Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

10 Kutipan Si Bisu Samryong: Kalimat Paling Berkesan Cerpen Na Do-hyang 1925

Sepuluh kutipan paling berkesan dari Si Bisu Samryong (1925) karya Na Do-hyang. Dari pembukaan kenangan masa kecil hingga senyum damai di sudut bibir si bisu, setiap kalimat memuat keseluruhan tragedi pelayan bisu yang mencintai nyonya muda yang dianiaya.

Pagera Editorial

Cerpen Si Bisu Samryong Na Do-hyang (1925) memuat banyak kalimat yang telah menjadi bagian dari kanon sastra Korea modern. Berikut sepuluh kutipan yang paling menggambarkan kekuatan emosional cerpen ini, dengan konteks dan ulasan singkat untuk masing-masing.

1. Pembukaan: Kenangan dari Lima Belas Tahun yang Lalu

"Saat aku belum genap sepuluh tahun—peristiwa itu terjadi sekitar empat belas atau lima belas tahun yang lalu dari sekarang."

Pembukaan ini menempatkan narator sebagai anak kampung yang menyaksikan peristiwa tragis dari jarak waktu lima belas tahun. Ini adalah trope khas jeon tradisional Joseon, sekaligus pembuka realisme romantik yang langsung menarik pembaca ke dalam suasana mistis kenangan.

2. Yeonhwabong dan Cheongyeopjeong

"Tempat itu sekarang disebut Cheongyeopjeong, tetapi pada masa itu orang menyebutnya Yeonhwabong, Bukit Teratai."

Hanya dengan satu kalimat, Na Do-hyang menyajikan modernitas kolonial yang mengganti nama-nama tradisional Korea dengan nama Jepang. "Cheongyeopjeong" (靑葉町) adalah pola penamaan administratif Jepang yang mengakhiri identitas "Yeonhwabong" yang puitis. Ini adalah politik bahasa yang dikemas dalam topografi.

3. Panggilan "Si Bisu, Si Bisu"

"Warga kampung tak pernah memanggilnya Samryong; mereka selalu memanggil, 'Si Bisu, Si Bisu,' atau kalau tidak, 'Aengmo, Aengmo.' Namun Samryong tak mendengar pun panggilan itu."

Inilah disonansi tragis yang membuka tema cerpen. Tokoh utama tidak pernah dipanggil dengan namanya sendiri sampai narator mengungkapkan nama itu kepada pembaca. Yang lebih menyakitkan: Samryong tak pernah mendengar pun panggilan-panggilan itu. Ia hidup dalam keheningan ganda—keheningan suara dan keheningan nama.

4. "Aku ini Si Bisu"

"Di dalam hati ia berkata, 'Aku ini si bisu.' Setiap kali ia berpikir begitu, dadanya sesak oleh rasa pahit; sekaligus ia tahu bahwa ia tak memiliki kebebasan dan hak yang sama dengan orang-orang yang dapat berbicara."

Kesadaran kelas Samryong terhadap dirinya sendiri. Ia tahu bahwa kebisuannya bukan hanya kondisi medis—ia adalah kondisi sosial yang menentukan posisinya dalam tatanan hierarki kolonial. Ini adalah salah satu pernyataan paling lugas tentang determinisme kelas dalam sastra Korea modern.

5. Bunga Pengantin Perempuan dan Mempelai Lelaki

"'Dibanding pengantin perempuan, dia itu bagai burung gagak di sebelah burung bangau.'"

Pendapat perempuan-perempuan kampung tentang ketimpangan estetik dan moral antara mempelai dan pengantin. Bangau di sebelah gagak: keanggunan di sebelah kekasaran. Tetapi dengan ironi tragis, di rumah ini, gagak yang berkuasa, sedangkan bangau yang dianiaya.

6. Bidadari di Antara Bulan dan Bintang

"Saat ia memikirkan Sang Nyonya Muda, ia merasa Nyonya Muda lebih indah daripada bulan di langit, lebih bersih daripada bintang-bintang. ... Seolah bulan dan bintang itu turun ke bumi dan menjadi Sang Nyonya Muda."

Sublimasi kosmis cinta Samryong terhadap Sang Nyonya Muda. Karena ia tak dapat mengucapkan cintanya, cinta itu mengalir ke arah langit. Inilah jejak romantisme Aliran Baekjo yang masih hidup di dalam neo-naturalisme Na Do-hyang—dan inilah yang membedakannya dari naturalisme Kim Dong-in yang lebih kejam.

7. "Demi Nyonya Muda, Tak Akan Sayang Nyawanya"

"Demi Nyonya Muda ia tak akan sayang pun nyawanya sendiri—rasa berang yang membara meluap. Itu seperti air liur yang menetes dari mulut saat melihat aprikot—perasaan yang dirasakannya secara naluriah."

Pernyataan tekad pengorbanan Samryong, dengan metafora yang sangat khas Korea: air liur yang menetes saat melihat aprikot. Pengorbanan diri yang dialami sebagai refleks tubuh, bukan sebagai keputusan rasional. Inilah inti naturalisme tubuh Na Do-hyang.

8. Pengusiran: "Pergi! Kau Tak Boleh Tinggal Lagi!"

"'Pergi! Sekarang kau tak boleh tinggal di rumah kami lagi!' begitu ia berkata. Mendengar suara ini, napas si bisu tertahan. Baginya, tak ada rumah lain selain rumah ini. Selain rumah ini, tak ada tempat untuk hidup."

Pengusiran Samryong dari rumah Tuan O di akhir Bab 6 adalah titik balik tragedi. Bagi seorang pelayan turun-temurun yang tak punya rumah lain selain rumah tuannya, pengusiran berarti kematian sosial. Yang tersisa hanyalah satu pilihan: memusnahkan segalanya dan ikut musnah sendiri.

9. Kobaran Api yang Disiapkan

"Kobaran api yang entah dari mana mengepung rumah Tuan O, tempat si bisu pernah hidup. Api itu seakan-akan sudah disiapkan jauh sebelumnya: di sekeliling tepian rumah, jerami yang sengaja ditebarkan berkobar serempak."

Na Do-hyang tidak pernah secara eksplisit menyebut Samryong sebagai pelaku pembakaran. Tetapi rangkaian fakta—jerami yang sengaja ditebarkan, api yang menyala serempak dari segala arah—membuat pembaca menarik kesimpulan yang sama. Inilah teknik narasi yang menjaga dignitas tokoh: Samryong tidak "diceritakan" sebagai pelaku, ia hanya menjelma sebagai penyelamat di tengah api.

10. Senyum Damai di Sudut Bibir

"Rumah pun terbakar habis. Si bisu berbaring di pangkuan Sang Nyonya Muda. Apakah amarah dan duka batinnya ikut padam bersama api itu? Hanya senyum damai nan bahagia yang tipis menyingkap di sudut bibirnya."

Kalimat penutup yang menjadi salah satu paling terkenal dalam sastra Korea modern. Setelah tujuh bab dianiaya, dipanggil "Si Bisu, Si Bisu", dan diusir—Samryong akhirnya "berbicara" dengan caranya sendiri: dengan satu senyum yang lebih fasih daripada seribu kata. Senyum ini tidak hanya menebus kematiannya; ia juga menebus seluruh ketidakadilan kelas yang ia tanggung. Inilah ironi puitis yang menjadikan Na Do-hyang sebagai penulis yang khas: kebebasan datang melalui pemusnahan, dan kata-kata paling fasih dari yang tak bisa berbicara.

Mengapa Kutipan-Kutipan Ini Bertahan Hampir Seabad?

Cerpen yang ditulis sembilan puluh sembilan tahun lalu masih beresonansi karena setiap kalimat di atas memuat keseluruhan tragedi: kelas sosial, kemiskinan kolonial, cinta yang tak bisa diucapkan, pengorbanan yang menebus, dan kebebasan yang datang hanya pada akhir hayat. Inilah kekuatan klasik—sebuah kalimat yang sederhana di permukaan tetapi penuh muatan di kedalaman.

Pelajari lebih lanjut tentang Na Do-hyang di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli karya-karyanya di Wikisource Korea.

Baca Si Bisu Samryong karya Na Do-hyang di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera