Kutipan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Sepuluh Kutipan Indah dari Nyanyian Berdua karya Arthur Sherburne Hardy
Dari mimpi kematian yang dibuka oleh sentuhan kekasih, sampai permintaan terakhir untuk tidur bersama di hutan akhir musim gugur. Sepuluh kutipan paling indah dari antologi puisi Nyanyian Berdua karya Arthur Sherburne Hardy, dipilih untuk pembaca Indonesia yang menyukai puisi lirik abad ke-19.
Pagera Editorial
Antologi Nyanyian Berdua karya Arthur Sherburne Hardy berisi tiga puluh tujuh puisi pendek. Memilih hanya sepuluh kutipan dari sebuah buku puisi memang tidak adil — setiap pembaca akan punya pilihan berbeda. Tetapi ini adalah sepuluh baris yang menurut tim Pagera paling sering bergema setelah seseorang menutup buku itu. Mungkin Anda akan menemukan sepuluh yang berbeda; itulah kebebasan membaca puisi.
1. Epitaf Paling Sederhana
"Apa yang harus kutulis di sebelah namamu agar dilihat manusia?" Maka cepat jawab itu datang, "Aku dikasihi olehmu."
— dari puisi I. Tidak ada kalimat penutup hidup yang lebih ringkas dari ini. Hardy membuka antologi dengan satu mimpi tentang kematian, dan kekasih datang menyentuh dada penyair untuk bertanya satu hal: apa yang patut dikenang. Jawabannya bukan prestasi, bukan jabatan, bukan harta. Hanya kenyataan bahwa ia dicintai.
2. Tentang Mengetahui Karena Mencintai
Bahwa kita tahu karena kita cinta, Bukan cinta karena kita tahu.
— dari puisi VI. Inversi yang elegan. Manusia biasanya berkata: kita mencintai apa yang kita kenal dengan baik. Hardy membaliknya: kita mengenal apa yang kita cintai. Cinta datang dulu, pengetahuan menyusul.
3. Kerongkongan yang Bernyanyi
Berilah sukacita pada sayapmu, Dan pada hati nyanyiannya, jangan coba dengan pertanyaan kerongkongan berdebar yang bernyanyi.
— dari puisi IV. Hardy menasihati kekasihnya untuk tidak menganalisis kebahagiaan. Beri sayap pada sukacita. Beri nyanyian pada hati. Jangan menanyai burung yang sedang berkicau mengapa ia berkicau — ia mungkin akan berhenti.
4. Tentang Memberi dan Menerima
Tapi telapak tangan tersayangmu paling kaya saat kosong, meminta sedekah.
— dari puisi XIV. Inversi lagi: telapak tangan yang paling kaya bukan yang penuh barang, tetapi yang kosong dan terbuka untuk menerima. Inilah keajaiban hubungan yang sungguh-sungguh — meminta bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kepercayaan.
5. Penjaga Pintu Cinta
Penjaga malang, yang tak boleh menjaga pintu yang cinta sendiri telah membukanya!
— dari puisi VII. Cinta adalah penjaga yang tidak bisa benar-benar menjaga, karena yang harus dijaga sudah membuka pintunya sendiri. Hardy melihat melalui paradoks ini dengan kelembutan yang tidak meratap.
6. Akar yang Berseru
Akar-akar tak terhitung yang mencari, dan menjerit seperti hati yang menjerit, Cinta, "Beri kami makan, atau biarkan kami mati!"
— dari puisi VIII. Salah satu gambar paling kuat dalam antologi. Hardy meminta kekasih membungkuk dan melihat helai-helai rumput sebagai tangan yang memohon. Setiap akar adalah hati yang berseru meminta makan. Pilihan binernya tidak menyenangkan: beri makan, atau biarkan mati.
7. Mata Air yang Menemukan Lautnya
Lihat, tenang, bebas, rumah yang dirindukannya, laut luas tak terduga dalamnya!
— dari puisi IX. Hardy menggambarkan dua kekasih yang mengikuti aliran mata air dari lereng gunung sampai ke laut. Ketakutan mereka di tengah jalan (mata air hilang dalam kabut! benang kusut di dataran!) berakhir dengan satu pengakuan: ya, ia akhirnya menemukan rumahnya — laut yang luas dan tak terduga dalamnya.
8. Cintai Aku Karena Cintaku
Jangan cintai aku, Tersayang, demi senyum, sapaan lembut, atau muslihat… Tapi cintai aku karena cintaku, maka aku aman dari segala kejutan.
— dari puisi XIII. Hardy meminta untuk tidak dicintai karena hal-hal yang fana — senyum yang bisa lelah, sapaan yang bisa berubah, mata yang bisa ditutup maut. Tetapi dicintai karena cintanya sendiri, yang tidak ada habisnya. Permintaan yang ambisius tetapi sangat manusiawi.
9. Pengampunan yang Lebih Lembut
Engkau? Tidak, ia telah memaafkan, ajarilah ia melupakan.
— dari puisi XII. Mungkin baris paling lembut dalam seluruh antologi. Penyair bermimpi tentang luka lama yang ia berikan kepada kekasihnya. Tuhan menawarkan pengampunan. Tetapi penyair menolak: kekasihnya sudah memaafkan; yang dibutuhkan sekarang adalah pertolongan untuk melupakan.
10. Permintaan Terakhir
Mari kita tidur, Mungkin Wajah Tuhan, bak wajahmu di atas bunga-bungamu, tersenyum melalui malam atas kita berdua.
— dari puisi XX, penutup siklus Songs of Two. Hutan kembali gundul. Tidak ada janji. Inilah akhir. Tetapi Hardy tidak menutup dengan ratapan; ia menutup dengan permintaan untuk tidur — dengan harapan bahwa wajah Tuhan akan tersenyum di atas mereka berdua, sebagaimana wajah kekasih tersenyum di atas bunga-bunganya.
Antologi ditutup di sini, dengan kepasrahan yang sangat tenang. Inilah kekuatan Hardy: ia tidak meminta lebih dari yang bisa diberikan hidup, tetapi ia mengucapkan terima kasih untuk semua yang sudah diberikan.
Bagi yang ingin menjelajahi puisi klasik lainnya di Pagera, lihat katalog sastra dunia Pagera.
Pelajari lebih lanjut tentang Arthur Sherburne Hardy di Wikipedia Inggris dan baca teks asli Songs of Two di Project Gutenberg.
Baca Nyanyian Berdua karya Arthur Sherburne Hardy di Pagera, tiga puluh tujuh puisi lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.