~1945). Tamura adalah salah satu penulis wanita pertama yang mencapai status profesional di Jepang modern. Novel debutnya, Akirame (Pasrah, 1911), memenangkan sayembara surat kabar Osaka Asahi—seperti yang terjadi pada T-ko di cerpen ini. Karya-karyanya memuat tema cinta sesama wanita, sebagaimana yang digambarkan untuk T-ko dan—dengan cara yang berbeda—untuk Eiko.

Tamura sendiri pindah ke Vancouver pada 1918, kemudian ke Los Angeles, lalu ke San Francisco. Di Amerika ia hidup dalam kemiskinan, mendukung dirinya dengan menulis kolom kecil untuk surat kabar Jepang-Amerika dengan oplah yang sangat kecil—persis seperti yang dikatakan tentang T-ko dalam cerpen ini. Tamura akhirnya pindah ke Shanghai pada 1936 dan wafat di sana 1945.

Tetapi Shusei sengaja mempertahankan anonimasi. Nama tokoh hanya ditulis dengan inisial latin . Anonimasi ini bukan keterbatasan, melainkan keputusan sastra: dengan mempertahankan ambiguitas, Shusei memungkinkan T-ko menjadi sosok yang lebih besar daripada satu individu historis—sebuah arsip kolektif dari semua penulis wanita generasi Taisho yang gagal masuk ke kanon utama.

Naturalisme Jepang vs Naturalisme Eropa

Konteks sastra cerpen ini juga sangat penting. Naturalisme Jepang—yang sering disebut sebagai shizenshugi—berbeda dari naturalisme Émile Zola dan Maupassant dalam aspek penting: ia tidak memuat tesis sosial-darwinis yang eksplisit, dan lebih sering bersifat introspektif daripada deterministik.

Karya-karya seperti Futon (Tayama Katai, 1907), Hakai (Shimazaki Toson, 1906), dan novel-novel awal Shusei seperti Kabi (1911), bersama-sama membentuk apa yang oleh kritikus disebut watakushi shosetsu—novel-aku, tradisi pengakuan pribadi yang akan terus mendominasi sastra Jepang hingga ke pertengahan abad ke-20.

Tetapi pada 1927, era naturalisme yang berkuasa sudah mulai surut. Generasi baru telah muncul: Akutagawa Ryunosuke (yang akan bunuh diri tiga bulan setelah penerbitan cerpen ini), Tanizaki Junichiro, Kawabata Yasunari. Mereka membawa eksperimen modernis yang menjauhkan dari naturalisme klasik. Cerpen Shusei ini, dalam arti tertentu, adalah dokumen tentang generasi sastra yang sedang menyaksikan dirinya sendiri menua dan terlupakan—seperti T-ko, seperti Nyonya I, seperti Komori, seperti Shusei sendiri.

Pagera dan Naturalisme Jepang dalam Bahasa Indonesia

Penulis Wanita adalah karya pertama Tokuda Shusei di Pagera Indonesia. Bagi yang ingin mengenal lebih banyak karya naturalisme Jepang, lihat Cahaya Lentera karya Shimazaki Toson di Pagera.

Baca Penulis Wanita karya Tokuda Shusei di Pagera, terjemahan lengkap Bahasa Indonesia dari teks Aozora Bunko, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera