Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Ppong Na Do-hyang: Konteks Sejarah Gaebyeok 1925, Sericulture, dan Ekonomi Pedesaan Kolonial

Lima konteks yang harus dipahami sebelum membaca «Ppong» (1925): majalah «Gaebyeok» sebagai pusat sastra kolonial, industri sericulture di Gangwon, struktur kelas pedesaan kolonial, posisi perempuan di ekonomi informal, dan trilogi realisme Na Do-hyang.

Pagera Editorial

«Ppong» (뽕, Daun Murbei) tidak bisa dipahami tanpa lima konteks historis yang membentuknya: tempat penerbitannya, latar ekonominya, struktur sosialnya, posisi perempuan di dalamnya, dan tempatnya dalam karya Na Do-hyang. Tanpa lima konteks ini, cerpen ini mudah disalahbaca sebagai sekadar «kisah perselingkuhan» — padahal sebenarnya ini adalah salah satu kritik sosial paling tajam dalam sastra Korea modern terhadap ketidakadilan ekonomi pedesaan kolonial.

1. Majalah «Gaebyeok» (개벽 開闢) — Pusat Sastra Korea Kolonial

Gaebyeok (yang berarti «awal mula» atau «pembuatan dunia») adalah majalah bulanan paling berpengaruh dalam sastra Korea era kolonial Jepang 1920~1926. Diterbitkan oleh sekte Cheondogyo (천도교, agama asli Korea), majalah ini menjadi tempat publikasi karya-karya penting Kim Dong-in, Hyun Jin-geon, Yi Sang-hwa, Lee Gwang-su, dan Na Do-hyang. «Ppong» dimuat di edisi 64, Desember 1925 — setelah «Si Bisu Samryong» di Yeomyeong (黎明) Juli 1925 dan «Kincir Air» di Yeoseong (女性) edisi 9 1925. Pada Agustus 1926 — delapan bulan setelah «Ppong» — Gaebyeok dibungkam oleh sensor kolonial Jepang. Lima bulan setelah itu, Na Do-hyang meninggal di usia 24 tahun. «Ppong» adalah salah satu karya terakhirnya yang dimuat di Gaebyeok yang masih hidup.

2. Industri Sericulture (Pemeliharaan Ulat Sutra) di Gangwon

Pada 1920-an, industri ulat sutra menjadi salah satu sumber penghasilan utama di pedesaan Korea. Pemerintah kolonial Jepang aktif mendorong perluasan kebun murbei (ppongbat 뽕밭) dan koperasi sutra (yangjamso 양잠소) sebagai bagian dari kebijakan ekspor benang sutra ke Jepang. Di Cheorwon (철원), Provinsi Gangwon utara yang menjadi latar «Ppong», kebun murbei komersial dijaga ketat oleh ppong-jigi (뽕지기) — satpam kebun. Untuk satu rumah tangga miskin, memelihara ulat sutra adalah cara cepat mendapat uang tunai — tetapi membutuhkan investasi tinggi dalam pakan murbei. Konflik utama dalam cerpen ini, dengan demikian, berakar pada paksaan ekonomi: memelihara ulat sutra tanpa uang berarti harus mencuri murbei. Murbei varietas perbaikan (gaeryangppong 개량뽕) yang disebut Samdori adalah hibrida modern era kolonial yang ditanam khusus untuk industri sutra ekspor — daunnya berminyak, kepompongnya berkualitas tinggi.

3. Struktur Kelas Pedesaan Kolonial Korea

Cerpen ini menampilkan empat lapis struktur kelas pedesaan Korea era kolonial: (1) yangban sisa-sisa, diwakili oleh Kim Cham-bong (김참봉, «cham-bong» = jabatan kerajaan rendah era Joseon yang tidak lagi punya kekuatan setelah 1910) — putranya yang disebut Samdori «hantu sapi» karena tidak menghasilkan uang banyak; (2) tuan tanah kecil seperti nyonya rumah, yang mempekerjakan buruh tani dan berkongsi dalam usaha kecil; (3) buruh tani lelaki seperti Samdori, lajang tiga puluh tahun yang tinggal di rumah majikan dengan upah minimal; (4) perempuan kelas paling bawah seperti An-Hyeop-jip — istri buruh kelana tanpa pendidikan, tanpa tanah, tanpa keluarga di sekitar, satu-satunya modal adalah tubuhnya. Polisi kolonial Jepang — sunsa nari (순사 나리) — disebut sekali saja, sebagai simbol kekuatan eksternal yang ditakuti tetapi dipandang rendah oleh An-Hyeop-jip sendiri. Inilah dunia yang membentuk semua karakter dalam cerpen.

4. Posisi Perempuan di Ekonomi Informal Pedesaan

An-Hyeop-jip bukan «pelacur profesional» dalam pengertian modern. Ia adalah seorang istri yang ditinggal suami yang bekerja sebagai penjudi kelana di tiga provinsi. Dalam ekonomi pedesaan Korea 1925, perempuan dalam posisi ini punya tiga pilihan: (1) menjadi halmeom atau pembantu rumah tangga yang dibayar upah minim; (2) bekerja bersama suami atau keluarga di sawah dengan penghasilan bersama; (3) menjual jasa seksual secara informal kepada tetangga dengan imbalan beras, kain, atau uang. Pilihan ketiga ini — yang dipilih An-Hyeop-jip — bukan diakui sebagai pekerjaan resmi dan tidak ada jaringan sosial yang melindunginya. Na Do-hyang menggambarkan transisi An-Hyeop-jip dari «pasif dimanfaatkan» (usia lima belas, sebutir melon) menjadi «aktif berdagang» (membangun langganan tetap seperti pedagang) dengan ketelitian sosiologis yang luar biasa untuk usianya. Prinsip hidup An-Hyeop-jip dalam tiga kalimat: «Asal ada uang, suami pun ada, makanan dan pakaian semuanya ada.» Filosofi ini, di dunia 1925 yang ia tinggali, bukanlah moral failure — itu adalah strategi bertahan hidup yang rasional.

5. Trilogi Realisme Pedesaan Na Do-hyang 1925

«Ppong» bukan karya terpisah. Ia adalah bagian ketiga dari trilogi realisme pedesaan yang ditulis Na Do-hyang dalam satu tahun 1925, ketika ia tahu hidupnya tinggal sebentar (ia akan meninggal Agustus 1926). Trilogi ini menampilkan tiga sikap berbeda terhadap kemiskinan dan moralitas pedesaan: Si Bisu Samryong (Juli 1925) menutup tragedi dengan pengorbanan kasih sayang yang membakar diri — narasi yang memberi pembaca penghiburan moral. Kincir Air (1925) menutup tragedi dengan pembunuhan-bunuh diri ganda — narasi yang menolak penyelesaian apa pun di dunia ini. Ppong (Desember 1925), karya terakhir dari trilogi, menutup tanpa apa-apa: kehidupan berlanjut, ekonomi berlanjut, kepompong sutra dibagi tiga puluh won. Dari ketiganya, «Ppong» mungkin adalah yang paling getir karena tidak memberi pembaca cara untuk «memaknai» tragedi — pembaca harus duduk dengan ketidakmaknaan itu sendiri. Inilah Na Do-hyang dalam puncak naturalisme realismenya, sebanding dengan «Une vie» (1883) Maupassant atau cerpen-cerpen Tokuda Shūsei dari periode yang sama di Jepang.

Membaca Ulang dengan Kelima Konteks

Setelah lima konteks ini dipahami, «Ppong» membaca berbeda. Dialog pembuka antara Samdori dan An-Hyeop-jip di Bab 1 bukan sekadar adegan provokasi seksual: itu adalah pertukaran kekuasaan antar dua kelas dalam dunia di mana kekuasaan diukur dengan «siapa yang tahu rahasia siapa». Pertarungan terakhir di Bab 6 — saat Samdori membongkar semua di hadapan kampung — bukan sekadar drama jealousy: itu adalah moment di mana ekonomi tubuh perempuan yang selama ini berjalan diam-diam terpaksa keluar ke ruang publik. Dan dua kalimat penutup yang seolah-olah «netral» — «An-Hyeop-jip tetap saja tidur di balai komunal lelaki di kampung. Kepompong sutra mereka petik, lalu dibagi tiga puluh won masing-masing.» — adalah pukulan paling keras: sistem yang menghasilkan tragedi ini tetap berdiri seperti sebelumnya, dan tragedi ini dilanjutkan begitu saja.

Pelajari lebih lanjut tentang Na Do-hyang di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Korea di Wikisource Korea.

Baca Ppong karya Na Do-hyang di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Catatan editor: Cerpen ini mengandung adegan kekerasan dan perselingkuhan sebagai bagian dari kritik sosial sastra terhadap struktur kelas Korea kolonial 1925, bukan glorifikasi.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera