Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 5 mnt

10 Kutipan Terpenting Dongyang Pyeonghwa Ron An Jung-geun (1910)

Sepuluh kutipan kunci dari risalah Dongyang Pyeonghwa Ron An Jung-geun (1910): "Naga dan harimau, mengapa bertindak seperti ular dan kucing?", "Perang suci di Harbin", dan lainnya.

Pagera Editorial

10 Kutipan Terpenting dari Dongyang Pyeonghwa Ron (1910)

Berikut 10 kutipan paling penting dari risalah An Jung-geun, dengan konteks dan analisis. Setiap kutipan adalah pintu masuk ke pemikirannya.

1. Pembuka Filosofis

"Dengan demikian, bersatu maka sukses, terpecah maka kalah — ini adalah prinsip nyata yang tak berubah sepanjang masa." (c1-p001)

Konteks: Kalimat pembuka. Analisis: An Jung-geun memulai bukan dengan keluhan tentang Jepang, melainkan dengan prinsip universal sejarah. Ini menunjukkan ia menulis sebagai filsuf, bukan agitator.

2. Diagnosis Penyalahgunaan Teknologi

"Penelitian mesin praktis... lebih condong ke penemuan baru seperti senapan listrik (mesin gun), kapal udara (balon militer), kapal tenggelam (kapal selam) — semuanya mesin yang melukai manusia dan merusak benda." (c1-p001)

Konteks: Diagnosis era industri. Analisis: An Jung-geun pada 1910 sudah memprediksi abad XX sebagai abad penyalahgunaan teknologi. Ini adalah diagnosis prophetik — Perang Dunia I akan dimulai 4 tahun kemudian, dan kekejaman teknologinya akan persis seperti yang dideskripsikan An Jung-geun.

3. Kontras Tradisi Asia Timur dan Eropa Modern

"Sejak dahulu kala, bangsa-bangsa di Timur hanya menekuni sastra dan menjaga negerinya sendiri, sama sekali tidak menyerbu dan merampas walau sejengkal tanah Eropa." (c1-p004)

Konteks: Argumen historis. Analisis: An Jung-geun tidak idealisasi total Asia — ia mengakui bahwa Asia "hanya menekuni sastra" (yang juga sebuah keterbatasan). Tetapi ia menegaskan: Asia tidak imperialis terhadap Eropa. Karena itu, agresi Eropa ke Asia adalah ketidakadilan satu arah.

4. Diagnosis Rusia

"Apalagi Rusia paling buruk. Kekerasan dan kerusakannya menyebar di Eropa Barat dan Asia Timur sehingga dewa dan manusia bersama-sama marah." (c1-p005)

Konteks: Identifikasi musuh utama. Analisis: Pada 1910, Rusia bukan Soviet — ini adalah Kekaisaran Rusia Tsar yang baru saja kalah dalam Perang Rusia-Jepang 1905. An Jung-geun menganggap Rusia, bukan Jepang, sebagai ancaman terbesar bagi Asia Timur — sebelum Jepang berkhianat.

5. Pengkhianatan Janji 1904

"Dalam Deklarasi Perang Kaisar Jepang... ada kalimat: 'Mempertahankan perdamaian Asia Timur dan memperkokoh kemerdekaan Korea Raya' — kebenaran besar ini lebih terang dari sinar matahari." (c1-p009)

Konteks: Bukti dokumenter pengkhianatan. Analisis: Ini adalah kutipan dari dokumen Jepang sendiri. An Jung-geun tidak mengarang tuduhan — ia menggunakan kata-kata Kaisar Meiji sendiri sebagai bukti pengkhianatan. Strategi retoris yang sangat kuat.

6. Kalimat Kunci: "Sayang Sekali!"

"Sayang sekali! Setelah memperoleh kemenangan di luar dugaan, sejak itu menekan Korea sesama bangsa yang paling dekat, paling akrab, lembut dan lemah, mengikat dengan perjanjian, dan menyandera daerah selatan Changchun Manchuria sebagai sewaan — menduduki Korea." (c1-p011)

Konteks: Diagnosis pengkhianatan. Analisis: An Jung-geun tidak menggunakan kata kebencian ("anjing") atau kata politis ("imperialis"). Ia menggunakan kata kesedihan filosofis — "sayang sekali" (슬프다). Jepang dengan kemenangan besar memilih jalan rendah sebagai pengkhianat sesama Asia.

7. Kalimat Ikonik: Naga dan Harimau

"Naga dan harimau dengan wibawa besar, mengapa bertindak seperti ular dan kucing?" (c1-p012)

Konteks: Teguran filosofis kepada Jepang. Analisis: Kalimat metaforis paling terkenal dalam risalah ini. Naga dan harimau adalah simbol kekuatan yang mulia di Asia Timur; ular dan kucing adalah simbol kepicikan dan tipu daya. An Jung-geun mendiagnosis: Jepang menyia-nyiakan potensi historisnya.

8. Visi Perlawanan Bangsa Asia

"Jika Jepang tidak memperbaiki strateginya dan hanya semakin keras menekan, lebih baik dihancurkan oleh bangsa lain daripada menerima penghinaan dari sesama bangsa — suara ini akan bergelora dari dalam dada (paru-paru) rakyat Korea dan Tiongkok, atas-bawah menjadi satu, dan akan menjadi pengawal bangsa kulit putih." (c1-p015)

Konteks: Ancaman geopolitik. Analisis: An Jung-geun memberi prediksi geopolitik yang akurat: jika Jepang tidak mengubah arahnya, Korea dan Tiongkok akan berbalik mendukung kekuatan Eropa melawan Jepang. Prediksi ini terbukti sebagian dalam Perang Dunia II — Korea dan Tiongkok bekerja sama dengan Sekutu (Amerika) melawan Jepang.

9. Deklarasi Tindakan: "Perang Suci di Harbin"

"Maka aku mulai perang suci untuk perdamaian Asia Timur di Harbin, dan menentukan tempat perundingan di Lushun (Lvshun), serta menyampaikan pendapatku tentang masalah perdamaian Asia Timur. Mohon dengan penuh perhatian dilihat oleh Tuan-tuan sekalian." (c1-p016)

Konteks: Kalimat penutup Pendahuluan. Analisis: An Jung-geun mengklaim status sebagai agen perdamaian, bukan terdakwa. Ia tidak meminta belas kasihan — ia meminta diskusi serius atas pemikirannya. "Mohon dilihat oleh Tuan-tuan sekalian" — sebuah kalimat penutup yang mengubah ruang sidang menjadi forum filsafat.

10. Cermin Sejarah: Diagnosis Tiongkok

"Sejak dulu orang Tiongkok menyebut diri sendiri sebagai Negara Tengah Besar (中華大國) dan menganggap negara lain sebagai orang barbar (夷狄), kesombongannya luar biasa. Apalagi para menteri kuat dan kerabat raja mempermainkan kekuasaan negara sesuka hati, rakyat dan menteri saling bermusuhan, atas dan bawah tidak harmonis — itulah sebabnya menerima penghinaan seperti ini." (c2-p004)

Konteks: Pelajaran dari kekalahan Tiongkok 1894-1895. Analisis: Ini adalah kritik berani dari seorang Korea kepada Tiongkok. An Jung-geun tidak romantisasi Tiongkok — ia mendiagnosis bahwa kesombongan + korupsi internal = kekalahan. Pelajaran ini juga berlaku untuk Korea, Jepang, dan setiap bangsa.

Catatan Akhir untuk Pembaca

Sepuluh kutipan ini menunjukkan bahwa Dongyang Pyeonghwa Ron bukan sekadar pembelaan diri seorang terdakwa. Ia adalah diagnosis sistemik atas Asia Timur 1910 dan manifesto perdamaian Asia Timur.

Yang paling mengejutkan adalah: ditulis di sel penjara, menghadapi eksekusi, tanpa akses ke perpustakaan, An Jung-geun mampu memformulasikan visi geopolitik yang menyaingi karya filsuf politik Eropa kontemporer (Lenin, Sun Yat-sen, Tagore).

Bahwa risalah ini belum selesai — hanya dua bab dari lima — justru membuatnya lebih kuat sebagai proyek terbuka. Tiga bab hilang itu, dalam arti tertentu, akan ditulis oleh setiap generasi Asia Timur yang serius memikirkan perdamaian regional.

Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia

Sebelum mengakhiri, perlu dicatat:

  • An Jung-geun adalah Katolik, bukan Muslim. Pemikirannya tidak berdasarkan Al-Qur'an atau Hadis.
  • Tetapi konsep yang dibawa An Jung-geun — perdamaian regional, persaudaraan antar bangsa Asia, kritik atas penyalahgunaan teknologi — memiliki paralel dengan ajaran Islam tentang ummah (komunitas universal) dan rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk seluruh alam).
  • Tindakan kekerasan An Jung-geun terhadap Ito Hirobumi dilakukan dalam konteks kolonial ekstrem. Islam mengajarkan kehati-hatian ekstrem dalam mengambil nyawa manusia (QS Al-Maidah 5:32). Pembaca dianjurkan menilai tindakan ini sebagai produk sejarah, bukan sebagai model normatif.
  • Yang paling berharga dari risalah An Jung-geun adalah visi konkret perdamaian Asia Timur — visi yang masih relevan hari ini dan dapat dipertimbangkan oleh para pemikir Muslim dalam konteks ummah Asia.

Baca karya lengkap: Dongyang Pyeonghwa Ron — An Jung-geun (Pagera)

Kembali ke Pagera