Vol. 2May 2026

Kutipan · 2026-05-10 · Waktu baca ~ 2 mnt

Kutipan Terbaik dari "Hidung (鼻)" — Akutagawa Ryunosuke

Kutipan terbaik dari Hidung (鼻) karya Akutagawa Ryunosuke. Pilihan 6 kutipan dengan analisis makna, untuk catatan belajar dan media sosial.

Pagera Editorial

Kutipan Terbaik dari "Hidung"

Pilihan kutipan langsung dari teks, cocok untuk catatan belajar, diskusi sastra, dan kartu media sosial.


1. Penggambaran Hidung Sang Pendeta

"Hidung pendeta itu panjangnya satu shaku enam sun — dari bibir atas hingga di bawah dagu. Tidak pendek, tidak panjang biasa — melainkan menggantung seperti sosis besar yang tumbuh di tengah wajahnya."

Makna: Akutagawa memulai dengan deskripsi fisik yang hampir komis — tetapi segera kita menyadari bahwa "hidung" ini bukan sekadar cacat fisik, melainkan simbol dari semua yang membuat seseorang merasa berbeda dan memalukan.


2. Sang Pendeta Berpura-Pura Tidak Peduli

"Sang pendeta tidak ingin siapa pun mengira bahwa ia memikirkan hidungnya. Di dalam hatinya, ia terus meyakinkan diri bahwa hidungnya bukanlah masalah. Namun sesungguhnya, tidak ada hal lain yang ia pikirkan."

Makna: Salah satu pengamatan psikologis paling tajam Akutagawa — penggambaran disonansi antara apa yang kita akui dan apa yang sesungguhnya kita rasakan.


3. Paradoks Simpati Manusia

"Ada dua hal yang saling bertentangan dalam jiwa manusia: simpati terhadap orang yang menderita, dan rasa tidak nyaman — bahkan kekecewaan — ketika orang itu akhirnya terbebas dari penderitaannya."

Makna: Ini adalah kalimat terpenting dalam cerita, dan mungkin salah satu observasi paling jujur Akutagawa tentang sifat manusia. Manusia ingin orang lain menderita secukupnya — tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit.


4. Kegembiraan Saat Hidung Mengecil

"Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang pendeta merasa seperti orang lain pada umumnya. Ia berjalan dengan langkah ringan. Ia menganggap hidungnya tidak lagi ada."

Makna: Ironi yang menyakitkan — kebahagiaan yang ia rasakan saat hidungnya normal adalah kebahagiaan sementara, segera dirusak oleh kenyataan bahwa orang-orang justru kini lebih bebas menertawakannya.


5. Orang-Orang Masih Tertawa

"Orang-orang sekarang tertawa lebih bebas dari sebelumnya. Hidung yang panjang mengundang simpati yang bercampur rasa segan. Hidung yang normal — setelah sekian lama panjang — mengundang sesuatu yang lebih kejam: candaan yang bebas."

Makna: Akutagawa menunjukkan bahwa perubahan tidak membawa penerimaan — justru sebaliknya. Masyarakat tidak berubah; yang berubah hanya alasan untuk tidak menerima.


6. Kelegaan Saat Hidung Kembali Panjang

"Hidungnya telah kembali seperti semula — satu shaku enam sun. Dan pada saat itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sang pendeta merasakan sesuatu yang mirip dengan ketenangan."

Makna: Ending yang mengejutkan dan paradoksal. Kembali ke kondisi "cacat" justru membawa kedamaian — mungkin karena sang pendeta akhirnya berhenti berjuang melawan dirinya sendiri.


Untuk membaca teks lengkapnya, kunjungi: Hidung (鼻) di Pagera


Pagera Editorial Team | Diterbitkan: 2026-05-10 | Pagera adalah perpustakaan sastra dunia berlisensi public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera