Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Yokohama Yamate 1920: Distrik Asing yang Membentuk Setangkai Anggur
Yamate, distrik bukit di atas Yokohama, adalah satu-satunya tempat di Jepang Taishō tempat anak-anak Jepang dan anak-anak Barat sekolah bersama. Di sinilah Arishima Takeo menjadi diri sendiri, dan kelak menulis cerpen anak Setangkai Anggur dengan latar yang sama.
Pagera Editorial
Tanpa memahami Yamate, kita tidak bisa membaca Setangkai Anggur dengan benar. Distrik bukit di atas pelabuhan Yokohama itu bukan sekadar latar belakang cerita. Ia adalah sebuah dunia, sebuah laboratorium pertemuan Timur-Barat, dan tempat tunggal di mana seorang bocah Jepang bisa duduk satu kelas dengan seorang bocah Inggris atau Amerika tanpa terasa aneh.
Pembukaan Pelabuhan 1859
Yokohama dibuka untuk perdagangan asing pada 1859, sebagai bagian dari Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan Amerika-Jepang yang dipaksakan setelah ekspedisi Komodor Perry. Sebelumnya, Yokohama hanyalah desa nelayan kecil. Tetapi setelah pembukaan, ia menjadi gerbang utama Jepang ke dunia.
Pemerintah Tokugawa kemudian Meiji mengeluarkan kebijakan yang membuat sebagian besar orang asing tinggal di dua kawasan terpisah dari penduduk lokal: Kannai (di dataran rendah, kawasan dagang) dan Yamate (di bukit, kawasan tempat tinggal). Yamate, dengan udaranya yang lebih sejuk dan pemandangan ke laut, segera menjadi pilihan residen Barat yang mampu.
Distrik Kosmopolitan dalam Bukit
Pada 1920, saat Arishima menulis Setangkai Anggur, Yamate sudah menjadi salah satu komunitas asing terbesar di Asia Timur. Konsulat Inggris, Amerika, Prancis, Italia, dan Jerman berderet di sepanjang jalan-jalannya. Gereja-gereja Anglikan, Katolik, dan Presbiterian berdiri di sebelah kuil Buddha. Sekolah-sekolah didirikan khusus untuk anak-anak ekspat: St. Maur International (1872), St. Joseph College (1901), dan beberapa sekolah Anglikan dan Misionaris lainnya.
Yang khas Yamate adalah ini: beberapa sekolah Barat juga menerima sejumlah anak Jepang dari keluarga elit yang ingin anaknya fasih berbahasa Inggris sejak dini. Itulah yang Arishima sendiri alami sebagai anak, dan itulah dunia narator Setangkai Anggur. Bocah Jepang yang tinggal sendirian dalam ruang kelas yang sebagian besar diisi anak ekspat. Cat warna Jim yang "impor" (hakurai) bukan barang mewah, tapi normal dalam ruang itu. Yang membedakan si bocah Jepang dari Jim bukan kelas sosial, melainkan kepekaan dan rasa minder.
Jalan Tepi Pantai dan Kapal-Kapal Berbendera Banyak
Latar pembuka cerpen, jalan tepi pantai yang dilalui si bocah setiap pagi, adalah Bund Yokohama, sebuah promenade yang berderet bangunan-bangunan kantor dagang Eropa-Amerika dengan menara jam dan kubah kecil bergaya kolonial. Dari trotoar pantai, anak itu bisa melihat Pelabuhan Yokohama, salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Timur, dengan kapal perang Inggris (Squadron China), kapal dagang Amerika dan Eropa, dan kapal lokal Jepang seperti Nippon Yusen Kaisha berlabuh berdampingan.
Tradisi signal flags, bendera berbagai bangsa yang dikibarkan dari tiang ke tiang antara kapal-kapal di pelabuhan, masih dipraktikkan di tahun 1920 untuk komunikasi maritim. Saat narator menyebut bahwa pemandangan itu "indahnya sampai membuat mata terasa pedih," ia tidak berlebihan. Itu memang pemandangan yang membuat banyak fotografer dan pelukis Yokohama era Meiji-Taishō rela menetap.
Taishō Demokrasi 1912-1926
Cerpen ini ditulis di puncak Taishō Demokrasi, periode singkat (1912-1926) ketika Jepang membayangkan dirinya sebagai negara liberal modern dengan parlemen, kebebasan pers yang relatif, dan toleransi terhadap pengaruh budaya Barat. Periode ini adalah masa keemasan sastra anak progresif Jepang. Majalah Akai Tori (Burung Merah), tempat Setangkai Anggur awalnya terbit, didirikan oleh Suzuki Miekichi pada 1918 dengan misi: menyajikan sastra anak yang berkualitas tinggi, bukan dongeng didaktik moralis lama, melainkan cerita-cerita yang menghargai kerumitan emosional anak-anak.
Arishima, Mushanokoji, Shiga Naoya, Suzuki Miekichi, dan sastrawan-sastrawan Taishō lain berkontribusi ke Akai Tori. Maksud mereka jelas: jika Jepang ingin menjadi bangsa modern yang humanis, anak-anaknya harus dibesarkan dengan cerita-cerita yang memperlakukan mereka sebagai manusia utuh, bukan sebagai target indoktrinasi.
Bu Guru: Misionaris atau Sekuler?
Sosok bu guru Barat dalam cerpen ini tidak diberi nama. Tetapi detail-detail kecil (rambut bob pendek seperti laki-laki, blus linen putih, kelembutan tanpa hukuman, sikap yang lebih mendengar daripada mengajar) menunjukkan seorang perempuan Barat muda dari akhir era progresif Edwardian atau awal era 1920-an. Ia mungkin lulusan sekolah misionaris Anglikan atau Kongregasionalis, mungkin juga anggota gerakan settlement house yang aktif di Asia. Tetapi cerpen Arishima sengaja menanggalkan label religiusnya. Kebajikannya bukan dogma. Kebajikannya adalah kasih.
Setelah Yamate: Gempa Besar Kanto 1923
Tiga tahun setelah Setangkai Anggur terbit, pada 1 September 1923, Gempa Besar Kantō menghancurkan Yokohama hampir total. Sekitar 60% dari bangunan kota runtuh atau terbakar. Banyak komunitas asing yang terbentuk selama tiga generasi musnah dalam sehari. Yamate, dengan tanah miring dan bangunan kayu, termasuk yang paling parah.
Saat membaca cerpen ini hari ini, ada lapisan kesedihan ekstra: dunia yang Arishima lukiskan secara harfiah tidak ada lagi. Kapal-kapal berbendera banyak, sekolah-sekolah dengan anak-anak Jim, jalan tepi pantai dengan jam menara Bund, semua itu hilang dalam api dan reruntuhan. Tetapi setangkai anggur dari tangan putih bu guru, kebajikan yang ia tunjukkan, tetap hidup setiap kali seorang anak Indonesia membaca cerpen ini.
Pelajari lebih lanjut tentang Yokohama era Taishō di Wikipedia Indonesia.
Baca Setangkai Anggur karya Arishima Takeo di Pagera, cerpen anak lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.