Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt

Kutipan Terbaik Pencarian Bunga Lili – Kalimat Paling Berkesan Hawthorne

Kutipan dan kalimat paling berkesan dari Pencarian Bunga Lili karya Hawthorne: dari gambaran Walter Gascoigne yang menakjubkan hingga kalimat penutup tentang kebahagiaan yang berdiri di atas kuburan.

Pagera Editorial

Salah satu kenikmatan membaca Nathaniel Hawthorne adalah kalimat-kalimatnya yang tampak sederhana namun menyimpan banyak lapisan. Pencarian Bunga Lili (The Lily's Quest) adalah cerpen pendek, namun di dalamnya tersimpan beberapa kalimat yang sulit dilupakan. Berikut ini adalah kutipan-kutipan terbaik dari cerpen ini, disertai konteks singkat mengapa setiap kalimat itu penting.

Kutipan 1: Gambaran Pertama Walter Gascoigne

Namun, berangkat bersamaan dengan pasangan muda ini, terdapat sosok suram yang berselimutkan jubah beludru hitam – seolah terbuat dari kain kafan – dengan topi kehitaman seperti yang dikenakan para pelayat, pinggiran lebarnya menaungi alis dahinya yang berat.

Kalimat ini adalah salah satu pengenalan tokoh paling efektif dalam sastra Amerika abad ke-19. Hawthorne tidak mengatakan bahwa Walter Gascoigne adalah lambang kematian atau kesedihan; ia mendeskripsikan pakaiannya saja. Namun pembaca langsung merasakan bobot yang datang bersama sosok itu. Frasa seolah terbuat dari kain kafan mungkin terasa berlebihan pada pembacaan pertama, namun ternyata tepat: Gascoigne memang adalah sosok yang selalu membawa aura kematian ke mana pun ia pergi.

Kutipan 2: Adam dan Lily Dibandingkan dengan Gascoigne

Keduanya tampak ditempa dari sinar surga, ia dari kegelapan bumi yang paling kelam; mereka melayang bagai Harapan dan Kegembiraan yang berjalan bergandengan menembus kehidupan, sementara sosoknya yang suram menguntit di belakang, menjadi lambang semua pengaruh menyedihkan yang dapat dilimpahkan kehidupan kepada mereka.

Ini adalah kalimat paling alegoris dalam cerpen ini, dan Hawthorne sengaja menempatkannya lebih awal. Ia tidak menunggu akhir cerita untuk mengungkapkan bahwa Adam dan Lily adalah Harapan dan Kegembiraan; ia mengatakannya di sini, sejak awal. Yang membuat kalimat ini kuat bukan hanya paralelnya yang indah antara sinar surga dan kegelapan bumi, melainkan kata menguntit: Gascoigne tidak berjalan bersama mereka; ia menguntit. Ini adalah cara yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kesedihan mengikuti kebahagiaan: tidak terundang, tidak terlihat, namun selalu ada.

Kutipan 3: Gascoigne tentang Mimpi yang Sama

Dalam satu bentuk atau lainnya, setiap insan pernah memimpikan mimpi yang sama sepertimu.

Ketika Lily bertanya dengan heran apakah pernah ada orang lain yang merencanakan Kuil Kebahagiaan selain mereka, inilah jawaban Gascoigne. Kalimat yang pendek namun mengandung ironi yang dalam: apa yang terasa seperti impian yang unik dan pribadi bagi Lily sebenarnya adalah impian universal manusia. Setiap generasi membayangkan bahwa mereka bisa mencapai kebahagiaan murni yang belum pernah dicapai generasi sebelumnya. Dan setiap generasi menemukan kebenaran yang sama.

Kutipan 4: Setangkai Bunga Lili di Kaki Mereka

Saat pandangan mereka secara kebetulan jatuh ke tanah, mereka tersenyum, namun dengan rasa heran, melihat bahwa setangkai bunga lili pucat sedang tumbuh di kaki mereka.

Hawthorne jarang menggunakan kebetulan tanpa makna. Bunga lili yang tumbuh tepat di kaki mereka adalah tanda yang tidak bisa diabaikan: ini adalah tempat yang sudah menunggu Lily. Kata pucat menambah resonansi: bunga lili pucat adalah bunga kematian, bukan bunga suka cita. Namun pada saat ini Adam dan Lily belum memahami tanda itu; mereka hanya tersenyum dengan rasa heran. Hawthorne memberikan tanda ini kepada pembaca tanpa memberikannya kepada tokoh-tokohnya.

Kutipan 5: Lily Memudar Bersama Cahaya Senja

Sebab ia membayangkan bahwa, saat sinar matahari yang terbenam memudar dari sosok Lilias, ia perlahan menguap, dan sesuatu yang halus dalam dirinya terambil bersama setiap kilauan cahaya yang semakin redup.

Ini adalah salah satu kalimat paling indah dalam cerpen ini, dan juga yang paling tragis. Hawthorne menggambarkan kematian Lily bukan dengan kejadian dramatis, melainkan dengan bayangan yang sangat halus: Adam melihatnya memudar bersama cahaya matahari yang terbenam. Ini sesuai dengan karakter Lily yang telah digambarkan sejak awal: tubuhnya serapuh bunga, pipinya sepucat mahkotanya. Kematiannya pun terjadi seperti bunga yang layu, bukan seperti tragedi yang tiba-tiba.

Kutipan 6: Kalimat Penutup Gascoigne

Kau tidak menemukan fondasi yang lebih baik untuk kebahagiaanmu selain di atas sebuah kuburan!

Dari sudut pandang Gascoigne, kalimat ini adalah ejekan. Namun Hawthorne membolak-balikkan artinya dalam kalimat berikutnya: justru kata-kata itu yang menyadarkan Adam. Ini adalah teknik yang halus namun sangat efektif: tokoh yang tampak paling pesimis dan paling merusak akhirnya mengucapkan kebenaran yang paling membebaskan. Hawthorne percaya bahwa kebenaran sering datang dari sumber yang tidak terduga.

Kutipan 7: Jawaban Adam

Suka cita! Suka cita! Di atas kuburan inilah tempat Kuil kita; dan kini kebahagiaan kita adalah untuk Keabadian!

Kalimat terakhir yang diucapkan Adam adalah kalimat penutup yang paling sering dikutip dari cerpen ini. Setelah semua duka dan pencarian, Adam tidak menyerah; ia menemukan makna baru. Kebahagiaan yang berdiri di atas penerimaan akan kematian adalah kebahagiaan yang tidak bisa direnggut oleh kenyataan apapun. Itu adalah kebahagiaan untuk Keabadian.

Cerpen ini dapat dibandingkan dengan karya Hawthorne lainnya: dalam Aliran dari Pompa Kota, kalimat-kalimat Sang Pompa penuh dengan semangat dan ironi yang ringan; di sini, kalimat-kalimat Adam bergerak dari harapan ringan menuju kedalaman yang berat. Dua nada yang sangat berbeda dari penulis yang sama.

Untuk pembaca yang ingin mengeksplorasi lebih lanjut koleksi Mosses from an Old Manse, Pedagang Apel Tua menawarkan gaya Hawthorne yang paling lambat dan kontemplatif.

Baca Pencarian Bunga Lili karya Nathaniel Hawthorne secara gratis di Pagera — sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Referensi lanjutan: Nathaniel Hawthorne (Wikipedia) · Teks asli di Project Gutenberg #9217

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera