Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Iwate 1924: Konteks Sejarah Restoran dengan Banyak Permintaan Miyazawa Kenji

Tahun 1924, ketika Miyazawa Kenji menerbitkan Restoran dengan Banyak Permintaan, Jepang berada di puncak modernisasi Taisho. Pelajari konteks sejarah, budaya, dan filosofis di balik dongeng kucing liar paling berpengaruh dalam sastra Jepang abad ke-20.

Pagera Editorial

Untuk benar-benar memahami mengapa Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji begitu kuat, kita perlu menempatkan diri di Iwate pada tahun 1924. Bukan Iwate yang kita kenal hari ini sebagai prefektur yang relatif tenang di utara Honshu. Melainkan Iwate yang sangat berbeda: daerah pegunungan terbelakang yang mengalami krisis kelaparan berulang, sementara Tokyo di selatan sedang berlari kencang menuju modernitas Eropa.

Era Taisho: Modernisasi yang Tidak Merata

Era Taisho (1912-1926) sering disebut sebagai zaman keemasan Jepang modern. Tokyo penuh dengan kafe Eropa, mobil-mobil baru, gaya hidup borjuis, dan ide-ide liberal yang diimpor dari Berlin dan Paris. Para pemuda Tokyo memakai jas tiga potong, mengantongi jam saku rantai emas, dan menghabiskan akhir pekan dengan berburu di pegunungan sebagai hobi mewah.

Tetapi di luar Tokyo, terutama di prefektur-prefektur utara seperti Iwate, situasinya sangat berbeda. Petani-petani chosaku (penyewa lahan) hidup di pinggir kelaparan. Krisis beras berulang-ulang. Dingin yang merusak panen sering datang. Anak-anak yang lapar dan kurang gizi adalah pemandangan biasa di pedesaan Iwate, daerah di mana Miyazawa Kenji bekerja sebagai guru pertanian.

Inilah yang dilihat Miyazawa Kenji setiap hari ketika ia mengajar di Sekolah Pertanian Hanamaki: pemuda-pemuda Tokyo yang datang ke pegunungannya dengan senapan mengkilat untuk membunuh hewan demi kesenangan, sementara murid-muridnya pulang ke rumah dengan perut kosong.

Sastra Anak Jepang Era Taisho

Pada tahun 1924, sastra anak Jepang sedang mengalami transformasi besar yang dipimpin oleh majalah Akai Tori (Burung Merah, 1918-1936), yang didirikan oleh Suzuki Miekichi. Majalah ini mengubah cara orang Jepang memandang dongeng anak: bukan lagi terjemahan tidak terlatih dari Hans Christian Andersen atau Grimm, melainkan karya orisinal Jepang yang ditulis dengan kepekaan sastra orang dewasa.

Penulis-penulis besar seperti Akutagawa Ryunosuke (Benang Laba-laba, 1918), Niimi Nankichi, dan Ogawa Mimei mulai menulis dongeng yang sebenarnya juga berbicara kepada pembaca dewasa. Dongeng tidak lagi soal pelarian, tetapi soal refleksi.

Miyazawa Kenji datang ke dunia ini sebagai outsider sepenuhnya. Ia bukan penulis profesional Tokyo. Ia adalah guru pertanian dari Iwate yang menulis di buku catatan, mencetak bukunya sendiri, dan tidak punya akses ke jaringan sastra ibu kota. Tetapi karya-karyanya, ketika akhirnya ditemukan, ternyata jauh lebih radikal daripada apa pun yang ditulis di majalah Akai Tori.

Berburu sebagai Hobi Kelas Atas

Salah satu detail kecil di pembukaan Chumon no Oi Ryoriten yang sering terlewat oleh pembaca modern adalah bahwa dua pemuda itu "berpakaian seperti tentara Inggris." Ini bukan hiasan acak. Pada era Taisho, berburu di pegunungan dengan senjata api adalah hobi yang secara khusus berasal dari kelas atas Inggris, dan diimpor ke Jepang oleh kalangan aristokrat dan industriawan kaya.

Seragam berburu lengkap dengan jaket khaki, celana jodhpur, sepatu bot tinggi, topi tropis, dan senapan double-barrel terbaik dari Inggris bisa berharga ribuan yen, jumlah yang setara dengan beberapa tahun penghasilan seorang petani chosaku Iwate. Ketika satu pemuda dalam cerita berkata "Aku rugi 2.400 yen!" karena anjing pemburunya mati, ia menyebutkan jumlah yang melebihi pendapatan seumur hidup banyak petani yang Miyazawa Kenji ajar.

Detail ekonomi ini, halus tetapi tegas, mendefinisikan apa yang sebenarnya dilakukan Miyazawa Kenji. Cerita ini bukan dongeng anti-pemburu yang sederhana. Cerita ini adalah dongeng kelas, di mana dua pemuda Tokyo yang mewakili modernisasi dan privilese Tokyo bertemu dengan hutan Iwate yang mereka kira menjadi taman bermain mereka, lalu menemukan bahwa hutan itu punya logikanya sendiri.

Yamaneko dalam Mitologi Jepang

Kucing dalam cerita ini bukan kucing biasa. Mereka adalah yamaneko, kucing liar pegunungan, yang dalam folklore Jepang sering muncul sebagai makhluk yokai yang halus dan kadang berbahaya. Dalam tradisi Iwate khususnya, yamaneko sering digambarkan sebagai penjaga gunung yang menghukum manusia yang melanggar etika hutan: pemburu yang serakah, peziarah yang tidak hormat, pejabat yang sombong.

Miyazawa Kenji mengambil tradisi folkloris ini dan menempatkannya dalam kerangka modern yang sangat tidak terduga: bukan kuil tradisional atau kabuki, melainkan restoran Barat. Restoran Barat (seiyo-ryoriten) di Jepang era Taisho adalah simbol modernisasi dan kemajuan kelas menengah. Memiliki restoran semacam itu adalah tanda status. Mengundang tamu ke restoran semacam itu adalah pernyataan budaya.

Dengan menjadikan yamaneko-nya sebagai pemilik restoran Barat lengkap dengan papan bilingual Inggris-Jepang, Miyazawa Kenji menyatukan tradisi folklor lama dengan modernisasi Jepang yang baru ke dalam satu sindiran tunggal yang luar biasa cerdas. Modernisasi yang dipertaruhkan kelas atas Tokyo, dalam cerita ini, ternyata adalah perangkap kuno yang dirancang oleh penjaga gunung purba untuk menjebak para pemangsa baru.

Buddhisme Nichiren dan Kesatuan Makhluk

Miyazawa Kenji adalah seorang pengikut taat ajaran Buddha Nichiren, yang menempatkan Saddharma Pundarika Sutra sebagai teks utama. Ajaran inti Nichiren menekankan bahwa semua makhluk hidup adalah bagian dari satu kesatuan kosmis yang tak terpisahkan, dan bahwa membahayakan satu makhluk pada hakikatnya adalah membahayakan diri sendiri.

Dalam Chumon no Oi Ryoriten, gagasan ini hadir tanpa pernah diucapkan secara eksplisit. Pemburu yang mengira mereka bisa menembak rusa dan kelinci dengan ringan tiba-tiba menemukan diri mereka berada di sisi yang salah dari rantai makanan. Pelajaran ini tidak diberikan sebagai khotbah moral. Pelajaran ini diberikan sebagai pengalaman, melalui kekagetan sederhana di akhir cerita.

Dan menariknya, dalam akhir cerita, pemburu profesional yang sederhana, yang memakai topi mino dari jerami padi dan membawa dango, datang menyelamatkan dua pemuda itu. Ia adalah simbol Iwate yang sebenarnya: bukan penolakan terhadap kota, melainkan pengetahuan lokal yang hidup berdampingan dengan alam. Ia tahu cara membawa pulang dua pemuda itu. Tetapi ia tidak bisa mengembalikan wajah mereka seperti semula.

Tempat Cerita Ini dalam Sastra Dunia

Pada akhirnya, Restoran dengan Banyak Permintaan dapat dibaca sebagai dongeng ekologis pertama dalam sastra Jepang modern. Jauh sebelum Aldo Leopold menulis A Sand County Almanac (1949), jauh sebelum Rachel Carson menulis Silent Spring (1962), Miyazawa Kenji sudah menulis dongeng yang menempatkan manusia kota sebagai tamu yang tidak diundang di rumah alam.

Cerita ini tidak menggurui. Tidak ada pidato. Tidak ada moral yang dijejalkan. Hanya pintu-pintu yang sopan, instruksi-instruksi yang ramah, dan kebenaran yang muncul perlahan: bahwa kesombongan kota terhadap pegunungan akan, suatu hari, membayar harganya, dan harga itu tertulis di wajah yang tidak bisa lagi kembali seperti semula.

Bagi yang ingin mengenal sastra Jepang sezamannya, tersedia Sennin karya Akutagawa Ryunosuke dan Dia karya Akutagawa Ryunosuke di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Era Taisho di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji di Pagera, dongeng klasik Taisho 1924 lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera