Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Konteks Hidup Ready-Made: Keijo 1934 — Kolonialisme, Intelek Menganggur, Politik Budaya Saito
«Hidup Ready-Made» (1934) tidak bisa dipahami tanpa konteks Keijo (Seoul kolonial) era 1930-an: dua puluh empat tahun penjajahan Jepang, krisis ekonomi global setelah 1929, jurusan «Politik Budaya» Gubernur Jenderal Saito yang menambah sekolah, dan produksi massal intelek tanpa pasar kerja. Berikut
Pagera Editorial
«Hidup Ready-Made» (1934) bukanlah hanya cerita personal tentang seorang intelek bernama P. Itu adalah dokumen sejarah sosial-ekonomi paling padat tentang Korea kolonial pada awal 1930-an. Untuk membaca cerpen ini sebagaimana mestinya, mari pahami lima konteks kunci.
1. Aneksasi 1910: Hilangnya Negara
Korea (Joseon) dianeksasi oleh Kekaisaran Jepang pada 22 Agustus 1910. Selama 35 tahun ke depan, sampai pembebasan 15 Agustus 1945, semua jabatan administratif tertinggi di tanah Korea dipegang oleh Jepang. Pada 1934, dunia di mana P tinggal sudah 24 tahun dijajah. Generasi P — lahir sekitar 1900 — adalah generasi pertama Korea yang tidak pernah memiliki kewarganegaraan Korea independen. Mereka tumbuh dengan papan-papan tanda jalan dalam dua bahasa (Korea-Jepang), dengan sekolah-sekolah yang mengajarkan kurikulum Jepang, dan dengan kantor surat kabar yang harus tunduk pada sensor Gubernur Jenderal.
2. Politik Budaya Saito (19191927/19291931)
Pada bab tiga, Chae Man-sik menyebut nama Gubernur Jenderal Saito (saitō Makoto, 斎藤実) yang memimpin Joseon dua kali: 19191927 dan 19291931. Setelah gerakan Maret 1 tahun 1919 yang mengguncang seluruh tanah Korea, Saito memperkenalkan apa yang disebut Politik Budaya (문화정치, bunhwa jeongchi) — sebuah pelonggaran terhadap rezim militer sebelumnya. Salah satu kebijakannya: menambah sekolah dasar di setiap distrik, menyediakan buku pelajaran gratis, dan mendorong masyarakat Korea memasukkan anak-anak mereka ke sekolah.
Tujuannya bukan murni pendidikan. Politik Budaya ingin mengasimilasi rakyat Joseon ke dalam kerajaan Jepang dengan cara yang lebih lembut: menciptakan kelas profesional Korea yang akan berfungsi sebagai middle-management di birokrasi kolonial. Pegawai kelurahan, polisi rendahan, teknisi pertanian, pegawai bank — semua kategori ini melonjak antara 1920~1934.
3. Krisis Ekonomi Global 1929 dan Pasar Kerja Joseon
Tetapi pada 1929, Wall Street Crash meledak. Krisis Ekonomi Besar (Great Depression) merambat dari Amerika ke Eropa, ke Jepang, dan akhirnya ke Joseon. Pasar kerja yang sudah jenuh untuk lulusan universitas Korea — terbatasnya jabatan middle-class yang disediakan oleh sistem kolonial — sepenuhnya runtuh setelah 1929. Pada saat Chae Man-sik menulis cerpen ini pada 1934, ratusan ribu lulusan universitas Korea berkeliaran di Keijo, Pyongyang, dan Daegu tanpa pekerjaan tetap.
4. «인텔리» — Intelek sebagai Sebutan Sosial
Pada 1930-an Korea, kata «인텔리» (inteli) — singkatan dari Jepang «インテリ» yang sendirinya pinjam dari Rusia «интеллигенция» — menjadi sebutan sosial yang khusus. Bukan «cendekiawan» dalam arti netral, melainkan «kaum terdidik tanpa kerja». P, M, H, C semua adalah inteli. Mereka punya sarjana, mereka tahu hukum dan ekonomi-politik, mereka membaca buku berbahasa Inggris dan Jepang. Tetapi tak satu pun dari mereka punya gaji bulanan. Mereka adalah hasil dari produksi massal Politik Budaya yang tidak laku karena pasar pasca-1929 menolak menyerap mereka.
5. Sensor Kolonial: «(원문 7~8자 탈락)»
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa tempat dalam Hidup Ready-Made di mana penulis sendiri menulis catatan kurung: «(원문 78자 탈락)» (78 huruf naskah asli hilang), «(원문 20여 자 탈락)» (20 huruf lebih hilang), «(원문 80여 자 탈락)» (80 huruf lebih hilang). Ini adalah bekas-bekas sensor kolonial Jepang. Editor majalah Sin Donga diharuskan menyerahkan setiap edisi ke kantor Sensor sebelum mencetak. Setiap kalimat yang dianggap «berbahaya bagi ketenangan rakyat» (≈ kritik politik) harus dipotong.
Chae Man-sik, dengan satir tajam khasnya, justru menarik perhatian pembaca ke bekas sensor itu dengan menulis catatan kurung secara terbuka. Pembaca tahu bahwa di situ ada kritik yang lebih tajam yang dipotong. Lokasi sensor pun sangat khas: dekat dengan ××-isme (≈ Marksisme), May Day, atau diskusi tentang gerakan demo kaum intelek. Pada 1934, hanya tiga tahun setelah Insiden Manchuria 1931 dan dua tahun sebelum Perang Tiongkok-Jepang Kedua 1937, sensor kolonial sedang memperketat tangannya. ××인쇄소 (Percetakan ××) pada bab sebelas pun adalah self-censorship dari Chae Man-sik: tanda «××» menyembunyikan nama percetakan tertentu yang mungkin akan menarik kemarahan polisi rahasia.
Penutup: Resonansi Hingga Sekarang
Konsep «Hidup Ready-Made» yang Chae Man-sik ciptakan pada 1934 tetap relevan di abad ke-21. Lulusan universitas yang tidak laku, sertifikat di tangan namun tanpa pekerjaan tetap, generasi muda yang menjadi «kelas siap pakai tapi tidak terpakai» — krisis ini berulang di setiap resesi ekonomi besar, dari Asia 1997 sampai pandemi Covid-19. Membaca Chae Man-sik pada hari ini adalah membaca diagnose pertama dari sebuah penyakit modernitas yang sampai sekarang belum sembuh.
Pelajari lebih lanjut tentang Politik Budaya Saito di Wikipedia Indonesia: Korea di bawah Pemerintahan Jepang.
Baca «Hidup Ready-Made» di Pagera dengan konteks kolonial ini dalam pikiran.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.