Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Konteks Sejarah Sayap (1936): Modernitas Kolonial Gyeongseong, Mitsukoshi, dan Adalin

«Sayap» (1936) terbenam dalam konteks paling spesifik: Gyeongseong (Seoul) era kolonial Jepang puncak, dengan toserba Mitsukoshi sebagai simbol modernitas, kawasan pelacuran kolonial sebagai latar Distrik 33, obat tidur Bayer Adalin sebagai motif sentral, dan stasiun Gyeongseong sebagai tempat berli

Pagera Editorial

Untuk membaca Sayap dengan benar, pembaca modern—khususnya pembaca Indonesia abad ke-21—perlu memahami lima konteks historis yang sangat spesifik dari Gyeongseong tahun 1936. Tanpa konteks ini, banyak motif kunci cerpen akan terlewatkan: mengapa istri dan aku tinggal di gang yang «seperti kawasan pelacuran», apa yang sebenarnya berlangsung di toserba Mitsukoshi, mengapa Adalin adalah simbol yang begitu kuat, dan apa makna sirene siang hari yang berdengung di klimaks. Catatan editor di bawah ini akan membantu pembaca menempatkan cerpen dalam dunia kolonialnya.

Catatan Editor: Cerpen ini berlatar pada masa pemerintahan kolonial Jepang di Korea (1910~1945), suatu era yang penuh ketidakadilan struktural, kemiskinan, dan alienasi. Tema-tema seperti prostitusi (yang disampaikan secara implisit lewat «tamu» yang datang ke rumah istri), penggunaan obat tidur, dan ketegangan rumah tangga, semuanya merupakan refleksi historis dari masyarakat kolonial yang tertindas. Pembaca diharapkan menempatkan cerpen ini dalam konteks sejarahnya.

1. Gyeongseong (Keijo): Kota Kolonial yang Modernitasnya Paradoks

Pada tahun 1936, Seoul disebut Gyeongseong (京城, dibaca Keijo dalam pengucapan Jepang). Nama «Seoul» tidak diakui secara resmi sampai tahun 1945, ketika Jepang menyerah dan pemerintahan kolonial berakhir. Selama dua puluh enam tahun antara 1910 dan 1936, kota ini diubah secara radikal: jalan-jalan dilebarkan, trem listrik dipasang di Gwanghwamun, bangunan Government-General (sekarang sudah dirobohkan tahun 1996) berdiri di hadapan Istana Gyeongbokgung, dan toserba Jepang—Mitsukoshi, Chōjiya, Hirata—mendominasi kawasan Honmachi (sekarang Myeong-dong). Di permukaan, Gyeongseong adalah kota modern Asia Timur: kafe, jazz, mode Barat, bioskop. Tetapi di balik fasad itu, mayoritas penduduk Korea hidup dalam kemiskinan, pengangguran, dan ketidakberdayaan politis. Sayap mengambil latar di celah paradoks ini—di gang Distrik 33 yang penghuninya muda dan cantik, namun rumahnya beratap seng dan tidak kebagian matahari.

2. Toserba Mitsukoshi: Modernitas Kolonial yang Berpuncak

Mitsukoshi Keijo (三越京城店) dibuka pada tanggal 24 Oktober 1930 di alamat Honmachi 1-chome (sekarang gedung Shinsegae Department Store di Myeong-dong, Seoul). Bangunan empat lantai bergaya art deco ini adalah cabang Mitsukoshi Tokyo—toserba Jepang tertua dan paling bergengsi. Lantai dasar menjual kosmetik dan tas; lantai dua, pakaian Barat; lantai tiga, alat tulis dan mainan; lantai empat dan atap, restoran dan kafe. Atap Mitsukoshi—yang menjadi latar klimaks Sayap—adalah tempat hiburan: kolam ikan mas, kursi-kursi panjang, dan pemandangan ke seluruh Keijo. Untuk seorang intelektual Korea yang menganggur, naik ke atap Mitsukoshi adalah perjalanan ke titik tertinggi modernitas kolonial—namun sekaligus titik tertinggi alienasi. Yi Sang memilih lokasi ini bukan kebetulan.

3. Adalin: Obat Tidur Bayer yang Menjadi Simbol

Tablet putih yang istri berikan kepada aku selama hampir sebulan—dengan label «aspirin»—ternyata adalah Adalin (Bromisoval), obat tidur dan penenang yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Jerman Schering-Bayer pada tahun 1907. Adalin berbentuk tablet putih kecil, hampir identik dengan aspirin secara visual, namun efeknya berlawanan: aspirin meredakan demam dan nyeri, Adalin menenangkan dan menidurkan. Pada tahun 1930-an, Adalin tersedia di apotek-apotek besar Keijo dan dikenal sebagai obat khas «kelas atas» untuk insomnia. Di seluruh sastra Asia Timur tahun 1930-an, Adalin sering muncul sebagai motif keracunan diam-diam atau bunuh diri—termasuk dalam karya-karya Akutagawa Ryūnosuke di Jepang. Pada Sayap, ambiguitas kunci adalah: apakah istri sungguh memberi aku Adalin untuk menidurkanku selama dia menerima tamu? Ataukah aku yang halusinasi dan istri sebenarnya minum Adalin sendiri karena insomnia? Yi Sang tidak memberi jawaban.

4. Stasiun Gyeongseong: Ruang Teh dan Peluit Kereta

Stasiun Gyeongseong (京城驛, sekarang dilestarikan sebagai «Culture Station Seoul 284»)—diresmikan tahun 1925—adalah gerbang Jepang ke Korea. Bangunan bata merah bergaya Bizantium-Belanda dirancang oleh Tsukamoto Yasushi, dengan ruang tunggu kelas satu-dua yang dihias granit, perunggu, dan lampu kristal. Yang paling penting untuk Sayap adalah tearoom kelas satu-dua yang berfungsi sebagai kafe untuk penumpang Jepang dan elite Korea. Bagi aku—intelektual menganggur dengan saku kosong—tearoom ini adalah penemuan: tempat di mana tidak ada kenalan, di mana jamnya paling akurat di seluruh Gyeongseong, di mana peluit kereta yang sesekali terdengar «lebih dekat daripada Mozart». Stasiun, dalam Sayap, adalah lokus alienasi yang aman.

5. Sirene Siang Hari: Modernitas yang Berdengung

Di klimaks atap Mitsukoshi, «*tuuu—*bunyi sirene siang hari berdengung». Apa yang sebenarnya berdengung? Pada tahun 1936, Gyeongseong sudah memiliki sistem sirene pengumuman waktu dari menara jam Mitsukoshi dan menara air Gyeongseong Hospital. Setiap hari pukul dua belas siang, sirene berbunyi selama satu menit penuh sebagai sinyal waktu untuk seluruh kota. Bagi pekerja Jepang dan elite Korea, sirene adalah tanda mulai istirahat makan siang. Bagi pekerja Korea biasa, sirene adalah pengingat bahwa waktu mereka diatur oleh kolonial. Pada Sayap, sirene siang hari yang berdengung saat aku merasa ketiaknya gatal adalah momen modernitas kolonial yang berpuncak: di tengah suara mesin yang menelan seluruh kota, aku merasakan keinginan untuk lepas dari semua itu—untuk «terbang».

Distrik 33: Antara Pelacuran dan Kemiskinan Kolonial

Distrik 33—«33번지»—bukan alamat nyata, melainkan generik kolonial. Di Gyeongseong tahun 1930-an, distrik-distrik yang diatur secara modern dipecah ke dalam blok numerik. «Distrik 33» bisa berarti satu kompleks rumah deret yang dimiliki seorang tuan tanah, disewakan kepada delapan belas keluarga, mayoritas perempuan muda. Yi Sang tidak pernah secara eksplisit menyebut «pelacuran»—«susunannya tidak bisa tidak mengingatkan orang pada kawasan pelacuran» adalah sejauh ia berani. Tetapi pembaca Joseon 1936 segera memahami: kompleks tanpa matahari, perempuan-perempuan muda, pintu kertas geser yang ramai dibuka-tutup setelah lampu menyala, segala bau yang naik di senja hari—itu adalah kawasan pelacuran tingkat menengah. Istri aku bukan pelacur tingkat tinggi (yang akan tinggal di kawasan Honmachi); melainkan pekerja seks domestik yang menjamu di kamar sendiri. Penyampaian implisit ini—khas Yi Sang—memungkinkan cerpen melewati sensor kolonial sambil tetap kejam pada kebenaran sosial.

Yi Sang dan Politik Bahasa Kolonial

Pada tahun 1936, mayoritas penulis Korea modern sudah menulis dalam bahasa Korea—meskipun pemerintah kolonial Jepang mulai membatasi penggunaan bahasa Korea di sekolah. Yi Sang, yang fasih dalam bahasa Jepang (ia bekerja empat tahun di pemerintahan kolonial), memilih menulis Sayap dalam bahasa Korea. Tetapi ia membaurkan kosa kata Inggris (wit, paradox, good-bye, pose, dictionary), Jepang (jiri-gami, kertas tisu), dan Jerman (Adalin, Marx, Malthus)—suatu kolase linguistik yang menunjukkan multibahasa kolonial. Dalam terjemahan Indonesia kami, kami mempertahankan kosa kata multibahasa asli untuk menjaga rasa cosmopolitanism kolonial yang menjadi tanda tangan Yi Sang.

Setelah «Sayap»: Modernisme Korea yang Tumbuh

Setelah Sayap dimuat di Joseon Gwang September 1936, sastra Korea modern tidak akan pernah sama lagi. Pada tahun 1936 yang sama, Park Tae-won menerbitkan Sojeolgaui Guboship-ui Iril (소설가 구보씨의 일일, «Sehari dalam Hidup Novelis Tuan Gubo»)—juga aliran kesadaran. Pada tahun 1939, Kim Yu-jeong meninggal di usia tiga puluh lebih awal dari tuberkulosis—penyakit yang sama yang membunuh Yi Sang. Pada tahun 1939 juga, Lee Tae-jun menerbitkan koleksi cerpen «Saseo» (사서)—satir paling tajam tentang intelektual kolonial. Generasi modernis Korea—yang sebagian besar mati muda atau ditangkap polisi Jepang—menggemakan jejak Yi Sang. Bahkan setelah tahun 1945, dengan kemerdekaan, jejak Yi Sang tetap dilanjutkan oleh nama-nama seperti Kim Seung-ok (1960-an), Lee Chong-jun (1970-an), dan Han Kang (pemenang Nobel Sastra 2024).

Pelajari lebih lanjut tentang konteks kolonial Joseon di Wikipedia Indonesia.

Baca «Sayap» karya Yi Sang di Pagera—dengan latar Gyeongseong 1936 yang otentik dan terjemahan Indonesia lengkap.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera