Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Konteks Sepertinya Taneri Memang Mengunyah: Pedesaan Iwate Awal Showa dan Dongeng Akhir Miyazawa

Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari ditulis Miyazawa Kenji sekitar 1931, dua tahun sebelum wafat karena tuberkulosis. Memahami pedesaan Iwate yang miskin, tradisi mengunyah batang wisteria sebagai bahan tekstil, dan pergeseran tone dalam karya-karya akhir Miyazawa membantu menjelaskan

Pagera Editorial

Untuk membaca Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari dengan utuh, perlu mengerti tiga konteks: pedesaan Iwate di awal era Showa yang sangat miskin, tradisi tekstil rumah tangga dari batang wisteria yang menjelaskan tugas Taneri, dan posisi karya ini di akhir karier Miyazawa Kenji ketika ia sudah lama dalam pelukan tuberkulosis. Mari kita bahas satu per satu.

Iwate Awal 1930-an: Kelaparan Terselubung

Pada 1931, ketika Miyazawa menulis dongeng ini, Prefektur Iwate adalah salah satu wilayah termiskin di Jepang. Hasil panen padi di Tohoku sering gagal karena musim dingin yang panjang dan tanah yang asam. Kelaparan masih menjadi ancaman tahunan bagi banyak keluarga petani. Pemerintah pusat di Tokyo, yang sedang sibuk dengan ekspansi militer ke Manchuria dan persiapan menuju Perang Dunia Kedua, jarang memperhatikan kondisi petani Tohoku.

Dalam konteks ini, sebuah gubuk pedesaan tempat Taneri tinggal bersama ibunya bukanlah idealisasi romantis. Itu adalah kenyataan keras yang Miyazawa kenal dengan baik dari pengalamannya sebagai guru sekolah pertanian di Hanamaki. Banyak murid Miyazawa adalah anak-anak petani yang harus membantu pekerjaan keluarga sebelum sekolah. Mengunyah batang wisteria untuk melunakkannya sebelum ditenun adalah tugas tipikal anak-anak pedesaan, sebagaimana memintal benang atau memikul air.

Fuji Tsuru: Tekstil dari Batang Wisteria

Apa yang dilakukan ibu Taneri dengan batang wisteria? Bukan menanam bunga ungu yang indah itu untuk hiasan taman. Ia membuat pakaian.

Fuji-zuru atau batang tanaman merambat wisteria liar adalah salah satu serat tekstil tertua di Jepang. Sebelum kapas dan sutra menjadi terjangkau di pedesaan, banyak petani Tohoku memanen wisteria liar, merendam batangnya, membekukannya sepanjang musim dingin, lalu memukulnya sampai pecah menjadi serat halus. Anak-anak biasanya ditugaskan mengunyah serat itu untuk melunakkannya, karena ludah dan tekanan rahang adalah cara paling efisien untuk memecah lignin di batang tanaman.

Tekstil yang dihasilkan disebut fuji-fu atau kain wisteria, dan digunakan untuk pakaian kerja, alas tempat tidur, atau bahkan tali pancing. Pakaian dari fuji-fu kasar dan tidak nyaman dibandingkan kapas, tetapi sangat tahan lama dan, yang lebih penting, tidak memerlukan uang. Bahan bakunya tumbuh liar di hutan.

Ketika ibu Taneri mengancam tidak akan menenun satu pun kimono untuknya tahun ini karena ia gagal membawa batang wisteria pulang, itu bukan ancaman simbolik. Itu berarti Taneri benar-benar akan kekurangan pakaian musim dingin. Tetapi penutup cerita yang lembut menunjukkan bahwa ibu Taneri, seperti banyak ibu Tohoku, mengerti bahwa anak yang baru saja menemukan burung Toki dan bertemu kodok yang berbicara lewat angin tidak bisa dimarahi terlalu keras.

Tohoku Sebagai Lanskap Mitis

Flora dan fauna yang muncul dalam dongeng ini bukan ornamen acak. Setiap nama adalah peta Tohoku.

Kashiwa (Quercus dentata) adalah pohon oak Jepang yang khas Tohoku, dengan daun lebar yang tetap menggantung di pohon sepanjang musim dingin sampai daun baru tumbuh. Daun kashiwa lama yang merah kering dan bergemerisik di pohon adalah simbol musim semi yang akan datang.

Konara (Quercus serrata) adalah jenis oak lain yang bijinya dapat dimakan setelah ditumbuk dan direbus untuk membuang taninnya. Ibu Taneri yang sedang menumbuk biji konara saat anaknya kembali ke gubuk adalah gambaran tepat dari musim semi pedesaan Tohoku: persediaan dari musim gugur lalu mulai habis, dan keluarga mengandalkan acorn rebus sampai panen baru.

Toki (Nipponia nippon), Crested Ibis Jepang, adalah burung yang sudah hampir punah pada 1931. Burung putih besar dengan bagian dalam sayap merah muda ini adalah simbol kemurnian alam Jepang. Pada masa Miyazawa, masih ada beberapa kawanan Toki liar di Iwate. Hari ini, Toki di Jepang hanya tersisa sebagai populasi hasil reintroduksi dari Tiongkok. Ketika Taneri mengejar burung Toki melintasi padang rumput, ia mengejar simbol Jepang yang sedang menghilang.

Inugami dan Kodok: Lapisan Mistis Tohoku

Wujud mirip inugami yang muncul di depan hutan gelap adalah bagian dari kepercayaan rakyat Tohoku tentang roh-roh hutan yang tidak boleh dipanggil sembarangan. Inugami secara harfiah berarti "dewa anjing," tetapi dalam tradisi Iwate dan Aomori, kata ini menunjuk pada roh berwajah hewan yang menjaga batas-batas wilayah. Anak-anak diberitahu untuk tidak masuk ke hutan tertentu, dan ketika mereka melanggar, mereka mungkin akan melihat sesuatu yang membuat mereka lari pulang sekuat tenaga.

Kodok yang "berpikir lewat bisikan angin" juga bukan sekadar fantasi anak. Tradisi Shinto pedesaan percaya bahwa hewan tertentu, terutama yang hidup di tempat-tempat liminal seperti rawa, memiliki kesadaran yang berbeda dari manusia, dan kadang-kadang pikiran mereka bisa terdengar oleh anak-anak yang masih peka.

Miyazawa, yang menggabungkan Buddhisme Nichiren dengan kepercayaan rakyat Tohoku, tidak melihat kontradiksi antara kosmologi Buddhis universal dan animisme pedesaan setempat. Bagi dia, kedua-duanya benar.

Karya Akhir: Pergeseran dari Ironi ke Resignasi Lembut

Dongeng-dongeng awal Miyazawa, seperti Restoran dengan Banyak Permintaan (1924) atau Otsuberu dan Gajah (1926), penuh dengan ironi sosial dan kritik moral yang tajam. Pemilik restoran yang sebenarnya kucing yang berniat memakan tamunya. Tuan tanah yang mengeksploitasi gajah sampai gajah lain datang menyerbu. Karya-karya ini ditulis ketika Miyazawa muda masih marah pada ketidakadilan sosial dan masih percaya bahwa sastra bisa mengubah masyarakat.

Tetapi pada 1931, ketika ia menulis Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari, Miyazawa sudah berbeda. Ia telah didiagnosis dengan tuberkulosis pada 1928. Ia tahu hidupnya tidak akan panjang. Dalam karya-karya akhirnya, tone berubah: ironi memudar, kritik sosial menyepi, dan yang muncul adalah penerimaan yang lembut atas kefanaan manusia di tengah kekekalan alam.

Penutup ceritanya, ketika ibu memandang wajah anaknya yang lelah dan hanya berkata "Kalau begitu sudah baik" sebelum melanjutkan menumbuk biji konara, adalah esensi Miyazawa akhir. Tidak ada moral yang harus dipelajari. Tidak ada keadilan yang harus ditegakkan. Hanya seorang ibu, seorang anak, dan satu hari di pedesaan Iwate yang, meski tidak menghasilkan apa-apa, tetap sah adanya.

Bagi Pembaca Indonesia

Pembaca Indonesia mungkin akan mengenali sesuatu yang familiar dalam dongeng ini: kehidupan ibu-anak di pedesaan yang miskin tetapi penuh kasih sayang, hubungan intim dengan alam dan binatang lokal, kepercayaan akan roh-roh hutan, dan rasa pasrah yang tenang ketika hari tidak berjalan seperti yang direncanakan. Ihatovo Miyazawa dan kampung-kampung Indonesia berbagi banyak hal lebih dari yang mungkin terbayang.

Bagi yang ingin mendalami sastra Jepang awal abad ke-20, tersedia Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji dan Dia karya Akutagawa Ryunosuke di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Miyazawa Kenji di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari karya Miyazawa Kenji di Pagera, dongeng lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera