Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt

6 Kutipan Terbaik Hasegawa-kun dan Aku — Kalimat-kalimat Natsume Soseki yang Tak Mudah Dilupakan

Dari deskripsi tubuh kotak Hasegawa sampai kalimat penutup yang tajam tentang kegagalan saling memahami, enam kutipan ini menggambarkan kekuatan prosa esai Soseki yang menolak sentimentalitas.

Pagera Editorial

Hasegawa-kun dan Aku (1909) adalah esai pendek, tetapi setiap kalimatnya membawa bobot yang lebih dari yang tampak. Enam kutipan berikut dipilih karena masing-masing menanggung satu lapisan penting dari keseluruhan esai pemakaman Natsume Soseki ini.

Kutipan 1: Pengakuan tentang Kemalasan Sosial

"Tapi aku malas mengurus itu, bahkan tak pernah pula bertanya kepada siapa pun letak persis rumah Hasegawa-kun, dan urusan itu pun kubiarkan tergeletak begitu saja." -- Natsume Soseki, Hasegawa-kun dan Aku, paragraf pertama

Kalimat ini menetapkan nada seluruh esai: Soseki menolak menjadikan dirinya sebagai sahabat yang ideal. Ia mengakui bahwa pertemuan pertama mereka tertunda bukan karena keadaan, melainkan karena kemalasannya sendiri. Ini adalah kejujuran yang menjadi modal moral seluruh esai.

Kutipan 2: Tubuh Kotak Hasegawa

"Tak kusangka ia setinggi itu. Tak kusangka kerangka tubuhnya begitu kekar. Tak kusangka lebar bahunya begitu kaku tanpa lekuk. Tak kusangka dagunya begitu kotak. Sosok Hasegawa-kun dari kepala sampai kaki berbentuk persegi. Kalau diingat sekarang, bahkan kepalanya pun terasa kotak — lucu rasanya." -- Natsume Soseki, Hasegawa-kun dan Aku, paragraf ketiga

Empat kalimat dengan struktur paralel "Tak kusangka...tak kusangka...tak kusangka...tak kusangka" — anafora yang sangat kuat dalam bahasa Jepang aslinya ("anna ni...to wa omowanakatta" diulang empat kali). Ini adalah salah satu deskripsi karakter paling berani dalam sastra esai Meiji: Soseki menolak idealisasi almarhum, dan justru memberi pembaca tubuh yang nyata, kotak, dan sedikit lucu.

Kutipan 3: Tekanan Udara Rendah

"Tidak bisa, selama tekanan udara rendah masih berlaku, aku menolak tamu." -- Hasegawa Tatsunosuke (Futabatei Shimei), dikutip oleh Soseki dalam Hasegawa-kun dan Aku, paragraf keempat

Kalimat yang dikutip Soseki dari mulut Hasegawa sendiri. Ini adalah satu-satunya kalimat dalam esai yang benar-benar berasal dari Hasegawa (selain kartu pos dari Rusia di akhir). Dengan satu kalimat, kita mendengar karakter Hasegawa: ia mengabstraksi sakit kepalanya menjadi fenomena meteorologis, menolak rasa kasihan diri, dan tetap mempertahankan martabatnya bahkan saat sedang sakit.

Kutipan 4: Suara Tenang di Pemandian Umum

"Cara bicara Hasegawa-kun sedikit pun tak berbeda dari saat pertama kali ia membahas partai-partai Rusia — bariton rendah, tenang, lapang — sehingga sama sekali tak sebanding dengan keadaan tubuh telanjang itu. Tanpa peduli sedikit pun pada keadaan itu, ia berbicara dengan tenang dan tulus mengenai keadaan kepalanya yang sedang tidak baik." -- Natsume Soseki, Hasegawa-kun dan Aku, paragraf kelima

Inilah klimaks karakter Hasegawa dalam esai ini. Apakah ia sedang berdiskusi politik di klub formal atau duduk telanjang di pemandian umum, suaranya, sikapnya, kedalamannya — semua sama. Hasegawa tidak pernah berubah sesuai keadaan. Ini adalah portretasi positif tertinggi yang Soseki berikan kepada siapa pun, dibungkus dengan adegan komik yang membuat pujian itu nyaris terselip.

Kutipan 5: Aula Kuil Buddha

"Ia masuk ke ruang tatami, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, lalu berkata, 'Entah mengapa, terasa seperti aula kuil Buddha.'" -- Natsume Soseki, Hasegawa-kun dan Aku, paragraf kesepuluh

Komentar Hasegawa yang tampaknya santai pada pertemuan terakhir mereka. Garan (aula kuil Buddha) adalah tempat untuk berdoa bagi yang sudah meninggal. Tanpa sengaja, Hasegawa menggambarkan rumah Soseki dengan kata yang menjadi konteks setelah kematiannya sendiri. Beberapa bulan kemudian, di rumah yang Hasegawa sebut "garan" itu, Soseki menulis esai ini.

Kutipan 6: Kalimat Penutup

"Hasegawa-kun akhirnya meninggal juga. Hasegawa-kun tak memahami diriku, dan aku tak memahami Hasegawa-kun, lalu ia mati. Sekalipun ia masih hidup, mungkin pergaulan kami akan tetap sebatas itu, atau mungkin saja kesempatan untuk menjadi lebih akrab akan datang — tak ada yang tahu." -- Natsume Soseki, Hasegawa-kun dan Aku, paragraf penutup

Inilah salah satu paragraf penutup terbaik dalam seluruh sastra esai Meiji. Tiga kalimat singkat. Tidak ada ratapan. Tidak ada pujian berlebihan. Hanya pengakuan dingin: "tak memahami diriku, tak memahami Hasegawa-kun, lalu ia mati." Justru karena kejujurannya, kalimat ini menjadi salah satu cara penghormatan terdalam yang pernah ditulis dalam bahasa Jepang.

Pembaca Indonesia akan mengenali pengalaman ini: kawan yang nyaris, persahabatan yang seharusnya terjadi tetapi tidak pernah benar-benar terjadi, kesempatan yang tertunda sampai tak ada lagi waktu. Soseki menamai pengalaman itu, mengakui kerugiannya, dan tidak mencoba memperbaiki keadaan secara retrospektif. Inilah kejujuran orang dewasa yang sudah memahami bahwa kesempatan kedua tidak selalu datang.

Baca Teksnya Langsung

Kutipan-kutipan di atas diambil dari terjemahan lengkap yang tersedia gratis di Pagera. Untuk merasakan kekuatan penuh kalimat-kalimat Soseki dalam konteksnya, tidak ada pengganti membaca teks utuhnya. Baca Hasegawa-kun dan Aku lengkap di Pagera.

Tersedia juga karya Soseki lainnya: Senja di Kyoto — esai panjang Soseki dari 1907. Referensi eksternal: Wikipedia Futabatei Shimei dan Aozora Bunko (teks asli Jepang).

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera